Tampilkan postingan dengan label Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lingkungan. Tampilkan semua postingan

Kisah Setangkai Daun

Kamis, 22 November 2007


Adalah keajaiban daun yang mengendalikan aliran energi dalam kehidupan biosfer di muka bumi ini. Dia yang memberi kesempatan pada banyak jenis makhluk hidup untuk bernapas dan berbiak melanjutkan eksistensi spesiesnya. Kuncinya adalah kalori dalam rantai makanan.

Kalori yang mengalir dari satu mata rantai ke mata rantai yang lain itu awalnya berangkat dari setangkai daun –yang dalam arti luas merujuk pada organ, jaringan, atau individu sel tunggal yang berklorofil. Tak ada substansi lain yang bisa memetik energi surya secara langsung, dan kemudian membawanya ke sistem rantai makanan, kecuali daun.


Di dalam sel-sel daun ada mekanisme yang luar biasa pada saat sinar matahari datang menerpa. Dalam tempo hanya sepersekian juta detik, energi foton matahari tadi berpindah posisi, berubah bentuk, menjadi energi kimia dalam sejumlah molekul katalisator. Dengan sigap mereka membongkar molekul air, menghasilkan oksigen (O2) yang dilepas ke udara dan atom hidrogen bebas yang siap menjalani reaksi lanjutan.

Di saat bersamaan, stomata daun membuka tutup seperti pintu mal, untuk memastikan bahwa karbon dioksida (CO2) dari udara masuk dalam rangkaian reaksi dalam jumlah yang tepat. Dalam sel-sel daun itu pula, katalisator dan hidrogen bebas menggandengnya. Reaksi kimia berlangsung lagi, kali ini tanpa melibatkan energi matahari.

Dalam kecepatan yang juga luar biasa, reaksi kedua ini (disebut fotositesis gelap) menghasilkan senyawa organik tingkat pertama, C-H-O, dengan tiga atau empat karbon, yang menjadi bahan dasar organik yang lebih stabil: gula atau lemak.

Begitulah dedaunan menjalankan tugas sejak fajar menyingsing hingga matahari terbenam. Hasilnya, bahan organik berlimpah, bahkan melampaui kebutuhan rantai makanan itu sendiri. Proses dekomposisi oleh segala macam mikroba tak membuat seluruh limbah bahan organik itu habis. Nyatanya, terbentuklah lapisan organik dalam tanah, muncul lahan gambut, dan deposit organik lainnya. Semuanya masih menyimpan energi kimia yang asal-muasalnya dari cahaya matahari.

***

Planet bumi pun menjalani evolusinya sendiri sejak tercipta oleh ledakan besar, Big Bang, sebagai gumpalan gas, 6 milyar tahun lalu. Bumi mendingin dan memadat. Daun pertama, juga makhluk pertama di bumi ini, lahir dalam bentuk sel-sel tunggal berklorofil, 2,4 juta tahun lalu. Ia berevolusi seiring dengan evolusi geologi bumi itu sendiri. Bahkan, menurut para ilmuwan, 350 juta tahun silam muncul hutan raya generasi pertama di muka bumi ini.

Evolusi bumi berjalan, diwarnai pelbagai peristiwa geologis yang mendeformasi lapisan bumi. Lempeng-lempeng bergeser, naik dan turun. Di banyak tempat, hutan dan belukar terkubur batuan. Selama berjuta tahun di sana, dengan pemanasan sekitar 82 derajat celsius, bahan organik di kedalaman 2.500 meter itu berubah menjadi minyak. Yang terjerat lebih dalam, sampai 5.000 meter, dengan pemanasan sampai 154 derajat celsius, berubah bentuk menjadi gas. Dalam perkembangannya, minyak dan gas bumi itu cenderung mengalir dari tempat semula dan terjebak di dalam patahan-patahan lapisan bumi.

Toh, masih banyak material organik yang terserak begitu saja di dekat permukaan bumi. Mereka juga mengalami proses sendiri, melapuk, memfosil menjadi batu bara.
Bukti arkeologis menunjukkan bahwa para tentara pendudukan Romawi di Inggris telah membakar batu bara pada abad kedua dan ketiga Masehi. Penemuan mesin uap pada awal Revolusi Industri membuat pembakaran batu bara melonjak. Minyak bumi sendiri kali pertama diproduksi sebagai komoditas di Titusville, Pennsylvania, Amerika Serikat, 1959, oleh Edwin L. Drake. Dalam waktu singkat, dia menjadi kalori yang menggerakkan peradaban. Belakangan, gas bumi disedot pula sebagai sumber energi.

***

Hanya kurang dari 150 tahun, menurut Jeremy Leggett, dalam bukunya, Half Gone (2006), 920 milyar barel minyak bumi ludes dipompa dari perut bumi. Ia lebih percaya pada angka 780 milyar barel sebagai angka cadangan yang masih tersisa, ketimbang 1.147 milyar barel deposit seperti yang sering disebut para juragan minyak bumi. Namun, sekiranya angka 780 milyar barel itu benar, itu pun cukup untuk membuat atmosfer bumi bertambah buruk karena penumpukan residu CO2 dari proses pembakarannya. Belum lagi residu dari pembakaran batu bara dan gas.

Padahal, sejak akhir abad ke-19 silam ilmuwan Swedia, Svante Arrhenius, mewanti-wanti dunia industri supaya menahan diri dalam mengonsumsi bahan bakar fosil. Pemakaian yang berlebihan akan membuat CO2 menumpuk di udara dan menyebabkan pemanasan global. Toh, baru 20 tahun terakhir masyarakat dunia serius mencari jalan untuk mereduksi emisinya karbonnya. Bahkan baru 10 tahun belakangan langkah-langkah nyata mitigasi (penanggulangan) dilakukan, dengan atau tanpa kesertaan Amerika Serikat, negara yang paling rakus mengonsumsi bahan bakar fosil tapi bersikeras menolak mengurangi emisinya.

Pelbagai skema pun dijalankan. Ada kecenderungan, di negara-negara maju, pemakaian bahan bakar fosil kini semakin efisien. Tapi itu semua tidak cukup untuk menahan kenaikan konsentrasi CO2 dan gas-gas lain yang menimbulkan efek pemanasan global. Maka, salah satu agenda Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim Ke-13 di Bali, 3-14 Desember ini, adalah menelurkan protokol baru untuk memanfaatkan hutan-hutan tropis sebagai gudang penyimpanan CO2.

Dalam skema sebelumnya, hal-ihwal pengaturan pemanfaatan hutan tadi dianggap belum cukup memadai. Padahal, dengan keajaiban di dedaunannya, kawasan hutan, seperti halnya lautan, diyakini akan banyak memberi kontribusi dalam mitigasi melawan pemanasan global.

Hutan pun kembali menjadi sorotan, juga harapan. Bisakah hutan menyelamatkan dunia dari gejala perubahan iklim? Mampukah dedaunan hutan itu menyerap habis gas CO2 yang disemburkan jutaan cerobong pabrik, ratusan juta knalpot mobil dan sepeda motor, ribuan pembangkit listrik (yang memakai bahan bakar minyak, gas, atau batu bara)? Belum lagi ribuan sumber emisi karbon lainnya.

Di atