Kisah Setangkai Daun

Kamis, 22 November 2007


Adalah keajaiban daun yang mengendalikan aliran energi dalam kehidupan biosfer di muka bumi ini. Dia yang memberi kesempatan pada banyak jenis makhluk hidup untuk bernapas dan berbiak melanjutkan eksistensi spesiesnya. Kuncinya adalah kalori dalam rantai makanan.

Kalori yang mengalir dari satu mata rantai ke mata rantai yang lain itu awalnya berangkat dari setangkai daun –yang dalam arti luas merujuk pada organ, jaringan, atau individu sel tunggal yang berklorofil. Tak ada substansi lain yang bisa memetik energi surya secara langsung, dan kemudian membawanya ke sistem rantai makanan, kecuali daun.


Di dalam sel-sel daun ada mekanisme yang luar biasa pada saat sinar matahari datang menerpa. Dalam tempo hanya sepersekian juta detik, energi foton matahari tadi berpindah posisi, berubah bentuk, menjadi energi kimia dalam sejumlah molekul katalisator. Dengan sigap mereka membongkar molekul air, menghasilkan oksigen (O2) yang dilepas ke udara dan atom hidrogen bebas yang siap menjalani reaksi lanjutan.

Di saat bersamaan, stomata daun membuka tutup seperti pintu mal, untuk memastikan bahwa karbon dioksida (CO2) dari udara masuk dalam rangkaian reaksi dalam jumlah yang tepat. Dalam sel-sel daun itu pula, katalisator dan hidrogen bebas menggandengnya. Reaksi kimia berlangsung lagi, kali ini tanpa melibatkan energi matahari.

Dalam kecepatan yang juga luar biasa, reaksi kedua ini (disebut fotositesis gelap) menghasilkan senyawa organik tingkat pertama, C-H-O, dengan tiga atau empat karbon, yang menjadi bahan dasar organik yang lebih stabil: gula atau lemak.

Begitulah dedaunan menjalankan tugas sejak fajar menyingsing hingga matahari terbenam. Hasilnya, bahan organik berlimpah, bahkan melampaui kebutuhan rantai makanan itu sendiri. Proses dekomposisi oleh segala macam mikroba tak membuat seluruh limbah bahan organik itu habis. Nyatanya, terbentuklah lapisan organik dalam tanah, muncul lahan gambut, dan deposit organik lainnya. Semuanya masih menyimpan energi kimia yang asal-muasalnya dari cahaya matahari.

***

Planet bumi pun menjalani evolusinya sendiri sejak tercipta oleh ledakan besar, Big Bang, sebagai gumpalan gas, 6 milyar tahun lalu. Bumi mendingin dan memadat. Daun pertama, juga makhluk pertama di bumi ini, lahir dalam bentuk sel-sel tunggal berklorofil, 2,4 juta tahun lalu. Ia berevolusi seiring dengan evolusi geologi bumi itu sendiri. Bahkan, menurut para ilmuwan, 350 juta tahun silam muncul hutan raya generasi pertama di muka bumi ini.

Evolusi bumi berjalan, diwarnai pelbagai peristiwa geologis yang mendeformasi lapisan bumi. Lempeng-lempeng bergeser, naik dan turun. Di banyak tempat, hutan dan belukar terkubur batuan. Selama berjuta tahun di sana, dengan pemanasan sekitar 82 derajat celsius, bahan organik di kedalaman 2.500 meter itu berubah menjadi minyak. Yang terjerat lebih dalam, sampai 5.000 meter, dengan pemanasan sampai 154 derajat celsius, berubah bentuk menjadi gas. Dalam perkembangannya, minyak dan gas bumi itu cenderung mengalir dari tempat semula dan terjebak di dalam patahan-patahan lapisan bumi.

Toh, masih banyak material organik yang terserak begitu saja di dekat permukaan bumi. Mereka juga mengalami proses sendiri, melapuk, memfosil menjadi batu bara.
Bukti arkeologis menunjukkan bahwa para tentara pendudukan Romawi di Inggris telah membakar batu bara pada abad kedua dan ketiga Masehi. Penemuan mesin uap pada awal Revolusi Industri membuat pembakaran batu bara melonjak. Minyak bumi sendiri kali pertama diproduksi sebagai komoditas di Titusville, Pennsylvania, Amerika Serikat, 1959, oleh Edwin L. Drake. Dalam waktu singkat, dia menjadi kalori yang menggerakkan peradaban. Belakangan, gas bumi disedot pula sebagai sumber energi.

***

Hanya kurang dari 150 tahun, menurut Jeremy Leggett, dalam bukunya, Half Gone (2006), 920 milyar barel minyak bumi ludes dipompa dari perut bumi. Ia lebih percaya pada angka 780 milyar barel sebagai angka cadangan yang masih tersisa, ketimbang 1.147 milyar barel deposit seperti yang sering disebut para juragan minyak bumi. Namun, sekiranya angka 780 milyar barel itu benar, itu pun cukup untuk membuat atmosfer bumi bertambah buruk karena penumpukan residu CO2 dari proses pembakarannya. Belum lagi residu dari pembakaran batu bara dan gas.

Padahal, sejak akhir abad ke-19 silam ilmuwan Swedia, Svante Arrhenius, mewanti-wanti dunia industri supaya menahan diri dalam mengonsumsi bahan bakar fosil. Pemakaian yang berlebihan akan membuat CO2 menumpuk di udara dan menyebabkan pemanasan global. Toh, baru 20 tahun terakhir masyarakat dunia serius mencari jalan untuk mereduksi emisinya karbonnya. Bahkan baru 10 tahun belakangan langkah-langkah nyata mitigasi (penanggulangan) dilakukan, dengan atau tanpa kesertaan Amerika Serikat, negara yang paling rakus mengonsumsi bahan bakar fosil tapi bersikeras menolak mengurangi emisinya.

Pelbagai skema pun dijalankan. Ada kecenderungan, di negara-negara maju, pemakaian bahan bakar fosil kini semakin efisien. Tapi itu semua tidak cukup untuk menahan kenaikan konsentrasi CO2 dan gas-gas lain yang menimbulkan efek pemanasan global. Maka, salah satu agenda Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim Ke-13 di Bali, 3-14 Desember ini, adalah menelurkan protokol baru untuk memanfaatkan hutan-hutan tropis sebagai gudang penyimpanan CO2.

Dalam skema sebelumnya, hal-ihwal pengaturan pemanfaatan hutan tadi dianggap belum cukup memadai. Padahal, dengan keajaiban di dedaunannya, kawasan hutan, seperti halnya lautan, diyakini akan banyak memberi kontribusi dalam mitigasi melawan pemanasan global.

Hutan pun kembali menjadi sorotan, juga harapan. Bisakah hutan menyelamatkan dunia dari gejala perubahan iklim? Mampukah dedaunan hutan itu menyerap habis gas CO2 yang disemburkan jutaan cerobong pabrik, ratusan juta knalpot mobil dan sepeda motor, ribuan pembangkit listrik (yang memakai bahan bakar minyak, gas, atau batu bara)? Belum lagi ribuan sumber emisi karbon lainnya.

Di atas kertas, jelas hutan akan kewalahan menghadapi tugas berat itu. Menanti keajaiban baru bahwa hutan akan beradaptasi dengan lingkungan baru yang lebih sarat CO2, dengan menambah kemampuannya menyerap gas-gas tersebut, tak kunjung muncul. Penelitian Chantal D. Reid, ahli fisiologi tumbuhan di Duke University, Amerika Serikat, selama empat tahun atas 15 jenis tumbuhan menunjukkan bahwa penambahan kadar CO2 di udara mempengaruhi frekuensi stomata membuka dan menutup. Daun tak bisa serta-merta menelan CO2 lebih besar hanya karena gas tersebut tersedia lebih banyak.

Keajaiban daun barangkali hanya sebatas menyiapkan kalori bagi kehidupan bumi ini. Proses evolusi daun tidak sempat melewati tahap perubahan drastis atas komposisi atmosfer hanya dalam tempo 150 tahun. Emisi berlebihan bukanlah tanggung jawab dedaunan hutan atau plankton di lautan. Bagaimana pula kita bisa menyerahkan urusan mitigasi pada hutan dan lautan bila di antara kita sendiri ada yang tak sudi mereduksi pencemarannya? Mitigasi hendaknya berangkat dari kesediaan umat manusia sendiri untuk mengendalikan diri.

Putut Trihusodo
[Mukadimah, Gatra Edisi Khusus Beredar Kamis, 22 November 2007]


[+/-] Baca Selengkapnya...

Menyongsong Apocalypse Ketiga

Selasa, 23 Januari 2007

Oleh Putut Trihusodo
Cadangan minyak akan lebih cepat habis dari yang diperkirakan. Peradaban manusia modern telah menimbulkan ancaman serius. Suhu udara global naik 5 derajat celsius di akhir abad ini. Tapi akibatnya mengerikan.

HALF GONE: OIL, GAS, HOT AIR AND THE GLOBAL ENERGY CRISIS
Penulis: Jeremy Leggett
Penerbit: Portobello Books Ltd, London, 2006 (322 halaman)

Minyak itu segala-galanya. Sembilan puluh persen transportasi, baik di darat, udara, maupun air, bertumpu pada bahan bakar minyak. Sembilan puluh lima persen barang di toko melibatkan minyak dalam proses produksinya. Bahkan 95% bahan makanan memerlukan minyak untuk pengadaannya. Sebagai contoh, di Amerika, peternak sapi memerlukan enam barel minyak untuk memelihara sampai membawa dagingnya ke pasar.

Keruan saja, konsumsi minyak terus saja membubung. Saat ini, konsumsi minyak dunia mencapai 80 juta barel per hari atau 29 milyar barel per tahun. Pada 2025, menurut prediksi Pemerintah Amerika Serikat, konsumsi minyak akan melonjak ke 120 juta barel per hari atau 43 milyar barel per tahun. Versi lainnya, International Energy Agency, 121 juta barel per hari pada 2030. Konsumsi Amerika Serikat seperempatnya.

Upaya mengerem laju konsumsi itu selalu sulit. Kalau saja, misalnya, industri mobil Amerika sudi meningkatkan efisiensi mobil sport dan truk-truk mereka dengan 2,7 mil per galon, negeri itu bisa mengurangi seperempat konsumsinya. Bayangkan, komsumsi minyak di Amerika sehari mencapai 20 juta barel, dan 5 juta di antaranya diimpor dari Timur Tengah.

Boro-boro mau berhemat. Industri otomotif malah memanjakan konsumen dengan mobil-mobil keren tapi boros, terutama kategori sports utility vehicles (SUVs). Pada 1975, populasi SUVs ini hanya 2%. Kini melonjak jadi 24%. Tentu saja, efisiensi bahan bakar rata-rata mobil di sana turun dari 26,2 mil per galon pada 1987 menjadi 24,4 mil per galon pada 2001. Minyak akan habis lebih cepat.

Titik Puncak

Salah satu bagian menarik dalam buku Jeremy Leggett itu ialah bagaimana dia mengulas tentang titik puncak dalam kurva produksi minyak dunia (topping point) sepanjang sejarahnya. Menurut Leggett, sejarah minyak bumi, sejak ditemukan di Amerika Serikat pada 1859, tidak akan lebih panjang. Setelah titik puncak terlewati, eksploitasi minyak (juga gas) akan menyusut untuk kemudian punah sama sekali.

Di situlah Leggett membenturkan pendapat dua kubu. Yang satu optimistis, sumber-sumber minyak baru akan terus ditemukan hingga tersedia dalam waktu lebih panjang. Kubu ini diwakili kalangan industri minyak, bankir, sekuritas, lembaga-lembaga pemerintah, analis ekonomi, dan mereka yang berkepentingan dengan pihak-pihak tadi.

Mereka dianggap sebagai kelompok yang percaya bahwa cadangan potensial minyak dunia masih 2 trilyun barel. Kalangan ini percaya, produksi minyak dunia masih bisa digenjot naik melampaui angka 40 milyar barel per tahun pada 2020-an. Leggett menyebut mereka the late toppers.

Sebaliknya, kubu kedua yakin, cadangan minyak dunia akan segera habis... bis. Mereka disebut terdiri dari para "pembangkang", yakni para pakar independen, wartawan, dan pencinta lingkungan. Kelompok kedua yang disebut early toppers ini berpegang pada kenyataan bahwa deposit minyak dunia terbukti tinggal tersisa 780 milyar barel. Angka ini di bawah statistik bahwa minyak yang telah disedot dari perut bumi sejak 1859 mencapai 920 milyar barel.

Kelompok kedua, the early toppers, tak menafikan bahwa masih banyak minyak yang bersembunyi dalam perut bumi yang belum terendus oleh pihak industri. Tapi tidak sebesar yang diduga kalangan late toppers. Maka, mereka menduga, produksi minyak dan gas pada 2015 akan mencapai titik kurva tertinggi. Produksi akan segera menurun tajam pada tahun-tahun berikutnya.

Salah satu hal menarik yang diungkapkan Leggett ialah kenyataan betapa kelompok late toppers sering semau-maunya merilis angka deposit minyak. Ia mengutip sinyalemen keluhan Sir Phillip Watts, chairman raksasa minyak Shell. Menurut dia, seperti dikutip Leggett, estimasi Shell 20% lebih besar dari angka semestinya.

Jeremy Leggett juga menulis betapa janggalnya angka global oil's reserves versi BP (Beyond Petroleum), raksasa minyak yang lainnya. Dalam versi ini, deposit minyak yang telah terklarifikasi secara teknis adalah 1,147 trilyun barel. Leggett menyebut angka ini hanya dicomot dari Sekretariat OPEC, kantor industri minyak, dan lembaga pemerintah dari pelbagai negara. Celakanya, data itu menjadi acuan banyak orang, mulai mahasiswa hingga pelaku ekonomi, meski akurasinya lemah.

Data itu disebut meragukan, karena BP tak secara cepat memperbaruinya. Sementara itu, beberapa negara produsen minyak sudah meng-up-date-nya sesuai hasil observasi terbaru. Iran, misalnya, dalam data BP disebut memiliki potensi 90 milyar barel. Namun Samsan Bakhtiari dari National Iranian Oil Company belakangan mengakui bahwa estimasi 37 milyar barel adalah angka yang realistis.

Saksi Ahli

Tak hanya menggugat data BP, penulis juga mencoba menggugah para pembaca tentang krisis bahan bakar fosil itu. Leggett, pakar sejarah geologi yang meraih PhD dari Universitas Oxford, Inggris, melakukan pendekatan lain. Ia menghadirkan sosok-sosok ilmuwan geologi yang juga praktisi perminyakan, yang menjadi "saksi ahli" untuk mendukung tesisnya tentang sumber daya fosil yang disebut telah tandas separuh itu.

Di antaranya adalah Colin Cambell, geolog, peraih PhD dari Oxford pula, yang selama lebih dari 20 tahun menggeluti eksplorasi minyak melalui perusahaan tempat ia bekerja: Texaco, BP, kemudian Amoco. Cambell, yang kini menjadi konsultan dan memiliki database dari 18.000 unit ladang minyak, memberi kesaksian bahwa klaim penemuan ladang baru itu tidak sebesar yang diperkirakan. Bahkan 80% produksi minyak dunia saat ini berasal dari ladang minyak yang ditemukan sebelum 1973.

Selain Cambell, Leggett juga menghadirkan pakar lain yang punya reputasi tinggi, Chris Skrebowski dan Matthew Simmons. Mereka menolak hipotesis tentang teori cadangan minyak yang melonjak.

Efek Rumah Kaca

Satu setengah abad peradaban manusia mengonsumsi minyak bumi telah melahirkan kesadaran mengenai pemanasan global. Pembakaran minyak, gas, dan batu bara membuat atmosfer bumi makin dijejali gas CO2, komponen utama dalam fenomena gas rumah kaca. Karbon dioksida itulah yang membuat sebagian energi panas matahari yang menerpa bumi terjebak di atmosfer. Suhu udara pun merambat naik.

Sampai awal abad ke-21 ini, kenaikan temperatur belum terasa menyengat. Tapi suhu udara akan naik seiring lonjakan konsentrasi CO2-nya. Celakanya, selama beberapa dekade terakhir, kenaikan kadar gas asam arang itu mengikuti kurva eksponensial yang menjulang tinggi dalam waktu yang singkat.

Sebagai pakar sejarah geologi, Jeremy Leggett bertutur tentang 400.000 tahun sebelumnya, ketika kadar CO2 praktis stabil pada kisaran 200-300 ppm. Namun, akibat pemborosan bahan bakar fosil itu, kini konsentrasi CO2 melompat di angka 380 ppm. Ada kenaikan suhu rata-rata dunia, kecil saja, tak sampai 1 derajat celsius.

Namun tren bahaya ini terus berlanjut. Leggett mengingatkan soal ambang batas yang tipis, yakni 2 derajat celsius. Lebih dari itu, pelbagai bencana bisa dipastikan akan melanda bumi, dan itu tak akan lama lagi, yakni tahun 2050-an. Bahkan, di akhir abad ke-21 ini, suhu rata-rata dunia akan meningkat sampai 5 derajat celsius.

Jangan tanya soal akibat sosial atau ekonominya. Secara fisik, bumi akan menderita serius. Muka air laut naik, ketersediaan air bersih terguncang, paceklik bahan pangan, keragaman hayati merosot tajam, banjir, badai, dan seterusnya. Kehancuran tak akan bisa dielakkan.

Apocalypse

Kiamatkah? Apa pun namanya. Namun, sebagai ahli sejarah geologi, Jeremy Leggett mengisahkan di bagian pertama bukunya yang ditulis secara menarik, dalam, dengan bahasa tutur yang mengalir --dengan tajuk ''The Story of the Blue Pearl''-- bahwa bumi telah dua kali mengalami kehancuran dahsyat (apocalypse).

Yang pertama terjadi sekitar 350 juta tahun silam. Bumi tiba-tiba kerkabut tebal. Udara tak lagi bisa dipakai untuk bernapas. Laut kehilangan oksigen. Sekitar 90% spesies makhluk hidup yang ada di dunia musnah. Para ahli geologi belum dapat memastikan penyebabnya. Ada yang mengatakan akibat erupsi gunung-gunung berapi. Ada pula yang bilang karena bumi ditabrak batu meteorit raksasa. Yang kedua, 65 juta tahun silam, terjadi karena ada meteor menabrak bumi. Ekosistem dinosaurus punah.

Apocalypse ketiga? Leggett menyebutnya terjadi karena ulah manusia. The thinkers, demikian ia menyebutnya. Makhluk berakal itu ternyata tak bisa mengendalikan nafsunya. Alam dieksploitasi habis-habisan dan akhirnya kolaps. Akan ada zaman baru lagi? Leggett tak membahasnya.

Januari 2007


[+/-] Baca Selengkapnya...

Panggung Artis

Senin, 25 September 2006

Putut Trihusodo

Jangan mengecam artis. Tak usah pula mempersalahkan media. Keputusan pemilih memang selalu berada di bawah bayang-bayang hegemoni itu. Tindak komunikasi aktif adalah cara menggugah yang rasional karena sangat kalkulatif

Sekalian rakyat itu hanya audiens. Mereka mudah terpukau, tergoda, menyumpah, jengkel, menangis, dan tertawa hanya oleh sebuah realitas yang disaksikannya di televisi. Sekalian rakyat pun berubah jadi kerumunan massa yang mudah terombang-ambing dalam arus informasi yang mengalir deras. Realitas yang mereka pahami juga praktis sebatas realitas media --yang kehadirannya tak bisa lepas dari kepentingan dan keterbatasan. Apa pun, begitulah peradaban kita kini.

Seorang pemikir, ia biasa disebut filsuf, Noam Chomsky, mengingatkan kita betapa gawatnya kecenderungan ini. Sampai-sampai ia mengatakan bahwa politik itu hanya permainan media. Pria Yahudi-Amerika itu menyebut industri pers di negerinya telah tumbuh menjadi kekuasaan besar. Ia seperti punya otoritas untuk memutuskan mana baik, mana buruk, mana benar, dan mana salah.


Chomsky pun berteriak. Ia tidak rela melihat pers di negerinya berkolaborasi dengan pemerintahan Gedung Putih dan perusahaan-perusahaan raksasa, lalu bersekongkol mengamankan kepentingan bersama. Utamanya dalam kebijakan luar negeri. Tema-tema kolaborasi itu bisa tentang demokrasi, advokasi HAM, atau perang melawan narkoba. Prakteknya, semua dilakukan dengan standar ganda.

''Media pers Amerika telah merekayasa kesepakatan publik,'' ujarnya. Kesepakatan yang ada cuma fakta media, bukan realitas publik yang sebenarnya. Kesepakatan semu. Media pers telah menjadi antek Gedung Putih dan sekalian raksasa industri di negeri adikuasa tersebut.

Namun media Amerika pula yang membuat buku Chomsky, Hegemony or Survival: America's Quest for Global Dominance, menjadi best-seller dalam pekan-pekan ini di Amazon.com. Gara-garanya, Presiden Venezuela Hugo Chaves, ketika berpidato di depan Sidang Umum PBB, 20 September lalu, memuji-muji Noam Chomsky dan mengutip isi bukunya. Promosi gratis itu semakin menggema, karena Chaves lagi-lagi menunjukkan sikap penentangannya yang terbuka kepada si "iblis" George W. Bush. Aksi Chaves mendapat liputan luas.

Media pers sebagai institusi tentunya netral. Ia bisa menjadi sarana penyesatan publik, sebagaimana kritikan Chomsky, atau bisa menjadi fasilitas komunikasi yang berguna. Syaratnya adalah komunikasi yang jujur. Apa yang disampaikan media secara jernih dipahami publik. Di sini pers juga bisa menjadi agen demokrasi yang efektif. Ia bisa ikut memandu menuju pencapaian kesepakatan umum.

Kuncinya adalah tindak komunikasi aktif, kata Jurgen Habermas. Pemikir Jerman itu mengingatkan pentingnya media pers menjaga komunikasi dua arah secara seimbang. Komunikasi satu arah bisa membuat salah kaprah. Itulah yang biasa dilakukan koalisi birokrasi dan pemain bisnis di negara berkembang. Maka, kesepakatan yang muncul cenderung semu, distortif, dan cuma melahirkan tatanan rapuh. Maka, bagi Habermas, media perlu ikut memainkan tindak komunikasi aktif agar terjalin kesepahaman yang tanpa rekayasa.

Sebagai bagian dari dunia yang terbuka, pers Indonesia sedikit banyak terbawa oleh tren dunia. Ia juga mulai berkembang menjadi kekuatan besar yang sangat potensial untuk memegang hegemoni. Sejauh ini, sepertinya persekutuan tiga pilar --negara, dunia usaha, dan media pers, seperti gambaran Chomsky di Amerika-- tidak (belum) menjangkiti Indonesia. Pentas media bisa menjadi milik siapa saja.

Maka, dari pentas media, lahir selebriti-selebriti kondang. Mereka umumnya manusia pilihan --setidaknya berparas menawan dan berpostur menarik. Mereka pun menjadi pujaan publik dan, diakui atau tidak, punya pengaruh. Ibarat model busana, mereka juga menjadi acuan, ikut menentukan tren.

Dalam konteks ini, barangkali pendapat Roland Barthes, pemikir Prancis, jadi relevan. Fashion bisa menjadi hegemoni, dan tren busana pun seolah satu hal yang kudu diikuti. Begitu halnya pentas keartisan. Boleh jadi, ia dapat melahirkan hegemoni pula atas audiens. Fenomena ini lalu masuk ke jurusan politik ketika audiens menjelma jadi sekalian rakyat alias massa pemilih.

Di sini hegemoni keartisan akan menjadi modal politik. Bisa besar, bisa kecil. Jangan heran bila hegemoni keartisan kemudian muncul dalam pilkada atau pemilu legislatif. Bahkan ada fenomena terbalik, politikus berlaku bagai artis untuk menguatkan hegemoninya. Lepas dari soal adakah ini sistem rekrutmen yang baik atau tidak, itu barangkali kehendak zaman.

Jangan mengecam artis. Tak usah pula mempersalahkan media. Keputusan pemilih memang selalu berada di bawah bayang-bayang hegemoni itu. Namun, kembali pada pendapat Habermas bahwa tindak komunikasi aktif adalah cara menggugah (juga kampanye) yang rasional karena sangat kalkulatif.

Gatra, 25 September 2006


[+/-] Baca Selengkapnya...

Predator Pemangsa Hutan

Kamis, 31 Agustus 2006

Hukum rimba yang secara harfiah kita anggap kejam dan tak beradab sesungguhnya menyimpan kebijakan tersendiri. Naluri primitif seekor singa memang buas, tapi dia bukan tipe rakus. Singa memangsa pelanduk atau kijang hanya untuk bertahan hidup dan sampai sebatas kenyang.

Di tengah belantara hutan, yang ada hanya hukum rimba. Siapa yang perkasa, dialah sang pemenang. Tidak ada yang bisa melindungi si pelanduk lucu dari keberingasan harimau sang raja rimba. Nun di tengah padang savana di jantung Afrika sana, tak ada yang bisa menolong seekor kijang dari kawanan singa yang selalu lapar.


Hukum rimba, dalam versi cerita tutur tempo dulu, itu ialah tatanan yang tidak adil. Hewan-hewan bertaring yang ganas selalu saja memangsa satwa-satwa lembut yang imut. Maka, hukum rimba harus dijungkirbalikkan. Tidak ada alasan untuk berpihak pada kawanan singa, harimau, cheetah, serigala, hyena, buaya, atau ular sanca.

Cerita tutur itu barangkali dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa sayang pada satwa. Mungkin juga untuk merangsang kepekaan agar membela yang lemah. Tapi satu hal yang perlu digarisbawahi, dongeng itu tidak utuh memberi gambaran mengenai hutan sebagai ekosistem dengan hukum-hukumnya sendiri.

Singa, harimau, cheetah, hyena, dan karnivora lain adalah kelompok predator, kasta tertinggi dalam urutan rantai makanan. Mangsa mereka adalah kelompok herbivora. Di situlah terjadi aliran energi secara permanen. Rumput dan pepohonan menyintesis karbohidrat (gula) melalui reaksi fotosintesis. Metabolisme lebih jauh pun membuat tumbuhan memproduksi lemak, protein, dan vitamin.

Dengan mengonsumsi hasil tumbuhan (daun, pucuk ranting, atau buah), herbivora mendapatkan energi. Dengan memangsa herbivora, predator punya tenaga. Tapi ada aturan di kalangan mamalia pemangsa. Sesama predator dilarang saling memangsa. Kalaupun terjadi the war of predators, yang kadang menelan korban, itu umumnya hanya menyangkut perebutan teritori. Jadi, di hutan ada pula keteraturan.

Hukum rimba yang secara harfiah kita anggap kejam dan tak beradab sesungguhnya menyimpan kebijakan tersendiri. Naluri primitif seekor singa memang buas, tapi dia bukan tipe rakus. Singa memangsa pelanduk atau kijang hanya untuk bertahan hidup dan sampai sebatas kenyang. Ia bukan membunuh kijang untuk kesenangan, apalagi memperlakukannya sebagai kekayaan. Singa suka makan sampai kenyang, setelah itu tidur atau bermalas-malasan. Tak peduli esok pagi masih ada rezeki atau tidak. Ia bisa tidur 20 jam sehari.

Populasi hewan buas ini juga tak akan meledak. Hukum rimba terus mengontrolnya. Perlu perjuangan berat bagi singa atau harimau untuk menangkap setiap buruannya. Tak pernah tersedia makanan melimpah ruah. Di sana, di tengah rimba, ada harmoni untuk menjaga keseimbangan alam.

Hutan rimba tempat harimau bersarang juga memiliki tingkat keteraturan amat ristmis. Hutan perawan tidak tercipta begitu saja. Ia berkembang melalui tahap-tahap suksesi. Dari lumut berganti rerumputan, lalu semak, kemudian pohon-pohon tinggi hadir dan menjadi tegakan yang dominan. Tumbuhan rambat dan semak, yang telah terseleksi dari jenis yang tak memerlukan cahaya matahari langsung, ada di bagian bawah. Mahkota rimbanya terdiri dari tajuk pepohonan tinggi, yang memiliki bakat untuk tumbuh menjulang disangga batang pohon yang lurus dan kokoh.

Pepohonan, jamur, dan semak terus tumbuh dan berganti. Tapi, dalam rimba hutan perawan di daerah hujan tropis seperti di Indonesia, aturan main tetap terjaga. Dari waktu ke waktu formasi tak berubah. Bisa jadi selama ratusan atau ribuan tahun. Sesekali terjadi kebakaran bila muncul fenomena ekstrem. Maka, hutan pun menjadi penyangga ekosistem, termasuk di dalamnya tata air yang menentukan hidup-matinya danau dan sungai-sungai.

Sejarah ekologi hutan tropis basah kita menunjukkan bahwa kebakaran hutan adalah hal yang sangat jarang terjadi. Studi Goldammer dan Siebert (1999) terhadap radiocarbon dates atas sisa batu bara yang terbakar (akibat gejala alamiah) di Kalimantan Timur menunjukkan, rentang waktu antara dua kebakaran itu bisa lebih dari 2.000 tahun.

Kini hampir tiap tahun kita mendengar musibah kebakaran. Agaknya, jelas ini akibat ulah manusia --lepas dari siapa pun dia, peladang berpindah, pengusaha perkebunan, atau pelaku illegal logging yang ingin menghilangkan jejak. Dua kelompok terakhir ini yang bisa menimbulkan dampak dalam skala luas. Mereka tidak menghargai lagi kebajikan yang terkandung dalam hukum rimba.

Bagi mereka, mungkin hutan hanya dianggap sebagai tempat bersarang hewan buas, predator. Atau barangkali mereka juga tidak pernah kenyang menyantap kayu-kayu hutan. Mereka pun tak peduli hutan hancur dan berubah jadi padang ilalang. Padahal, ilalang itu simbol kebangkrutan hutan.

Barangkali, yang tega melakukan perusakan itu mamalia jenis baru, yang tergolong predator dari segala predator.

Putut Trihusodo
[Lensa, Gatra Nomor 42 Beredar Kamis, 31 Agustus 2006]

[+/-] Baca Selengkapnya...

Tonil di Layar Perak

Minggu, 06 Agustus 2006

Putut Trihusodo

Night Shyamalan telah meninggalkan hantu yang membesarkannya. Ia seperti asyik dengan dirinya. Kualitas film sebagai tontonan massal merosot.

LADY IN THE WATER
Sutradara: M. Night Shyamalan
Skenario: M. Night Shyamalan
Pemain: Paul Giamatti, Bryce Dallas Howard, Jeffrey Wright, Bob Balaban, Sarita Choudhury, Cindy Cheung, M. Night Shyamalan

Produksi: Warner Bros Pictures (2006)
Durasi: 110 menit

Kolam renang berkecipak riuh pada sebuah malam, dan sesosok perempuan muncul di permukaan air. Hanya sekejap lalu menghilang. Peristiwa itu dipergoki Cleveland Heep, pengawas di Apartemen Cove, tempat kejadian perkara. Heep, yang dimainkan secara menawan oleh aktor Paul Giamatti, pun nyebur ke swimming pool mengubernya.

Tapi sosok yang dicari seperti lenyap ditelan bumi. Heep terus menyelam sampai kepayahan, lalu cut... adegan pindah ke ruang apartemen Heep yang sumpek. Sang pengawas terbangun di tempat tidurnya dan kaget. Perempuan muda yang dicarinya sudah ada di sofanya. Perkenalan unik pun terjadi. ''Nama saya Story,'' kata gadis misterius itu. Dari sana, cerita Lady in the Water, film terbaru garapan sutradara berbakat M. Night Shyamalan, 36 tahun, bergulir.

Story mengaku dirinya peri. Meski tidak percaya, Heep tetap berlaku ramah. Ia mendesak Story pergi, bahkan menggendongnya keluar. Namun, sampai di halaman, ia melihat sosok seram. Ada hewan buas, mirip serigala, siap menyerang. Heep pun mundur sambil menggendong Story ke apartemennya. Peri itu dimainkan oleh Bryce Dallas Howard, artis yang menjadi pemeran utama dalam film Shyamalan sebelumnya, Village (2004).

Heep menceritakan keanehan itu ke para penyewa Cova, termasuk Vick, pemeran pembantu yang dimainkan Shyamalan sendiri. Seorang penghuni akhirnya bercerita bahwa kisah peri misterius itu pernah didengar dari penuturan ibunya. Sang peri itu terancam dibunuh oleh serigala jahat yang bersembunyi dalam kegelapan. Gara-gara ancaman maut itu, sang peri harus sembunyi dalam gua air bawah lantai kolam renang. Persoalannya, Story tidak punya waktu panjang lagi. Ia harus kembali ke langit, dijemput seekor garuda.

Kembalinya Story ke langit akan membawa kebaikan bagi dunia. Tapi, bagaimana ia bisa diselamatkan dari ancaman si iblis. Di situ para penghuni Cova bekerja sama dengan tulus untuk mengawalnya.

Meski film ini masuk genre mistery thriller, penonton jangan berharap memperoleh suguhan sensasi ketegangan. Shyamalan meninggalkan sosok hantu yang pernah membesarkannya lewat film Sixth Sense (1999). Ia juga tidak mau mengajak penonton pusing serius menelusuri misteri science fiction-nya seperti dalam film Signs (2002). Jejak suasana misteri yang magis dalam Village juga tak terlihat dalam Lady in the Water.

Shyamalan meraih sukses pertamanya melalui Sixth Sense dengan memboyong bintang tenar Bruce Willis, yang kemudian ia ajak lagi dalam Unbreakable (2000). Ketika menyutradarai film horor ini, ia masih 28 tahun. Hasilnya, Sixth Sense meraih enam nominasi Oscar, antara lain untuk penyutradaraan, orisinalitas cerita, serta gambar. Secara bisnis untung besar karena mendatangkan pemasukan hampir US$ 300 juta. Dalam Sixth Sense, Shyamalan secara berani menjungkirbalikkan garis batas antara dunia nyata dan dunia roh.

Rupanya, ia tak benar-benar tertarik pada dunia roh. Dalam dua film berikutnya, ia mengombinasikan fiksi ilmiah dan kepercayaan supernatural. Cukup cespleng. Ia membangun suspens tanpa harus mengeksploitasi darah dan kekerasan. Kekuatannya bertumpu pada kejutan-kejutan kecil di sepanjang film. Secara bisnis, keduanya juga bagus. Lantas ia kembali masuk nominee Oscar untuk musik pada Village.

Dalam Lady in the Water, Shyamalan bereksperimen lagi dengan mengangkat cerita yang ia biasa bawakan sebagai pengantar tidur putranya. Ia menggarap film ini tanpa pretensi membuatnya menjadi seram. Ia sedang seperti menyutradarai teater atau tonil. Blocking pemain diperhatikannya betul untuk menghasilkan komposisi gambar yang matang. Di sana-sini muncul adegan teatrikal. Kadang jenaka. Bahkan serigala iblisnya pun dibikinnya hampir lucu. Orisinalitasnya terjaga.

Namun eksperimennya itu membuat film terbarunya ini kurang asyik sebagai tontonan. Hasil pemutaran di minggu pertamanya pas-pasan saja. Shyamalan tampak terlalu asyik dengan dirinya. Jangan-jangan, pria kelahiran India yang tumbuh di Pennsylvania itu sedang bereksperimen menjadi aktor, peran yang justru bukan sisi kekuatannya.

Gatra, 21 Agustus 2006



[+/-] Baca Selengkapnya...

Gempa 3,6 Kali Per Hari

Rabu, 26 Juli 2006

Putut Trihusodo

Gempa bumi adalah salah satu tragedi paling seram di antara bencana alam lainnya. Daya rusaknya yang massif hampir selalu melahirkan kisah dramatis. Di era informasi kini, peristiwa gempa cepat tersebar ke khalayak lewat siaran radio, tayangan televisi, dan media cetak. Tragedi yang ditimbulkannya pun lalu menghantui publik melampaui magnitude getarannya sendiri.

Dari segi geofisika, gempa itu sendiri merupakan peristiwa alam biasa, tak beda dengan hujan badai, angin musim, dan ombak di laut. Toh, gempa menjadi momok yang lebih menakutkan karena kehadirannya yang selalu tak terduga. Kita tidak tahu persis kapan dan bagaimana ia akan datang. Apa pun, ia bagian dari kehidupan manusia, utamanya di bagian bumi yang sering menjadi lintasan gempa, termasuk di sebagian kepulauan Nusantara.


Maka, gempa bumi menjadi kosakata di banyak tempat. Dalam bahasa Arab klasik ada kata zilzal yang merujuk ke gempa. Orang Cina Selatan menyebutnya ti chan. Di Meksiko dan negara Amerika Tengah lainnya, orang menyebut temblor untuk gempa. Orang Jawa (juga Palembang) menjulukinya lindu. Dalam bahasa Sunda, ia disebut lini. Orang Toba melafalkannya sebagai suhul. Kata ''gempa'' ada di hampir semua bahasa di dunia.

Sebaran gempa bumi sendiri memang sangat luas, meski kejadiannya lebih banyak mengikuti busur ring of fire, mulai pantai selatan Indonesia, ke Filipina, Jepang, Alaska, Amerika Serikat, Meksiko, hingga pesisir barat Amerika Latin.

Dinamika lempeng bumi, patahan, sesar, palung, dan potensi vulkanik yang memicu gempa itu begitu aktif sehingga gempa, besar atau kecil, hampir terjadi tiap hari. Catatan US Geological Survey menunjukkan bahwa lindu ringan (light), yang berkekuatan 4-4,9 pada skala Richter, rata-rata terjadi 13.000 kali per tahun alias 35,6 kali sehari. Yang berkekuatan moderate, 5-5,9 skala Richter, rata-rata 1.319 kali per tahun atau 3,6 kali per hari!

Gempa kuat (strong), 6 hingga 6,9 skala Richter, juga kerap terjadi di dunia ini. Rata-ratanya 134 kali per tahun atau sekali tiap tiga hari. Yang lebih dahsyat, major earthquake, 7-7,9 skala Richter, rata-rata 17 kali per tahun. Sedangkan great earthquake yang ber-magnitude 8 skala Richter ke atas terjadi sekali dalam setahun.

Kenaikan satu pada skala magnitude gempa, menurut US Geological Survey, membawa konsekuensi besar, yakni mengakibatkan ground motion change yang 10 kali lebih kuat karena pelepasan energi (hasil lentingan lapisan bumi) yang 32 kali lebih besar.

Amerika Serikat sendiri adalah satu negara yang sering berurusan dengan gempa. Pada tahun 2000 hingga 20005, di sana terjadi lima kali gempa berkekuatan 7-7,9 skala Richter. Tiga kali di antaranya terjadi di kawasan Alaska. Pada periode yang sama, gempa kuat (6-6,9 skala Richter) terjadi 33 kali.

Dilihat dari sisi statistik, gempa bumi susul-menyusul yang menerpa Indonesia pun mestinya bisa dimaklumi. Seperti halnya Amerika Serikat, Filipina, Meksiko, dan Jepang, bumi Nusantara ini bertumpu di atas lempengan yang tidak stabil. Gempa adalah konsekuensi yang harus dihadapi.

Persoalannya, kita belum mampu keluar dari trauma gempa dan gelombang tsumami Aceh, 26 Desember 2004, dengan korban tewas dan hilang lebih dari 170.000 jiwa, yang disusul dengan gempa yang menimpa Pulau Nias pada Maret 2005, lalu gempa Yogyakarta pada Mei 2006 (lebih dari 5.000 jiwa melayang), gempa pantai selatan Jawa (lebih dari 600 jiwa tewas), kemudian guncangan bumi yang terasa di Gorontalo dan Singaraja.

Statistik dan teori-teori geofisika memang dapat menjelaskan fenomena alam tadi. Namun trauma beruntun bisa membuat orang sulit mencernanya. Jangan heran bila sebagian dari kita mencari ''penjelasan'' lain lewat pendekatan kosmologi, ngelmu, yang tak banyak mendapat perhatian dalam dunia sains. Di bawah "teori" kosmologi, bencana alam lalu dikait-kaitkan dengan masalah politik kekuasaan.

Seperti halnya gempa dan fenomena alam lainnya, kosmologi dan penganutnya juga sebuah fakta yang ada di lapangan. Kita membuang waktu bila harus berpretensi menghapusnya. Akan lebih baik bila wacana dialihkan pada aspek mitigasi bencana alam itu sendiri. Mitigasi yang baik mungkin bisa membantu mempercepat luka atas trauma. Setidaknya, itu akan membawa kita ke alam dan membangun harapan-harapan baru yang masuk akal.

GATRA, 24 Juli 2006


[+/-] Baca Selengkapnya...

Sepak Terjang Teroris di Mata Polisi

Senin, 24 Juli 2006

Putut Trihusodo

Aksi terorisme agama ternyata tak segencar teror separatisme atau komunisme. Tidak ada konspirasi dalam penanganan kasus bom Bali. Polri bekerja berdasarkan forensik.

RESENSI

TERORISME, MITOS DAN KONSPIRASI

Penulis: Budi Gunawan
Penerbit: Forum Media Utama, Juni 2006, 334 halaman

Sepanjang tahun 2000 hingga 2005, tak kurang dari 20 kali teror bom terjadi di wilayah hukum Indonesia. Korban jiwa secara langsung 287 orang dan ratusan lainnya mengalami cedera. Kehadiran terorisme di Indonesia benar-benar nyata dan ancamannya belum berakhir. Noor Din Mohd. Top masih gentayangan dan terus menyelinap lolos dari kejaran polisi.

Kelompok Noor Din Mohd. Top ini, dalam catatan versi Departemen Pertahanan Amerika Serikat, hanya satu dari 43 kawanan teroris yang beroperasi di Asia Tenggara dan Oseania. Ia juga hanya satu dari 967 kelompok teroris di dunia. Sarang teroris terbesar ternyata di Eropa Barat (267), kemudian Timur Tengah (192), Asia Selatan (131), dan Amerika Latin-Karibia (110).


Dalam bab pertama dan kedua, Budi Gunawan mencoba menggali sejarah ringkas batasan tindakan terorisme itu. Secara klasik, teror sering didefinisikan sebagai aksi keji untuk menimbulkan rasa takut luar biasa untuk memaksakan kehendak. Bila ini yang menjadi acuannya, maka teror negara termasuk di dalamnya. Maka, terorisnya, ya, mulai Stalin, Lenin, Hitler, hingga Mao. Mengutip tulisan Noam Chomsky, penulis menyatakan pula bahwa Amerika Serikat menjalankan terorisme atas negara-negara lemah.

Budi Gunawan mengakui, sejauh ini belum tersedia jawaban memuaskan atas pertanyaan apa dan siapa terorisme itu (halaman 26). Maka, dalam bab-bab lanjutannya, sebagai polisi, Budi memilih mengacu pada dokumen dan produk hukum positif yang ada, baik secara domestik maupun internasional --semisal Statuta Roma. Nah, dari sini kemudian terorisme itu menunjuk pada kelompok-kelompok yang melakukan kekerasan terhadap penduduk awam untuk memaksakan gagasan.

Mereka bangkit dari pelbagai kelompok ide. Ada teroris antiglobalisasi, teroris pro-komunis, teroris perjuangan lingkungan hidup, agama, ras, separatis, dan seterusnya. Dalam sejarahnya, kelompok teroris agama itu bukan yang dominan. Teroris agama (termasuk Al-Qaeda dan Tentara Republik Irlandia) "cuma" melakukan 1.925 kali kekerasan. Angka ini jauh di bawah aksi teroris separatis (3.966) dan teroris komunis (3.179).

Sebelum masuk membahas terorisme Indonesia lebih jauh, Budi --brigadir jenderal polisi yang produktif menulis dan kini menjabat sebagai Kepala Biro Pembinaan Karier pada Deputi Sumber Daya Manusia Mabes Polri-- sempat pula membahas urusan agama dan terorisme. Sorotannya lebih pada soal ideologi yang disebutnya sebagai sistem tata nilai yang "cacat sejak lahir" (congenital defect) dengan karakternya yang selalu membenarkan diri sendiri (halaman 60).

Toh, Budi perlu juga membahas dan membantah ideologi jihad seperti yang dianut Imam Samudra. Dalam satu bab, ia mengutip pelbagai sumber untuk menunjukkan adanya pemahaman lain bahwa jihad yang dilakukan Imam Samudra cs tidak sesuai dengan Islam. Memang, apa yang disampaikannya pada bab ini bukan hal baru. Tampaknya ia ingin melengkapi bukunya agar lebih konprehensif.

Yang menarik pada buku ini adalah tiga bab terakhir yang menyoroti terorisme di Indonesia. Satu hal yang dikupasnya ialah kurang antusiasnya dukungan publik terhadap langkah pencegahan dan penanganan terorisme. Upaya penanggulangan, termasuk penerbitan Perpu Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, diopinikan seolah semata-mata karena tekanan internasional.

Ketika perpu itu berkembang menjadi Undang-Undang Nomor 16/2003, persoalan baru pun muncul lagi. Mahkamah Konstitusi (MK) membatalkan undang-undang itu karena sengketa soal prinsip retroaktifnya. Nasib keputusan MK itu kini tak jelas.

Budi Gunawan menutup bukunya dengan penolakan dia terhadap spekulasi adanya konspirasi di balik pengungkapan kasus bom Bali. Sukses Polri adalah semata-mata karena cermat mengikuti prosedur dan kaidah forensik. Tidak ada urusan dengan Amerika Serikat atau kepentingan global. Ia juga mempertanyakan selera pers yang gencar mengulas pelbagai teori konspirasi yang bukti-buktinya di lapangan ternyata nihil.

Buku Terorisme, Mitos dan Konspirasi ini terkesan kurang dalam, kurang fokus, dan kurang tuntas. Namun ia bisa menjadi referensi berharga di tengah ketiadaan buku yang membahas terorisme domestik.

GATRA, 24 Juli 2006


[+/-] Baca Selengkapnya...

Derita Lebanon

Senin, 17 Juli 2006

Putut Trihusodo

Orang Lebanon tak suka berperang. Mereka lebih berminat ke bisnis, intelektual, seni budaya, dan tak pernah membangun militer yang kuat. Namun mereka harus hidup di kawasan yang panas, utamanya karena bara zionisme.

Jerih payah selama 16 tahun rontok dalam sekejap. Begitu nasib Lebanon kini. Sejak 1990, setelah dilanda konflik bersenjata selama 15 tahun, negeri cantik di tepi Laut Mediterania itu bangkit dari puing-puing keruntuhannya. Gedung perkantoran, jalan raya, hotel-hotel, apartemen, jembatan, bandara, pembangkit listrik, dan infrastruktur lainnya dibangun. Institusi pemerintahan berdenyut kembali.

Pamor Lebanon pun tumbuh hampir pulih. Ibu kota Beirut mulai berbinar. Predikat ''Paris of Middle East'' kembali disandangnya. Badan-badan PBB, semisal ILO dan UNESCO, membuka perwakilannya untuk kawasan Arab di Beirut. Turis asing juga membanjiri Lebanon. Tahun lalu, jumlahnya 1,6 juta.


Pelbagai infrastruktur terus dibangun. Maklum, Beirut menjadi salah satu kandidat tuan rumah Olimpiade musim panas 2024. Yang sudah dekat adalah tuan rumah bagi event ''Jeux de la Francophonie 2009'', sebuah pesta olahraga negara-negara berbahasa Prancis. Di negeri ini, bahasa Prancis adalah yang kedua setelah bahasa Arab.

Jerih payah selama 16 tahun itu telah memberi hasil kongkret. Beirut tumbuh jadi sebuah kota dengan atmosfer kosmopolitan. Sekitar 1,2 juta warga menghuni kota itu, dan angka itu menjadi 1,7 juta bila ditambah penduduk di pinggiran kota. Pusat bisnis, pasar modal, stasiun-stasiun TV, butik, kafe, dan mal-mal bertebaran di Beirut. Ekonomi tumbuh. Pendapatan per kapita warga Lebanon telah mencapai US$ 5.100.

Namun segala kisah sukses itu sepertinya akan rontok saat pesawat-pesawat tempur Israel secara membabi buta menyerang Lebanon, termasuk Beirut, sejak Rabu pekan lalu. Dalihnya, memerangi milisi Hisbullah yang ada di negeri itu. Gara-garanya, dua serdadu Yahudi ditangkap Hisbullah di perbatasan Israel-Lebanon.

Serangan gencar dengan roket, senapan mesin, dan bom itu meluluhlantakkan banyak target di Lebanon. Sebagian sasaran adalah kawasan yang dianggap sebagai kantong-kantong Hisbullah seperti di Dahieh, Beirut Selatan. Toh, militer Israel gatal tangan menghancurkan Bandara Rafic Hariri, pembangkit listrik, jalan raya Beirut-Damaskus, jaringan telekomunikasi, serta jembatan yang dianggap menghubungkan ke kawasan Hisbullah.

Sejak serangan pertama itu, pasar modal di Beikut tutup, setelah sebelumnya anjlok 15%. Industri pariwisata, yang diharapkan mendatangkan pemasukan US$ 2,5 milyar tahun 2006 ini, kolaps seketika. Kerugian fisik sampai pada tiga hari pertama serangan mencapai US$ 500 juta. Siapa yang bertanggung jawab?

Penduduk Lebanon kini 3,8 juta, 200.000 di antaranya migran dari Palestina. Di luar itu, 15 juta orang berdarah Lebanon lainnya hidup tersebar di pelbagai penjuru dunia. Komunitas Lebanon sendiri berdarah campuran dari suku tua Phonix, Syiria, Yunani, Roma, Arab, Kurdi, dan Prancis, yang datang bersama pasukan Salib berabad silam. Sekitar 57% adalah muslim (Suni, Syiah, Druze, dan Alawit). Selebihnya, 40%, Kristen (Katolik Maronit, Ortodoks Yunani, Katolik Armenia, dan Protestan). Di luar itu, ada segelintir Yahudi.

Meski penduduknya heterogen, sejarah mencatat, Lebanon relatif stabil. Transisi dari pemerintah kolonial Prancis ke Lebanon yang merdeka tahun 1945 berjalan tanpa gejolak. Kalaupun ada satu faktor yang membuat negeri itu gonjang-ganjing, tak lain adalah Israel dengan zionismenya. Ulah Israel pula yang membuat 300.000 warga Palestina hijrah ke Lebanon pada 1975.

Kehadiran pengungsi Palestina itu melahirkan konflik domestik yang lantas berkobar menjadi perang sipil sesama orang Lebanon, karena campur tangan tetangga, Suriah dan kemudian Israel. Selama 15 tahun, Lebanon menjadi ajang bagi ledakan bom dan letusan senapan. Tak kurang dari 100.000 orang tewas.

Orang Lebanon tak suka berperang. Mereka lebih berminat ke bisnis, intelektual, seni budaya, dan tak pernah membangun militer yang kuat. Namun mereka harus hidup di kawasan yang panas, utamanya karena bara zionisme. Sejumlah warga Lebanon pun terseret ke dalam konflik regional, seperti para milisi Hisbullah yang bersimpati pada perjuangan Palestina. Pemerintah Lebanon tidak bisa mengontrol mereka. Namun itu tak bisa jadi alasan untuk serangan membabi buta, yang tidak saja membuat kerugian besar, juga mencabik rasa keadilan.

Gatra, 17 Juli 2006


[+/-] Baca Selengkapnya...

Hinterland

Kamis, 13 Juli 2006

Singapura adalah tetangga yang kaya raya. Negeri sekepal ini sanggup memberikan kemakmuran bagi 4,3 juta penduduknya dengan standar Eropa Barat. Pendapatan per kapita penduduk Singapura saat ini US$ 28.000. Jauh berlipat melampaui tetangga terdekatnya, Indonesia.

Uang melimpah ruah di Singapura, baik itu milik negara, swasta, maupun tabungan rakyatnya. Belum lagi uang-uang titipan yang datang dari pelbagai penjuru dunia (termasuk duit yang kabur dari Indonesia) yang kini berada di tangan para fund manager yang mengoperasikan pelbagai lembaga keuangan. Singapura adalah sumber modal.


Sukses itu diraih lewat kerja keras selama empat dekade. Di bawah pemerintahan yang efektif, bersih, dan hukum yang tegak, kerja keras itu segera memberi hasil nyata. Negeri sekepal itu pun tumbuh cepat, bahkan secara fisik luas daratannya terus bertambah dari 490 kilometer persegi 30 tahun lalu menjadi 660 kilometer persegi saat ini, dengan proyek reklamasinya.

Dari Singapura, uang mengalir ke mana-mana dalam beragam bentuk investasi. Negara-negara yang relatif baru menggeliat bangkit seperti Kamboja dan Vietnam turut kebanjiran uang ''negeri singa'' itu. Ironisnya, tidak banyak yang masuk Indonesia.

Namun para pemimpin Singapura agaknya sadar, mana mungkinlah mereka bisa tidur nyenyak bila tetangga di depan pintu rumah hidup serba kesulitan. Memang tidak berarti mereka harus peduli pada kondisi Indonesia secara keseluruhan. Tapi setidaknya, daerah terdekatnya bisa didorong lebih makmur sehingga menjadi penyangga bagi "pengaruh buruk" negeri tetangga.

Boleh jadi, itu suatu hal yang mendorong Singapura tertarik dengan proposal SEZ (special economic zone). Dalam bentuk nota kesepakatan (MoU), gagasan SEZ itu diteken Pemerintah Indonesia dan Singapura pada akhir Juni lalu. Intinya ialah kehendak untuk mengembangkan daerah Batam, Bintan, dan Karimun (BBK) menjadi satu kawasan industri maju.

Pertimbangan politik adalah satu hal. Namun ada hal lain, yakni daya tarik alam BBK itu sendiri. Sebagaimana Singapura, Pulau Batam, Bintan, dan Karimun yang berada di jalur urat nadi perdagangan dunia "Selat Malaka" adalah tempat-tempat yang sangat berharga secara ekonomi. Apalagi, dalam pandangan orang Singapura, tiga pulau itu ibarat hinterland, daerah pedalaman, mereka. Apa salahnya turut mengurus wilayah pedalaman?

Namun kita tahu, membangun SEZ bukan hal sederhana. Tak cukup selembar MoU. Di sana perlu kelengkapan infrastruktur dan terutama perangkat aturan main yang jelas --syukur ditambah insentif yang menarik investor. Justru dalam masalah perangkat aturan ini kita sering kedodoran.

Kita punya pengalaman dengan Batam. Di awal 1990-an, kita sempat punya harapan besar atas Batam. Pulau seluas 612 kilometer persegi itu pernah berjaya di tahun 1990-an, tapi kini pamornya sebagai pulau industri meredup. Banyak pemilik industri di Batam yang angkat kaki, memindahkan pabriknya ke Cina atau Vietnam.

Padahal, Batam sempat tumbuh pesat. Di awal 1970-an, pulau yang ukurannya tidak terpaut jauh dari Singapura itu hanya dihuni 3.000-an orang. Tiga puluh tahun kemudian, penghuninya hampir 700.000 jiwa. Pada tahun 2000, sebelum kinerjanya anjlok, Batam memberi tempat bagi 140.000 tenaga kerja sektor formal. Ratusan industri di sana juga menciptakan 8.000 unit usaha kecil dan menengah.

Batam sempat gebyar-gebyar. Investasi swasta asing dan nasional pernah mencapai US$ 6,1 milyar (2000). Nilai ekspornya US$ 6,7 milyar tahun itu. Setoran pajak ke pemerintah pusat sekitar Rp 900 milyar. Namun kesimpangsiuran aturan main membuat gemebyar industri Batam meredup, meski belum padam sepenuhnya.

Kita tahu, adanya tumpang tindih kewenangan antara Badan Otorita dan Pemerintah Kota Batam, yang lahir dari rahim otonomi daerah, menjadi satu masalah. Ketidakjelasan Batam sebagai bonded zone atau free trade zone adalah persoalan lainnya. Puncaknya ialah ketika pemerintah memberlakukan pajak pertambahan nilai dan pajak barang mewah di luar enam bonded zone yang ada.

Memang tak seluruh masalah dari kita. Pengenaan pajak itu, misalnya, adalah buah "intimidasi" Dana Moneter Internasional (IMF). Toh, muaranya satu: tidak ada konsistensi aturan. Pengalaman di Batam hendaknya memberi pelajaran bahwa SEZ harus dirancang dengan perencanaan yang matang agar aturan main tak mengalami bongkar pasang.

Putut Trihusodo
[Lensa, Gatra Nomor 35 Beredar Kamis, 13 Juli 2006]

[+/-] Baca Selengkapnya...

Pelajaran dari Dili

Kamis, 29 Juni 2006

Setelah melalui pergulatan alot yang diwarnai insiden berdarah, akhirnya Perdana Menteri (PM) Mari Alkatiri mundur dari jabatannya. Tekanan dari lawan-politiknya, yang membawa nuansa kepentingan Australia, tidak membuat dia keder. Namun, saat ia melihat gelagat serius bahwa Presiden Xanana Gusmao akan angkat kaki dari panggung kepemimpinan nasional, Alkatiri pun mengalah. Ia siap turun dari mimbar kekuasaan.

Suasana panas di bumi Loro Sae, Matahari Terbit, sebutan bagi Timor Timur dalam bahasa Tetun, tampaknya akan mereda. Kompromosi politik telah mendapatkan jalan masuk. Pihak oposisi selama ini memang mamatok syarat bagi penyelesaian kemelut politik itu, yakni Mari Alkatiri lengser. Perkembangan terbaru dari kota Dili itu tentu membuat banyak pihak lega. Konflik yang bisa memantik aksi kekerasan lebih jauh itu bisa dihindari.


Barisan oposisi, terutama dari faksi Jose Ramos Horta, tentu juga senang. Selama ini, mereka merasa bahwa Alkatiri membawa negeri seluas 15.000 kilometer persegi itu ke arah kiri, hal yang mereka anggap tidak realistis. Mari Alkatiri menentang nilai-nilai pasar yang terlalu bebas. Ia memicingkan mata curiga terhadap arus globalisasi.

Sebagai tetangga yang membantunya lepas dari "pendudukan" Indonesia, Australia tak suka Timor Leste dibawa ke kiri. Australia harus memastikan negeri sekepal yang dianggap sebagai serambi belakangnya itu mempraktekkan haluan politik yang menolak liberalisasi. PM John Howard tahu betul, Timor Leste bisa "diluruskan" hanya jika Alkatiri lengser. Maka, dilakukanlah tekanan, termasuk mengirim militernya dengan dalih memulihkan ketertiban di negeri itu.

Kepentingan Australia tak cuma soal geopolitik. Ada juga soal fulus. Australia tak mau Mari Alkatiri mengacak-acak perjanjian bilateral kedua negara tentang minyak di Timor Gap yang memberi porsi bagi hasil 80:20. Pemerintahan Alkatiri mematok agenda mengubah perjanjian itu dengan membuat perjanjian baru berdasar Konvensi Hukum Laut. Kalau langkah itu ditempuh, jelas porsi bagi hasil akan terbalik.

Posisi Alkatiri kian terpepet karena ia tak bisa mencari dukungan dari tetangga lain, Indonesia misalnya. Selama memimpin Timor Leste sejak enam tahun lalu, ia tidak cukup ramah pada Jakarta. Garisnya berbeda dari Xanana. Alkatiri terus curiga, seraya memainkan "kartu HAM", untuk mengintimidasi Indonesia. Alkatiri seperti memungkiri kenyataan bahwa Indonesia adalah pemasok segala kebutuhan rakyatnya.

Posisi Alkatiri makin lemah karena pihak gereja, lembaga yang selama 23 tahun pemerintahan Indonesia memainkan peran politik yang penting, tidak menyukainya. Pemerintahan Mari Alkatiri dianggap terlalu sekuler, kiri, tak menghargai demokrasi, dan akan menjadikan Timor Leste negeri sosialis yang otoriter.

Dukungan kuat hanya dari Fretilin, partai yang dipimpinnya, yang kini menguasai 55 dari 88 kursi parlemen. Tapi dukungan dari elite partai tak cukup. Karena di tingkat akar rumput Fretilin, pengaruh Xanana besar. Apalagi, Presiden Xanana adalah bapak bangsa, pemersatu rakyat Timor Leste. Bisa saja ia nekat bertahan. Namun Mari Alkatiri cukup punya sikap kenegarawanan. Ia tidak sudi negerinya dilanda konflik berkepanjangan.

Ke mana kompromi akan dibawa? Di situ Xanana dan Alkatiri akan berembuk. Kredo the winner takes all mungkin tak akan ditempuh. Maka, pilihan pengganti Alakatiri tak akan ke figur Jose Ramos Horta. Boleh jadi, sosok Jose Luis Gutteres, yang kini menjabat sebagai Duta Besar Timor Leste di PBB, menjadi figur kompromi. Gutteres tak terlibat konflik. Ia bisa mengapresiasi kecurigaan Alkatiri terhadap nilai-nilai liberalisme dan globalisasi. Namun ia cukup pragmatis untuk bekerja sama dengan tokoh flamboyan semacam Ramos Horta.

Di balik kemelut itu, ada hal menarik di Dili. Kekuasan politik tidak membuat pemimpin negeri itu tersandera seperti penunggang harimau --kalau turun, bakal dicabik-cabik oleh "makhluk" ganas itu. Situasi ini hadir kalau kekuasaan tidak membuahkan penindasan, korupsi, dan nepotisme. Maka, kompromi di Dili tak sulit berlanjut dengan rekonsiliasi dan konsolidasi.

Di mana posisi Indonesia? Barangkali kini tiba saatnya ada panggilan sejarah untuk membela dan menjaganya, agar negeri baru itu tak jatuh dalam cengkeraman kolonialisme baru.

Putut Trihusodo
[Lensa, Gatra Nomor 33 Beredar Kamis, 29 Juni 2006]

[+/-] Baca Selengkapnya...

Yellow Cake

Senin, 15 Mei 2006

Putut Trihusodo

SEBAGAI bahan mineral, uranium bisa ditemukan di banyak tempat, di kelima benua. Namun hanya Australia yang diakui sebagai lumbung uranium dunia, karena 40% depositnya dipercaya ada di ''negeri kanguru'' itu. Selebihnya ada di Kanada, Cina, Kazakstan, Uzbekistan, atau negeri-negeri Afrika: Namibia, Nigeria, dan Mali.

Bukan hal aneh bila mineral yang sama ditemukan di banyak tempat. Bukankah seluruh batuan bumi ini berasal dari materi yang sama, yakni serpihan ''Big Bang''. Pakar mineral dapat mengendus kehadiran uranium cukup dengan melihat batuan, apakah dia uranitite, carnotite, lignite, monazite, atau yang sejenisnya. Maka, bukan hal aneh pula bila uranium ditemukan di tanah Kalimantan, Papua, hulu Amazon, atau di daerah perbukitan Iran Tengah.

Keberadaan mineral uranium (U) take serta-merta dapat mendatangkan laba. Apalagi, ia bisa hadir dalam bentuk tiga isotop, U-234, U-235, dan U-238. Semuanya bersifat radioaktif, tapi hanya U-235 yang bisa menjalani reaksi pembelahan (fisi), hal terpenting untuk keperluan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) ataupun bom atom! Makin tinggi konsentrasinya, makin ekonomis harganya.

Secara umum, batuan beruranium itu mengandung ketiga isotop tadi, dengan komposisi bervariasi. Porsi U-235 pada batuan alam biasanya cuma 0,7%. Untuk jadi elemen bakar PLTN, diperlukan pengayaan U-235 hingga 3%, dan di atas 80% untuk bom.

Amerika Serikat adalah negara yang paling maju memanfaatkan nuklir, untuk maksud damai atau perang. Sejarah pun mencatat, debut momumentalnya adalah bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang, Agustus 1945. Setelah itu, sembari terus membiakkan bom atomnya, Amerika memulai penggunaan nuklir sebagai sumber energi dan alat diagnonis.

Selama Perang Dingin, Amerika dan sekutunya pun terus mempersenjatai diri dengan rudal berkepala nuklir. Tapi, untuk mereka yang tak terkait langsung dengan Perang Dingin, Gedung Putih menggiring ke perjanjian antiproliferasi (penyebaran) nuklir. Iran dan Indonesia ada di dalamnya. Amerika memegang kontrol lebih kuat atas konvensi ini.

Maka, kini Gedung Putih pun resek saat mendengar bahwa Iran ingin mengembangkan diri menjadi negeri nuklir. Dengan bantuan Rusia, Iran mencoba memanfaatkan uranium miliknya untuk reaktor PLTN. Segera, International Atomic Energy Agency (IAEA), sebuah lembaga PBB, diturunkan untuk memantau. Hasilnya, IAEA menyimpulkan, Iran berpotensi membuat bom nuklir karena kemampuan teknik pengayaan uraniumnya.

Tingkah Amerika makin menjadi. Ia menekan Iran agar menghentikan proyek pengayaan uraniumnya. Kalau tidak, ada akibatnya: bisa embargo ekonomi, bisa juga tindakan militer. Toh, Iran tak gentar. Ia merasa hanya memanfaatkan nuklir untuk energi. Lagi pula, mengapa harus memenuhi kemauan Amerika? Kalaupun mau bikin bom, mengapa harus dilarang, sementara Amerika sendiri kolektor terbesarnya?

Memang tidak bisa dimungkiri bahwa tak ada garis batas yang tegas antara teknologi nuklir damai dan nuklir perang. Tahapannya jelas, batuan uranium diolah menjadi adonan kuning yellow cake, substansi dengan kandungan U lebih besar. Yellow cake lalu diubah menjadi gas "U-heksaflorida", kemudian masuk proses sentrifugasi untuk menghasilkan substansi dengan konsentrasi U-235 untuk elemen bakar PLTN, atau kadar di atas 80% untuk bom atom.

Salah satu produk samping PLTN adalah isotop U-238, yang hanya dengan tembakan netron bisa jadi plutonium-239. Ini bahan baku bom atom yang lebih dahsyat. Secara teknis, memang, tujuan nuklir damai dan perang itu sangat tipis. Semuanya terpulang pada niat.

Dalam sejarahnya, Amerika pernah memanfaatkan PLTN-nya jadi pabrik bom atom. Pada 1954, Kongres Amerika mengamandemen Atomic Energy Act. PLTN swasta menerima U-235 dari negara, tapi produk plutoniumnya harus diserahkan ke pemerintah untuk bom nuklir. Keputusan itu dihapus di kemudian hari. Namun, tahun 1981, Presiden Ronald Reagan mengirim proposal ke Kongres untuk memanfaatkan PLTN swasta sebagai pabrik plutonium. Proposal itu mentok di Kongres.

Tak mengherankan kalau kini Gedung Putih menanggapi secara paranoid PLTN Iran, negeri yang tak pernah tunduk pada kehendaknya. Boleh jadi, Pemerintah Amerika Serikat bercermin pada dirinya bahwa semua orang punya rencana jahat, seperti yang selalu disiapkan oleh ahli-ahlinya di Left Wing Gedung Putih.

Gatra, 15 Mei 2006


[+/-] Baca Selengkapnya...

Kebajikan Air

Senin, 01 Mei 2006

Air adalah karunia alam yang tidak bisa diproduksi. Sejak bumi ini terbentuk sebagai planet yang khas, dengan segala kehidupan di atasnya, jumlah air praktis tak pernah bertambah atau berkurang. Suatu kali, memang permukaan laut menyusut drastis dan permukaan bumi meluas. Toh, air tak lari ke mana-mana. Ia cuma terkumpul sebagai gunung es di kedua kutub bumi.

Begitu gunung es mencair, karena perubahan temperatur atmosfer bumi, paras laut pun meluas hingga mengambil porsi 70% dari permukaan bumi seperti saat ini. Kelak, porsi 70% itu bertambah seiring munculnya gejala pemanasan global.


Air adalah salah satu elemen bumi yang paling dinamis. Ia tidak punya alamat tetap, terus berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dan gampang berubah fase mengikuti siklus kehidupan bumi. Suatu kali ia menjadi uap, terbang bersama angin, tumbuh menjadi awan, dan jatuh sebagai hujan --mungkin saja di sebuah lokasi yang ribuan kilometer jauhnya dari tempat persinggahan sebelumnya.

Di saat yang lain, ia tersimpan sebagai air tanah, terserap akar, naik ke daun, dan atas jasa baik cahaya matahari, bantuan klorofil, dan pelbagai enzim daun, ia pun tersintesis menjadi biomassa yang mengandung energi. Tiba saatnya biomassa dikonsumsi oleh makhluk herbivora, termasuk manusia, dimetabolismekan, diambil energinya, dan ia pun terurai kembali menjadi CO2 dan air. Selanjutnya, air menjalani kembali siklus abadinya.

Betapapun dinamisnya, ia tidak tersedia di semua tempat dalam takaran yang sama. Ada tempat yang surplus kelimpahan air, dan banyak tempat lainnya yang selalu defisit neracanya. Maka, air menjadi faktor pembatas daya dukung ekologis yang bisa memicu masalah sosial, politik, dan ekonomi --utamanya saat ia berstatus air tanah, air danau, dan air sungai yang secara langsung menopang kehidupan umat manusia. Nilai ekonomi pun direkatkan atas zat fluida ini.

Eksploitasi atas sumber daya air pun menjadi-jadi, dan siklus air terusik harmoninya. Tapi, siapa peduli.

Dalam usia bumi yang telah mencapai enam milyar tahun ini, ketika penduduk bumi hampir mencapai enam milyar jiwa, tekanan berat menimpa pada sumber air tawar, baik itu danau, sungai, maupun sumber-sumber air tanah lainnya. Sumber air yang langka itu pun rusak karena dianggap sebagai pelarut limbah, juga sarana transportasi segala barang buangan, untuk dikirim ke laut. Ketika sungai-sungai tercemar, air tanah pun menjadi rebutan.

Ia lalu menjadi komoditas berharga. Ia dianggap relatif bebas dari bahan pencemar, karena berasal dari hujan yang merembes masuk ke tanah, dan butir-butir tanah bisa mengikat sebagian besar bahan pencemar. Lantas, kalau kemudian ia dianggap amat berharga, sebetulnya bukan karena bersih, melainkan karena murah. Sebetulnya, air sekotor apa pun oleh teknologi bisa dibuat bersih, tapi itu perlu biaya. Jadi, buat apa susah menyucikan air berlimbah kalau air tanah mudah dieksploitasi.

Air adalah sumber kehidupan bagi segala jenis makhluk hidup, termasuk manusia. Ia tak hanya diperlukan dalam proses metabolisme pada tingkat organisme, bahkan di tingkat inti sel. Dalam peradaban maju, kebutuhan tubuh manusia atas air itu tak lagi dipenuhi semata dari air bumi. Dunia industri telah menambahkan pelbagai macam substansi agar air bisa memberikan kenikmatan rasa dan daya gunanya bagi tubuh.

Kini dunia industri makin menempatkan air sebagai bahan baku untuk komoditas yang kian canggih. Ada proses industri yang membuat enam molekul air murni bergandengan membentuk bangun heksagonal. Konon, dalam format ini, air jadi lebih mudah menembus membran hingga cepat masuk ke sel yang merupakan unit terkecil dalam sistem jaringan. Manfaatnya, konon proses fisiologi di dalam sel lebih dinamis. Tubuh manusia lebih sehat berkat konsumsi air canggih ini --katanya.

Para era sebelumnya, air pun dibubuhi pelbagai konsentrat yang dianggap diperlukan oleh tubuh. Di sinilah industri langsung mengincar sumber air alam. Dunia industri tentu akan menikmati nilai tambah sangat menarik untuk air alam ini. Atas nama pajak, kesempatan kerja, pendapatan asli daerah, APBN, atau apa pun, sumber air pun jatuh ke tangan industri.

Air lantas menjadi barang dagangan semata. Air tak lagi menjadi sumber kehidupan bagi unsur-unsur ekologi di sekeliling, termasuk manusia. Siklus air berubah. Pada saat itulah, guncangan ekosistem bisa muncul. Termasuk gesekan sosial. Sesungguhnya, siklus alamiah air memberi kebajikan sendiri.

Putut Trihusodo
[Lensa, Gatra Edisi 25 Beredar Senin, 1 Mei 2006]

[+/-] Baca Selengkapnya...

Di Balik Senyum Condy

Senin, 20 Maret 2006

Putut Trihusodo

DENGAN memboyong satuan pengamanan sendiri, berseragam militer dan bersenjata pula, Condoleeza Rice datang ke Jakarta dengan penuh percaya diri. Memang tidak lazim dalam tata krama di dunia diplomatik. Tapi, siapa yang bisa menolak. Bahkan, saat menyambut Menteri Luar Negeri Amerika Serikat itu pekan lalu, kita ikut jadi paranoid. Sekitar 1.500 personel polisi dikerahkan.

Condy Rice, begitu dia biasa disapa, adalah andalan Presiden George W. Bush dalam urusan politik luar negerinya. Pers menyebutnya orang kuat kedua di Amerika setelah George Bush. Tak mengherankan bila predikat itu jatuh ke sosok Menteri Luar Negeri, karena segala urusan domestik di Amerik Serikat sudah tertangani oleh negara bagian, distrik, dan swasta. Gedung Putih bobotnya lebih ke ''pemerintahan dunia''. Condy tumpuannya. Sosoknya sebagai perempuan terpelajar, cerdas, gaul tapi tegas mendukung pekerjaan beratnya itu.


Di Jakarta, Condy berbicara banyak hal. Dari flu burung, HAM, problem laten Palestina, terorisme, hingga nuklir Iran. Tak lupa, ia memuji kemajuan demokrasi dan toleransi kehidupan di Indonesia. Ia tamu yang santun, yang tak ingin membuat tuan rumah malu hati. Memang tak ada yang harus membuatnya kesal. Urusan Exxon atas minyak Blok Cepu beres. Freeport secara bisnis juga aman-aman saja.

Toh, semenarik apa pun kepribadian Condy Rice, tetap saja ia bekerja untuk national interest Amerika Serikat versi Gedung Putih. Semanis apa pun ia berbicara, misinya adalah untuk kepentingan nasionalnya. Jadi, tugas pokoknya adalah merayu, membujuk, menekan. Tidak kurang, tidak lebih. Condy instrumen terdepan untuk menegakkan kepentingan Amerika dalam "pemerintahan" dunia Gedung Putih yang berotak dan berotot.

Kekuatan militer Amerika Serikat tak ada bandingnya. Negeri ini mengalokasikan US$ 401 milyar untuk keperluan militer pada 2005. Itu tidak termasuk ongkos operasi di Irak dan Afghanistan. Anggaran pertahanan Amerika, termasuk untuk operasi intelijennya, setara dengan 40%-45% anggaran militer dunia. Kalau kekuatan militer itu berbanding lurus dengan dana, kekuatan Amerika hampir setara dengan kekuatan sisa dunia.

Setelah mengalami perang saudara yang dahsyat pada 1860-1865, angkatan perang Amerika Serikat tak pernah lagi beroperasi di home land-nya. Mereka bermain di tanah orang. Dari Perang Dunia (PD) I, Perang Dunia II, Perang Korea, lalu Perang Vietnam. Setelah Perang Dingin usai, spektrum daerah operasi militer Amerika malah makin luas. Posturnya merang lebih ramping, hanya sekitar 1,5 juta personel --bandingkan dengan era PD II yang mampu memobilisasi sampai 5 juta prajurit. Tapi kini militer Amerika sarat teknologi. Kapasitasnya mumpuni untuk mengontrol dunia.

Atas nama membantu kawan seiring, Presiden George Bush (senior) menghajar Irak pada Perang Teluk I di tahun 1991. Dengan cara lebih elegan, Presiden Bill Clinton menyerang kekuatan Serbia di Kosovo. Clinton meyakini apa yang terjadi di negeri Balkan itu adalah para pemimpin yang melakukan tindak kriminal di negara sendiri dengan melakukan genosida. ''Karena genosida menjadi kebijakan nasionalnya, kita harus menyerang,'' kata Clinton. Tapi ia berdiam diri atas genosida di Rwanda dan Somalia.

Era George Bush lain lagi. Serangan 11 September 2001 membuatnya menyusun peta perang baru. Ada negara-negara yang dianggapnya hostiles. Afghanistan, Irak, Korea Utara ada dalam list-nya. Ada pula yang disebut unstable nations. Di situ, 25 negara masuk daftar, Venezuela di bawah Hugo Chavez, Bolivia, Peru, Aljazair, Sudan, dan Nigeria. Terhadap dua kategori negara tersebut, militer Amerika Serikat diizinkan menyerang! Bila perlu.

Mana musuh dan mana kawan, Gedung Putih tampaknya punya ukuran jelas: sejauh mana kepentingan atas kenyamanan hidupnya diakomodasi. Di balik senyumnya, Condy bertugas memastikan, kalau langkah diplomasi dan kebijakan ekonomi direspons secara positif, peluru tak perlu meletus.

Gatra, 20 Maret 2006


[+/-] Baca Selengkapnya...

Menoleh ke Laut

Senin, 02 Januari 2006

Putut Trihusodo

Para nelayan itu hanya bisa bergumul dengan laut. Namun sesungguhnya mereka tak benar-benar memiliki akses pada kekayaan laut. Kapasitas teknologi yang ada pada mereka jauh dari memadai. Maka, kalaupun Indonesia mencatat produksi ikan laut 4,4 juta ton, sebagian masuk ke perut kapal-kapal tangkap milik cukong asing yang beroperasi dengan bendera Merah-Putih.

LAUT kita adalah sawah ladang yang sungguh tak terkira nilainya. Tanpa harus mencangkul dan membajaknya, kita bisa memanen hasilnya kapan kita suka. Laut pun tak meminta pupuk atau obat-obatan pengusir hama. Tak ada kata paceklik. Sekiranya kita punya teknologi dan modal, musim barat atau musim timur bukan halangan. Sekiranya kita punya pengetahuan, tidak sulit kita mencari haluan untuk menebar jaring.


Luas laut kita tak kurang dari 4 juta kilometer persegi. Menjadi 5,8 kilometer persegi jika kita mau sedikit bersusah payah melayari zona ekonomi eksklusif. Potensi lestari ikan di sana tidak kurang dari 6,4 juta ton per tahun. Kalau saja nelayan kita sanggup menangkap separuh saja, dan menjualnya dengan harga Rp 15.000 per kilogram, rezeki dari laut ini akan mencapai Rp. 46,5 trilyun. Angka itu boleh jadi berlipat, mengingat harga ikan kerapu bebek di Singapura, misalnya, bisa mencapai S$ 95 (sekitar 570.000) dan kerapu sunu S$ 32 (sekitar Rp 186.000). Bahkan kakap merah yang bukan jenis ikan gedongan bisa laku Rp 36.000 per kilogram.

Ironisnya, dari tahun ke tahun, nelayan kita tetap saja tertinggal, rombeng, compang-camping. Desa nelayan identik dengan kantong kemiskinan. Survei oleh tim Departemen Kelautan dan Perikanan, 2005, sebelum harga BBM menjulang naik, menunjukkan porsi keluarga miskin di desa pesisir Jawa Timur mencapai 33,8%, dua kali rata-rata angka kemiskinan nasional. Bahkan, di pesisir Kabupaten Trenggalek, angka keluarga papa itu mencapai 58,3%, dan di Sumenep 52,1%.

Para nelayan itu hanya bergumul dengan laut. Namun sesungguhnya mereka tak benar-benar memiliki akses pada kekayaan laut. Kapasitas teknologi yang ada pada mereka jauh dari memadai. Maka, kalaupun Indonesia mencatat produksi ikan laut 4,4 juta ton, sebagian masuk ke perut kapal-kapal tangkap milik cukong asing yang beroperasi dengan bendera Merah-Putih. Kalau saja kapal-kapal durjana itu bisa kita halau, dan nelayan nasional diberdayakan, masih ada dua juta ton ikan segar lagi yang dapat kita panen setiap tahun.

Laut kita adalah sawah ladang yang tak pernah kering. Sejauh kita tidak tamak menggarapnya, ia akan menjadi harta pusaka yang abadi, yang terus akan memberi manfat buat anak-cucu, cicit, canggah, gantung siwur, dan seterusnya. Laut adalah sumber daya yang renewable, terbarukan.

Minimnya kapasitas teknologi yang dimiliki nelayan dan juragan-juragannya kadang membuat mereka menjadi zalim. Mereka menggarap harta pusaka itu dengan cara-cara teroris: bom! Natrium klorat dicampur posfat dalam adonan, diberi sumbu detonator, lalu buum! Begitulah, sebagian nelayan kita mengambil jalan pintas untuk mendapatkan kerapu bebek atau ikan napoleon. Terumbu karang hancur lebur bersama ikan-ikan yang bersarang di habitat itu. Siapa peduli.

Kemiskinan memang mudah menggoda nelayan kita menjadi ''teroris'' laut. Mereka begitu lama hidup dalam sistem ekonomi yang menekan. Rentenir lebih mereka kenal ketimbang teller bank atau ATM. Investasi adalah hal mewah yang tidak pernah mereka sentuh. Selama pemerintahan Orde Baru, investasi domestik di sektor perikanan (kelautan ada di dalamnya) cuma 1,4%. Sangat jomplang dibandingkan dengan industri yang meraup 68,7%. Investasi asing sama saja. Tanpa insentif, tanpa komitmen, tak ada investasi.

Pasca-Orde Baru, pemerintah lebih punya visi kelautan. Sejak pemerintahan KH Abdurrahman Wahid, muncul Departemen Kelautan. Negara pun menoleh ke laut. Namun tak kunjung hadir langkah kongkret untuk memberdayakannya hingga kini. Investasi ke sektor laut masih terseok-seok. Perlu affirmative policies dan affirmative actions untuk sektor yang masih tertinggal ini. Situasi tak bisa dibiarkan berlarut-larut.

Laut jangan lagi menjadi anak tiri yang dibiarkan hancur, tercemar, terjarah, dan tidak terurus. Sudah saatnya laut menjadi prioritas. Pemberdayaan laut tak hanya menolong nelayan miskin. Lebih dari itu, dari sana juga akan muncul permintaan tenaga kerja. Apalagi, laut kita tidak hanya memberi ikan. Di sana ada juga minyak, gas bumi, mineral, pasir, dan kekayaan biota lainnya, semisal rumput laut. Di situlah diperlukan kebijakan yang terfokus, agar pemanfaatan sumber daya itu tak mengusik satu sama yang lain yang bisa mengakibatkan kerusakan ekosistem.

Di atas laut terhampar banyak kesempatan. Di pesisir laut, terbentang 1,2 juta hektare lahan yang cocok untuk tambak udang, dan baru diusahakan 350.000 hektare. Hasil tambak kita rata-rata baru 0,6 ton udang per musim. Bayangkan bila kita memiliki sejuta hektare tambak udang dengan produksi rata-rata 2 ton. Itu sama sekali tidak mustahil.

Kekayaan biodiversitas perairan pun luar biasa. Perairan Kepulauan Derawan. Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, misalnya, menyimpan 872 spesies fauna air. Mungkin saja sebagian dari mereka bisa ekonomis untuk dibudidayakan. Derawan sendiri memiliki pesona laut luar biasa, tak kalah dari The Great Reef di Queensland, Australia, tempat tujuan wisata dunia yang menghasilkan US$ 2 milyar pada 2002.

Pantai-pantai indah dan perairan yang eksotik bertebatan di Indonesia. Jangan hanya sebut Bunaken, karena masih ada kawasan seperti Derawan, Pulau Tukang Besi di Buton, Pulau Padaido (Biak), Pulau Ranca-Komodo, dan masih banyak lagi yang mendapat indeks di atas 31 atas keelokannya dari World Tourism Organization. Padahal, indeks untuk Great Reef hanya 28, Karibia 25, dan Tahiti cuma 21.

Edisi khusus Gatra kali ini membedah potensi sumber daya laut kita, dengan segala macam problemnya, mulai aspek kesejarahan teritorinya, kebijakan kelautan kita, nasib nelayan, bisnis-bisnis yang bermain di lahan basah ini, hingga persoalan konservasi serta upaya pengamanannya. Laut masih menjadi potensi yang belum tergarap secara memadai. Mari kita berlayar.

Gatra, 2 Januari 2006


[+/-] Baca Selengkapnya...

Hurricane: Mengganas di Atas Titik Panas

Senin, 03 Oktober 2005

Oleh Putut Trihusodo

Awan badai Hurricane makin dahsyat dan berbahaya. Frekuensi topan kategori ganas naik dari 10 ke 18 kasus per tahun. Kecepatan anginnya meningkat 50%. Titik-titik panas di laut menambah daya rusaknya.

MAU pilih Bianca, Katrina, atau Rita, sama saja. Semuanya bikin sengsara. Maklum, mereka adalah anak-anak kandung awan badai Hurricane yang disemai di perairan tropis Atlantik. Setelah tumbuh cukup besar, mereka bergerak ke arah utara, mengalami penguatan, lalu menebar petaka di pesisir selatan Amerika Serikat, seperti Texas, Lousiana, Alabama, dan Florida. Anak-anak badai ini bisa juga tiba-tiba menyerang pantai timur, mulai Georgia, South Carolina, bahkan hingga Massachussetts.

Topan badai Katrina, yang meluluhlantakkan daerah perbatasan Lousiana dan Texas selama dua hari, 29 hingga 30 Agustus lalu, yang disusul Rita tiga pekan kemudian, sungguh menjadi mimpi buruk bagi penduduk setempat. Kota New Orleans hancur lebur oleh terjangan angin, hantaman air bah, dan gulungan ombak. Bangunan-bangunan roboh, atap rumah terbang, bahkan pohon tercerabut dari akarnya dihantam angin berkecepatan 200 kilometer per jam.


Korban jiwa berjatuhan. Sekitar 450 orang tewas di Lousiana, dan hampir 150 orang lainnya di Texas. Sepertiga kawasan bencana tergenang. Kerugian materiil diperkirakan US$ 63 milyar. Itu baru akibat ulah Katrina.

Ketika Rita datang menyusul, New Orleans kembali tergenang. Tapi warga lebih waspada. Mereka berbondong-bondong mengungsi ke utara, daerah yang lebih aman. Korban bisa dimimalkan. Namun Rita tetap memberikan kerusakan ekstra bagi daerah-daerah yang baru ditinggalkan oleh saudarinya: Katrina.

Topan badai seperti bertubi-tubi menghantam pesisir selatan Amerika, Teluk Meksiko. Cuma dalam tempo tiga pekan antara Katrina dan Rita, sempat tumbuh lima awan badai lain di Laut Karibia, dan diperkirakan akan bergerak ke Teluk Meksiko. Angin yang ditimbulkan sudah melampaui 40 kilometer per jam. Meski belum tergolong Hurricane, awan badai itu sempat pula diberi nama resmi: Lee, Maria, Nate, Ophelia, dan Phillipe. Untunglah, kelimanya hancur secara alamiah sebelum tumbuh menjadi Hurricane.

Secara keseluruhan, sebelum Katrina datang, di Atlantik tumbuh 10 bibit awan badai. Semua sudah diberi nama, tapi hanya empat yang tumbuh jadi Hurricane. Itu pun kemudian buyar di tengah jalan. Juni-November memang musim badai, dan puncaknya Agustus-Oktober. Saat itu, Samudra Atantik, di perairan tropis Karibia, menjadi tempat bersemainya bibit-bibit awan badai. Di wilayah Pasifik, sumbernya di lepas pantai Meksiko.

Namun, dibandingkan dengan musim badai tahun-tahun yang lalu, Hurricane 2005 ini tergolong paling merusak. Sebagian ahli kemudian menunjuk biang keladinya: pemanasan global. Tudingan pun mengarah ke Presiden George W. Bush. Bukan saja dianggap tak cukup tanggap atas bahaya awan badai itu, ia juga dinilai tak peduli pada masalah seserius pemanasan global dan perubahan iklim.

Sampai hari ini, Amerika Serikat masih enggan meratifikasi Protokol Kyoto, komitmen mengurangi emisi gas rumah kaca. Konsumsi bahan bakar fosil --minyak bumi, gas alam, dan batu bara-- yang menjadi sumber utama membanjirnya gas residu, yang biasa disebut gas rumah kaca, ke atmosfer. Ujungnya, terjadi pemanasan global.

Istilah efek rumah kaca diterima secara luas karena gas-gas itu berlaku seperti genteng kaca: meneruskan radiasi gelombang panjang, tapi menahan inframerah menembus atmosfer bumi. Radiasi gelombang panjang itulah yang membuat atmosfer makin panas. Pada gilirannya, suhu air laut menjadi lebih hangat.

Secara rata-rata, kenaikan suhu air laut selama 1971-2000 cuma sekitar 0,25 derajat celsius. Kenaikan suhu udara cuma 0,5 derajat celcius selama seabad terakhir. Belum jelas betul pola perubahan iklim yang diakibatkannya. Namun di Atlantik muncul titik-titik panas (hot spot) yang temperaturnya 1,1-3,3 derajat celsius lebih tinggi dari rata-rata setempat pada periode 1971 hingga 2000.

Keprihatinan atas ancaman perubahan iklim itu diserukan oleh para aktivis lingkungan, termasuk bintang film dan penyanyi Barbara Streisand. "Kita kini dalam situasi darurat pemanasan global. Topan badai akan lebih sering terjadi, dan dengan intensitas yang makin dahsyat,'' ujarnya, seperti dikutip US Network Television.

Benarkah semua gara-gara global warming? Ada keraguan bahwa bencana di pantai selatan Amerika itu akibat pemanasan global. Alasannya, mengapa lonjakan badai hanya terjadi di Atlantik, kalau efeknya global kok tidak muncul di Pasifik atau di Laut Cina Selatan?

Lagi pula, mengapa baru terjadi tahun ini, sementara 10 tahun sebelumnya tidak banyak lahir Hurricane ganas, meski pemanasan global juga sudah berlangsung. ''Terlalu spekulatif mengaitkannya,'' kata Julian Heming, ahli atmosfer dari Badan Meteorologi Inggris, seperti dikutip BBCNews. Ia lantas mengingatkan, betapapun dahsyatnya Katrina dan Rita, rekor Hurricane 1935 masih belum terlampaui.

Katrina, Rita, dan Bianca (topan yang merusak pesisir Georgia tahun 1970-an) tumbuh seperti awan badai lazimnya. Formasi awan terbentuk karena ada pusat tekanan rendah di tengah laut. Massa udara mengalir dari daerah sekitarnya. Karena pengaruh rotasi bumi, aliran massa udara busur lengkung searah jarum jam, untuk wilayah hemisfer utara --dan arah yang sebaliknya di belahan bumi selatan. Uniknya, pertemuan massa udara dari pelbagai penjuru, yang masing-masing searah jarum jam, itu hasilnya justru jadi pusaran massa yang berlawanan dengan arah jarum jam.

Pusaran itu makin lama makin kuat, karena massanya kian besar. Uap air yang terbawa udara naik oleh pusaran udara kemudian mengembun karena suhu dingin di atmosfer atas. Proses pengembunan itu melepaskan panas (kalor), dan itu memberikan energi tambahan bagi awan badai itu untuk makin berkembang. Pada kasus Katrina dan Rita, awan badai itu terbentuk di Karibia, lalu bergerak ke Teluk Meksiko yang saat itu suhu airnya 3 derajat celsius di atas normal.

Pertumbuhan awan badai pun menjadi-jadi karena adanya tekanan rendah dan uap air ekstra di teluk itu. Maka, kekuatan kedua topan itu berlipat, lalu muncullah hujan deras, tiupan angin kencang, dan gulungan ombak yang menderu. Pada puncaknya, kecepatan pusaran angin Rita mencapai 282 kilometer per jam.

Judi Curry, direktur pada School of Atmospheric Sciences, Georgia Institute of Technology, Amerika Serikat, mengakui bahwa belakangan Hurricane makin kuat dan mematikan. Toh, ia mengakui pula, secara global frekuensi kejadian awan badai dari musim ke musim, selama 35 tahun dilakukan monitoring satelit, tak menunjukkan perbedaan signifikan. Selalu ada keseimbangan. Kalau frekuensi di Pasifik meningkat, di Atlantik menyusut. Namun porsi awan badai yang kuat dan merusak terus meningkat, dari 10 ke 18 kejadian pe tahun. Kecepatan anginnya pun secara rata-rata terkerek 50%.

Yang membuat intensitas badai itu meningkat, menurut Curry, adalah munculnya titik-titik panas di laut, seperti di Teluk Meksiko itu. Kondisi ini seperti memberikan bahan bakar jet bagi turbin Hurricane. Ia tak mau berspekulasi tentang hubungan Hurricane dan perubahan iklim, karena tak ada bukti yang komprehensif. Seperti pakar yang lain, ia cuma berpesan, kalau keseimbangannya terganggu akibat ulah manusia, alam akan mengembalikannya dengan caranya sendiri. Termasuk melepas energinya dalam bentuk badai topan.

Putut Trihusodo

Katrina Mungkin Takkan Kembali

DARI 21 nama yang tersedia untuk Hurricane produksi Atlantik 2005, sebanyak 17 telah terpakai. Yang pertama Arlene, lalu Bret, Cindy, sampai Katrina hingga Rita yang ke-17. Nama-nama ini diberikan secara resmi oleh sidang Organisasi Meteorologi Dunia (WMO). Tujuannya, mempermudah komunikasi petugas pemantau cuaca dengan masyarakat. Maklum, kadang ada dua awan badai yang tumbuh bersamaan di tempat terpisah. Keduanya perlu nama sendiri.

Sejak 1979, WMO selalu membuat daftar nama topan itu dengan siklus enam tahunan. Setiap tahun didaftar 21 nama, dua pertiga perempuan, sepertiga nama laki-laki. Semuanya nama depan. Daftar nama 2005 itu adalah pengulangan 1999. Pola yang sama diterapkan untuk awan badai Pasifik. Namun kemungkinan nama Katrina dan Rita tak akan dipakai lagi pada 2011. Bila ternyata melahirkan Hurricane ganas, nama-nama itu dipensiunkan, seperti Alicia, Carol, Marilyn, dan Roxane.

Tradisi memberi nama topan badai itu sudah lama ada. Para pelaut Puerto Riko, misalnya, melakukannya dengan mencomot nama orang suci, seperti Santa Ana atau San Felipe. Yang pertama menyebut topan dengan nama perempuan adalah orang-orang Australia, akhir abad ke-19. Setelah itu, penyebutan nama tak mengikuti pakem yang jelas. Baru kemudian, pilot-pilot Perang Dunia II memopulerkan kembali nama perempuan.

Adalah Pemerintah Amerika Serikat yang memelopori penamaan resmi itu untuk keperluan pelayanan prakiraan cuaca 1953. Ketika itu, Amerika hanya mengambil nama-nama depan perempuan. Baru pada 1979, penamaan ini diorganisasi lebih rapi. Begitu muncul awan badai besar dengan kecepatan angin di atas 50 kilometer per jam, nama pun disematkan. Aturannya mengikuti abjad. Badai pertama menyandang nama dengan huruf depan A, yang kedua B, dan seterusnya. Namun huruf Q, U, X, Y, dan Z tak dipakai, karena juga jarang dipakai untk mengawali nama depan.

Hurricane adalah awan badai berukuran besar. Berbeda dari Tornado yang skalanya sangat lokal dengan lebar awan kurang dari 1 kilometer. Hurricane juga dibagi menurut kekuatannya. Kategori I adalah yang punya kecepatan angin 74-95 mil per jam. Kategori II 96-110 mil per jam, kategori III 111-130 mil per jam, kategori IV 131-155 mil per jam, dan kategori V di atas 155 mil per jam. Pada kategori V, awan badai ini bisa menimbulkan gelombang laut setinggi 5,4 meter.

GATRA, 3 Oktober 2005

[+/-] Baca Selengkapnya...

Virus Terbang Bersama Angin

Senin, 26 September 2005

Putut Trihusodo

WABAH flu burung tiba-tiba berjangkit di Ragunan. Sebanyak 19 ekor burung koleksi kebun binatang di Jakarta Selatan itu dinyatakan positif terinfeksi virus H5N1, strain (galur) paling ganas dari keluarga Orthomyxoviridae. Serangan virus ini menimpa beo kecil, bangau tongtong, burung bluek, belibis mandarin, merak hijau, ayam kate, dan sejumlah satwa langka lainnya. Sungguh mengagetkan, virus ganas itu sudah menerobos ke pusat keramaian, tempat rekreasi rakyat.

Hari berikutnya, pasien yang diduga terjangkit virus avian influenza (AI), demikian flu burung ini disebut, membanjir ke Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso di Jakarta Utara. Sampai akhir pekan lalu, tercatat ada 18 pasien yang dirawat di RSPI tersebut, lima di antaranya pengunjung Kebun Binatang Ragunan. Dua lainnya memang anggota komunitas tempat rekreasi itu. Yang satu karyawan, dan yang lain pedagang asongan di situ. Dari jumlah ini, dua di antaranya positif terkena AI.


Secara nasional, angka suspect penderita flu burung 28 orang. Mereka berasal dari Bekasi, Tangerang, Jakarta, Medan, Makassar, serta Samarinda. Dua orang suspect meninggal dan dipastikan karena infeksi H5N1. Dua lainnya tewas dan secara klinis menderita gejala mirip serangan AI, tapi hasil tesnya negatif. Dua korban fatal lagi meninggal dengan hasil tes negatif, dan kemungkinan karena pneumonia biasa.

Pemerintah pun menetapkan status KLB (kejadian luar biasa). Indonesia juga resmi termasuk dalam kelompok 12 negara yang kini ada di bawah ancaman AI, misalnya Cina, Korea Selatan, Jepang, Vietnam, Thailand, lalu belakangan ke Kazakhstan dan Rusia. Tak di semua negara, korban jiwa manusia jatuh. Yang terberat ialah Vietnam. Sebanyak 40 orang tewas dari 90 korban yang terinfeksi. Kini flu burung dianggap sebagai ancaman pandemik, wabah berskala sangat luas dengan akibat yang hebat.

Angsa dari Qinghai

Dari mana flu burung itu datang? Muncul anggapan, virus itu masuk Ragunan dibawa burung-burung migran yang singgah ke kerimbunan pepohonan di kebun binatang itu. Teori penyebaran oleh burung migran ini memang dipercaya banyak orang, hingga ia kini dianggap sebagai ancaman global.

Pemerintah Amerika Serikat mencemaskannya. Ketika membawakan pidatonya di depan Sidang Umum PBB, pertengahan September lalu, Presiden George W. Bush menyinggung soal ancaman flu burung yang disebutnya bisa jadi pandemi pertama di abad ke-21 ini. ''Kita tak boleh membiarkannya terjadi,'' katanya. Ia lantas menawarkan kerja sama internasional untuk menangkal wabah ini.

Departemen Pertanian Amerika sendiri telah mencermati penyebaran virus H5N1 itu sejak 1998, setahun setelah virus ini muncul di Hong Kong. "Direktorat" Wildlife Desease, yang berada di bawah Departemen Pertanian Amerika (USDA), terjun memonitor burung-burung Alaska yang pada setiap musim dingin bermigrasi ke Asia dan Amerika Latin dengan memanfaatkan tiupan angin, mencari tempat yang lebih hangat. Selama tujuh tahun, 12.000 ekor diperiksa. Hasilnya, tak satu pun kedapatan terinfeksi H5N1.

Namun para pejabat USDA tidak mengesampingkan kemungkinan bahwa cepat atau lambat virus ganas itu akan menembus Amerika. Cuma soal waktu. Bisa lewat angsa liar yang ternyata tidak imum terhadap virus ini, atau ekspor-impor daging ayam dan babi. Tak mengherankan bila Presiden Bush pun cepat-cepat membunyikan alarm.

Fakta bahwa burung migran itu menjadi agen penyebaran virus itu dilaporkan Guan Yi dan tim virologisnya dari Universitas Hong Kong. Lewat jalur tidak resmi, ia bisa mendapatkan hampir 100 sampel burung Danau Qinghai yang kedapatan mati, musim semi Mei lalu. Qinghai merupakan danau air asin besar, terletak di ketinggian hampir 3.000 meter di pedalaman Cina Tengah. Dari spesimen burung Danau Qinghai itu, Guan Yi mendapatkan bukti bahwa virus H5N1 telah menjadikan burung-burung migran itu sebagai inang sekaligus korbannya.

Laporan Guan Yi di buletin sains terbitan Inggris, Nature, edisi 7 Juli 2005 itu makin menyebarluaskan kecemasan. Betapa tidak, dari Danau Qinghai, komunitas burung migran yang jenisnya ratusan itu secara reguler terbang jauh ke Mongolia, Vietnam, India, Asia Tenggara, Kazakhstan, Danau Kaspia, bahkan ke Australia dan Selandia Baru.

Dari riset lanjutannya, Guan Yi juga menemukan ada 250 subtipe virus H5N1. Celakanya, yang kini berkembang di Qinghai, dan kemungkinan akan menyebar pada musim dingin mendatang, adalah subtipe yang ganas. Itu yang dilaporkan tim George Gao dari Institut Mikrobiologi Beijing di buletin Science. Virus itu bersarang pada kelompok angsa yang tiap musim dingin berkelana ke daerah Asia Tengara. Dalam uji lab, virus itu sangat mematikan, baik pada ayam potong maupun tikus.

Virus memang cepat beradaptasi, pun bermutasi secara genetik. Bahkan ia bisa melakukan swap, saling bertukar gen. Meski mutan ini umumnya tak cukup tangguh untuk survive, ada peluang walaupun kecil swap ini berhasil. Teori ini yang menjelaskan mengapa ia bisa berpindah dari burung liar ke ternak unggas, juga sebaliknya, lantas beradaptasi ke tubuh mamalia, termasuk manusia.

Toh, sejauh ini, penularan AI tidak pernah dilaporkan terjadi dari manusia ke manusia. Jalur penularan yang lazim ialah melalui kotoran burung yang terinfeksi. Kotoran itu mengering, pecah menjadi serpihan, terhambur oleh tiupan angin, lalu masuk terhirup oleh pernapasan manusia. Bisa juga lewat jalur konsumsi daging unggas dan mamalia inang yang tak diolah secara memadai. Flu burung tak perlu sayap untuk penularannya.

Memang ada kekhawatiran, virus AI ini akan melakukan swap dengan virus influenza biasa yang membuat penularannya bisa langsung dari manusia ke manusia --melalui bibit yang terlontar saat orang batuk atau bersin. Namun, tanpa harus jadi virus super pun, AI sudah cukup menularkan kecemasan kepada Michael Ostherholm, Direktur Center of Infectious Desease Universitas Minnesota, yang juga pejabat Departement of Homeland Security Amerika Serikat. Ia mengingatkan, isu H5N1 itu bukan soal kemungkinan kejadiannya. ''Ini soal kapan, di mana, dan seberapa parah,'' katanya.

Pandemi Global

Sebagai pakar kesehatan, Michael Ostherholm tentu tak bisa menyepelekan influenza. Sejarah mencatat, wabah virus flu Spanyol 1918 menjangkiti 30% penduduk bumi dan menimbulkan kematian pada 100 juta insan! Itu terjadi hanya dalam tempo 24 pekan.

Digambarkan Time, 26 September 2005, saat wabah flu Spanyol itu menyerang, kota Philadelphia, Amerika, dipenuhi tumpukan jenazah yang sudah berhari-hari tak sempat dievakuasi. Pada saat yang sama, kota Cape Town di Afrika Selatan sibuk melakukan penguburan massal para korban influenza.

Namun wabah influenza berikutnya tidak sedahsyat tragedi 1918. Wabah flu Asia yang merebak pada 1957 "hanya" merenggut dua juta jiwa. Kemudian flu Hong Kong yang merajalela tahun 1968 meminta korban satu juta. Tren penurunan korban yang signifikan. Begitu pula ketika wabah SARS (severe acute respiratory syndrome) merebak pada 2003, menurut Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, korban jiwa "hanya" sekitar 507 orang, dari 7.400 orang yang diduga terinfeksi oleh virus ini.

Dibandingkan dengan virus corona, penyebab SARS, virus AI tipe H5N1 lebih ganas. Gugus H (hemaglutinin) dan N (neuramidase) mampu menginfeksi organ saluran pernapasan bagian bawah manusia dan merusaknya. Tingkat kematian pada penderita flu burung bisa 45% di Vietnam. Mortalitas SARS masih di bawah 10%. Namun jalur penularan SARS lebih gawat: dari orang ke orang. Ledakan SARS jilid kedua bisa dicegah setelah Pemerintah Cina memburu dan mengisolasi musang liar, hewan yang dari penelitian Guan Yi di Hong Kong terbukti sebagai inang paling potensial.

Kedua virus itu juga punya kesamaan: lahir di Cina Selatan. Begitu pula dengan flu Asia dan flu Hong Kong. Daerah berpenduduk padat di Cina Selatan itu mengalami pergolakan ekologis berat, suasana yang memberi peluang lahirnya mutan berbahaya.

Menghadapi kemungkinan ledakan wabah flu burung, dunia internasional lebih siap. Pelbagai vaksin sudah disiapkan, meski keampuhannya harus berlomba dengan kecepatan virus bermutasi dan beradaptasi. Beberapa obat, semisal Tamiflu, efektif menghambat pertumbuhan virus. Mungkin, seperti SARS, pandemi flu ini tak akan seakut flu Hong Kong atau flu Asia dulu.

Namun, dalam tatanan ekonomi global saat ini, seperti pada SARS, wabah kecil pun mampu membuat kerugian besar, US$ 40 milyar, Rp 400 trilyun, hanya untuk kawasan Asia Pasifik. Mahal, memang. Kesulitan itulah yang kini dihadapi Indonesia, negeri yang sedang sibuk memangkas subsisdi BBM demi menyelamatkan anggaran. Kini pemerintah terus menyiapkan langkah-langkah pencegahan dan penanganan.

Toh, kecemasan tak mudah hilang. Kecemasan yang sama juga melanda negara maju dan kaya seperti Amerika. Departemen Kesehatan Amerika Serikat tak punya resep cespleng guna meredam kekhawatiran warganya. Mencegah migrasi burung tak mungkin. Padahal, 20% warga Amerika rentan terhadap influenza setiap perubahan musim. Resep yang ditawarkan akhirnya, ya, kembali ke pertahanan individual. Hidup sehat dan memelihara kebugaran badan. Itu cara paling mudah dan murah menghadapi ancaman virus ganas ini.

GATRA, 26 September 2005


[+/-] Baca Selengkapnya...

Koeli Kontrak di Kebun Tebu

Senin, 15 Agustus 2005

Sistem ekonomi kolonial tak cuma meninggalkan kemelaratan. Juga membawa budaya cocok tanam, sistem uang, dan budaya industri. Sistem perkebunan dan pertanian masa kemerdekaan terbukti tak lebih baik daripada masa kolonial.
***********
SEJARAH ekonomi Nusantara di zaman kolonial adalah sebuah buku yang sarat dengan catatan paradoksal. Pada satu sisi, pemerintah kolonial Hindia Belanda telah berhasil membangun kekuatan ekonomi besar yang berbasis usaha perkebunan. Di penghujung tahun 1930-an, lahan perkebunan yang menghampar di Oost Indie tak kurang dari 2.500.000 hektare. Sebagian besar di Jawa dan Sumatera. Ada kopi, teh, tebu, karet, tembakau, dan segala jenis komoditas lain. Ketika itu, Hindia Belanda adalah pemain dunia untuk komoditas perkebunan.

Organisasi ekonomi modern juga telah terbentuk. Bank-bank bertebaran. Pasar modal sudah beroperasi. Perusahaan multinasional pun ikut meramaikan panggung bisnis Hindia Belanda. Insfrastruktur yang ada cukup memadai untuk mendukung kegiatan ekonomi berskala besar. Pelabuhan-pelabuhan siap melayani bongkar muat kapal. Jalur kereta api merentang 6.811 kilometer panjangnya.

Sektor industri dan perdagangan tumbuh. Daerah Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo sudah dirintis menjadi daerah industri. Tak hanya pabrik sabun dan kecap yang hadir di sana. Ada juga industri peleburan baja, semen, dan keramik. Dibandingkan dengan negeri jiran seperti Malaysia dan Thailand, jelas Hindia Belanda telah melangkah dua-tiga tindak di depan.


Namun, di sisi lain, hiruk-pikuk kegiatan ekonomi itu jauh dari niat memakmurkan rakyat. Warga pribumi tetap miskin dan rombeng. Statistik 1930 menunjukkan, dari pendapatan "nasional" Hindia Belanda yang mencapai sekitar 670 juta gulden ketika itu, 59,1 juta warga bumiputra hanya memperoleh porsi 3,6 juta gulden (0,54%). Penduduk "Asia lainnya", terutama Tionghoa, yang populasinya 1,3 juta, meraup 0,4 juta gulden. Sedangkan bagian terbesar, 665 juta gulden (99,4%), dikuasai warga kelas wahid kulit putih yang cuma berjumlah 241.000 jiwa.

Orang-orang Belanda datang dari seberang lautan memang bukan untuk memakmurkan warga boemipoetera di negeri Nusantara. Motif mencari kejayaanlah yang membawa ekspedisi dagang orang-orang Belanda ke Kepulauan Nusantara, yang dirintis Cornelis de Houtman. Armada laut berkekuatan empat kapal ini mendarat di Banten pada 1596, dengan napak jalur pelaut Portugis, Vasco da Gama, yang datang seabad sebelumnya.

Ketika itu, memang era kebangkitan bangsa kulit putih Eropa, setelah membebaskan diri dari zaman kegelapan sejarahnya melalui revolusi pemikiran, renaisans. Rasionalitas menjadi kompas bagi akal budi bangsa Eropa. Mereka lantas berlomba-lomba menaklukkan alam, menguasai dunia. Negeri-negeri Timur, drngan kekayaan rempah-rempah, emas, dan sutra, menjadi incaran. Apalagi, trayek tradisional, melalui "jalur sutra" tradisional, telah tertutup seiring penguatan Kesultanan Turki yang telah merebut Konstantinopel.

Mula-mula para pelaut Portugis dan Spanyol-lah yang menguasai alur pelayaran ke Asia. Belanda tidak mau ketinggalan. Ekspedisi De Houtman itulah yang mengawali kedatangan armada-armada Belanda. Rupanya, Kepulauan Nusantara dianggap sebagai lahan bisnis yang menarik. Maka, para saudagar Belanda itu kemudian menghimpun diri dalam VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) yang dibentuk pada 20 Maret 1602 di Amsterdam. VOC menjadi perserikatan maskapai. Ia mulai menancapkan pengaruh di Banten pada 1603, lalu ke Ambon tahun 1605.

Perserikatan dagang itu, tutur Prof. Dr. Suhartono, sejarawan dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, bukanlah murni organisasi dagang swasta, separuh badan pemerintah. "Maka, ia punya hak-hak istimewa," katanya. Dalam lima tahun saja, VOC punya 15 armada, dengan kekuatan 65 kapal, yang berbasis di Pelabuhan Rotterdam, Amsterdam, dan Middelburg.

Hak-hak istimewa VOC antara lain membuat kontrak, membangun kekuatan militer, dan boleh mencetak mata uang. Mereka bekerja di Afrika Selatan, India, Malaka, dan seluruh pelosok Nusantara. Sejak VOC beroperasi, muncullah dualisme sistem ekonomi: ada sistem ekonomi kolonial dan kemudian sistem ekonomi pribumi. Tapi, dalam perkembangannya, ekonomi kolonial dengan VOC-nya mencaplok sistem ekonomi pribumi yang nyaris tanpa organisasi.

Pada awalnya, VOC menjalankan usaha dagang rempahnya dengan cara barter ke penduduk pribumi. Namun, tak lama kemudian, ia secara sepihak mengambil langkah monopoli. VOC menjadi satu-satunya pembeli komoditas pribumi, dan satu-satunya pula yang menjual ke pihak lain. Untuk urusan inilah, kekuatan militer mereka perlukan. Benteng-benteng serdadu lalu bermunculan di kota-kota pesisir di Jawa, Sumatera, bahkan hingga Ternate, Tidore, Ambon, dan Banda.

Benteng-benteng bermeriam itu bisa dipakai untuk menjalankan dua misi sekaligus, untuk tempat mengepul barang sekaligus kekuatan penekan untuk menggaet kontrak eksklusif dari penguasa setempat. Untuk melemahkan penguasa yang tak mau tunduk pada proposal bisnisnya, VOC tidak segan menggunakan cara militer atau praktek memecah belah.

Pada masa itu, sejumlah penguasa yang tak sudi tunduk memilih melawan. VOC tak terkalahkan. Namun ia harus membayar ongkos besar untuk membiayai peperangan. Belum lagi, monopolinya itu mengundang keributan dengan pedagang dari Portugis, Spanyol, dan Prancis. VOC keteter dan tumbang. Era itu ditandai oleh hilangnya hak monopoli cengkeh di Ambon karena ekspansi Prancis, 1769-1772. Akhirnya, pada 1799, VOC dinyatakan bangkrut. Pasalnya, di saat situasi sulit itu, ia semakin kedodoran karena krisis keuangan.

M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern mencatat bahwa personel VOC pada tahun terakhir makin tak bermutu. Banyak di antara mereka direkrut dari orang-orang tidak terpelajar, petualang, preman, bahkan gelandangan. Hasilnya adalah aparat yang tidak becus, korup, nepotis, dan tukang mabuk.

Setelah VOC bubar dan sebentar diambil alih Prancis dan Inggris, administrasi Hindia Belanda dipegang Nederland langsung. Namun, sebelum bubar, kongsi dagang ini sempat membuka perkebunan teh dan kopi di dataran tinggi Tangkuban Perahu, Priangan, wilayah yang hingga kini masih kesohor sebagai penghasil java coffee.

Meski singkat, gaya kekuasaan Prancis dan Inggris di Jawa memberi dampak besar bagi sistem ekonomi kolonial di Hindia Belanda. Thee Kian Wie, peneliti senior ekonomi LIPI dan sejarawan ekonomi Indonesia, menyebut masa itu sebagai periode yang mengubah wajah Jawa. Periode pembaruan. Pada masa Marsekal Herman Willem Daendels sebagai gubernur jenderal, perpaduan antara pembaruan dan kediktaktoran diterapkan bareng.

Hasilnya adalah Jalan Raya Pos (Groote Postweg) yang membentang 1.000 kilometer dari Anyer ke Panarukan. Waktu tempuh yang dulu 40 hari diirit jadi enam hari. Dia juga berusaha memberantas korupsi dan penyelewengan dalam administrasi Eropa. Kedudukan Daendels pun pada 1811 digantikan Jan Willem Jansens. Namun, tak lama kemudian, Prancis kalah dari Inggris. Hegemoninya diambil alih Inggris.

Di bawah Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles, menurut Thee, banyak sekali dilakukan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahun. Kebun raya di Bogor dan penemuan bunga langka terbesar dengan nama Rafflesia Arnoldi adalah jejak karya Raffles. Ia juga melakukan sensus pertama kali dan memberlakukan kebijakan sewa tanah. Pedagang swasta asing tak bisa membeli tanah pribumi, hanya boleh sewa.

Pemerintahan Raffles cuma bertahan lima tahun. Hindia Belanda kembali jatuh ke Nederland. Raffles kecewa karena sudah jatuh hati pada tanah Jawa. Untuk mengobati rasa kecewanya, Raffles habis-habisan membangun Singapura sebagai kota transit, yang ternyata di kemudian hari menjadi kota terpenting di Asia Tenggara.

Kembali di bawah Belanda, ekonomi kapitalis kolonial kian menjadi-jadi. Apalagi, keuangannya terkuras oleh Perang Jawa 1825-1830 (Diponegoro). Pemerintah Hindia Belanda semakin otoriter. Sistem sewa tanah dihapus oleh Gubernur Jenderal Van den Bosch, diganti dengan pola yang lebih eksploitatif: cultuur stelsel, perkebunan negara, program yang lebih kondang dalam istilah tanam paksa.

Lahan pertanian yang tak dilindungi oleh bukti kepenguasaan diambil paksa oleh pemerintah Hindia Belanda. Petani pribumi pemilik lahan diwajibkan menyediakan seperlima lahannya untuk budi daya tanaman ekspor titipan pemerintah. Semua kerbau dan sapi harus dikerahkan untuk membantu program tersebut. Petani juga masih diwajibkan bekerja tanpa dibayar di perkebunan selama 66 hari setiap tahunnya.

Tentu, biaya produksi tebu, kopi, dan tembakau tanam paksa itu sangat rendah. Sangat kompetitif. Hindia Belanda serta-merta menjadi produsen penting di pasar dunia. Hindia Belanda kaya raya, dan bisa menyetor 72% dari pendapatan pemerintah kerajaan di Nederland. Dari situ pula, investasi jalan kereta api, pabrik gula, dan pelbagai infrastruktur dibiayai.

Perkebunan "tanam paksa" itu, menurut guru besar sejarah Universitas Gadjah Mada, Prof. Soegijanto Padmo, diusahakan dengan tangan besi. Para buruh dikontrol ketat, meski mereka tak dibayar. ''Masuk dan selesai kerja harus tepat waktu. Sedangkan pada lahannya tak boleh ada tumbuhan lain kecuali yang diinginkan Belanda,'' katanya. Yang turut terciprat duit cultuur stelsel adalah penguasa pribumi dan para mediator warga Asia Timur.

Tanam paksa itu secara berangsur berakhir pada 1870, seiring munculnya tekanan dari kaum liberal di Belanda dan mengemukanya wacara politik etis (balas budi). Tapi, tanah-tanah perkebunan itu tak kembali menjadi ke petani. Karena investor swasta mengambil alih kepemilikan pemerintah Hindia Belanda. Mereka bahkan bisa menyewa "lahan negara" itu sampai 75 bahkan bisa 100 tahun. Toh, rakyat sedikit tertolong. Pihak swasta mempekerjakan mereka dengan upah, meski pas-pasan.

Walau sebagian kelompok penguasa pribumi ikut kecipratan booming tebu, tembakau, dan kopi, toh hanya segelintir dari mereka yang bisa tumbuh jadi borjuis lokal. Sempat keluarga Mangkunegaran, salah satu wangsa Mataram di Solo, ikut masuk ke bisnis tebu, memanfaatkan posisi kuat Hindia Belanda sebagai si raja gula dunia. Mangkunegaran membangun kebun dan pabrik gula. Namun bisnis itu tidak terlalu berhasil. Ada persoalan manajemen dan modal.

Menjelang akhir abad ke-19, desakan politik etis makin kuat. Pemerintah Hindia Belanda meresponsnya dengan tiga program: edukasi, irigasi, dan transmigrasi. Sekolah rakyat dibuka. Saluran air dibangun dan warga miskin di Jawa dikirim ke luar pulau, bahkan sampai ke Suriname nun jauh di Amerika Latin.

Memang program baru itu memicu pertumbuhan. Produktivitas lahan, terutama di Jawa, meningkat tajam. Tapi, ujung-ujungnya, yang untung adalah perkebunan besar (onderneming) juga. Air irigasi lebih banyak dinikmati onderneming-onderneming itu. Sawah ladang petani dilewati saja. Anak-anak lulusan sekolah rakyat pun terserak di perkebunan besar, mengisi pos-pos tenaga terampil.

Apa pun, tumbuhnya perkebunan itu semakin memberi tempat bagi ekonomi uang. Para petani, baik yang memiliki tanah (kuli kenceng) maupun yang tidak berlahan (kuli kendo), berbondong-bondong bekerja sebagai kuli kasar di perkebunan karena tergiur menerima upah uang. Sistem ekonomi uang pun menggeser sistem pertanian subsisten. Namun, menurut Suhartono, pengajar sejarah sosial politik di Universitas Gadjah Mada, tak semua kuli bernasib serupa. ''Yang paling tereksploitasi adalah para buruh di industri tebu," ujarnya.

Tanaman tebu perlu perawatan lebih panjang. Tanam sampai panen perlu waktu 11 bulan. ''Para buruh di kebun tebu hampir tak punya waktu untuk menggarap lahan sendiri,'' kata Suhartono. Selain itu, di daerah perkebunan, berbagai penyakit seperti kolera, disentri, dan kudis mewabah. Kondisi itu kadang diperparah oleh kelaparan. Namun kaum kolonialis tutup mata.

Meskipun sistem tak berpihak pada rakyat, menurut Soegijanto Padmo, tatanan itu juga memberi andil atas tata perekonomian nasional era sesudahnya. Perkebunan, misalnya, mendekatkan masyarakat pada budi daya pelbagai tanaman ekspor. Secara umum, desa-desa yang dekat dengan industri perkebunan akan lebih maju dibandingkan dengan desa di luar perkebunan. Bahkan, menurut dosen sejarah pedesaan di Universitas Gadjah Mada itu, praktek ekonomi penjajah juga memberi andil bagi perekonomian saat ini, dengan mewariskan pelbagai infrastruktur penting, seperti jalur kereta api dan jalan-jalan raya di pedalaman.

Soegijanto menilai, justru pada masa kemerdekaan ini secara umum daya saing sektor perkebunan mengalami kemunduran. Penyebabnya, menurut dia, ketidakbecusan manajemen barunya menjaga disiplin, profesionalitas, dan akuntabilitas segenap jajarannya. Hasilnya, rantai produksi tidak cermat terkendali. Ia mencontohkan perkebunan tembakau di selatan Prambanan, Klaten, yang tak terawat baik. Kebun seperti dibiarkan diserang ulat dan ditumbuhi rumput. Akibatnya, produktivitas dan kualitasnya menurun. Ujungnya, harganya jatuh.

Wajah pucat dan merana perkebunan negara itu gampang dilihat di mana-mana. Terutama di kebun-kebun yang menghasilkan komoditas "tradisional" seperti kopi, tembakau, teh, serta karet. Keluarga buruhnya nyaris sama buruknya dengan para koeli kontrak hampir seabad lalu. Yang dulu mending. Meski buruhnya compang-camping, manajemennya keren, produksinya punya daya saing.

Fakta runtuhnya produksi perkebunan dan pertanian zaman kemerdekaan itu, tutur Suhartono, tak bisa ditutupi. Masyarakat Indonesia kurang memproduksi sesuatu. "Padahal, yang dikoporasikan dalam dunia global adalah produk," katanya.

Tak mudah untuk bangkit kembali. Tapi, di balik kerimbunan semak di kebun-kebun tua itu, masih terbaca pelajaran lama, warisan kaum penjajah, tentang bagaimana membangun disiplin, bekerja cermat, akuntabel, dan visioner. Ini tak berhubungan dengan kolonialisme.

Putut Trihusodo, G.A. Guritno, Ajeng Ritzki Pitakasari
Gatra, 15 Agustus 2005

[+/-] Baca Selengkapnya...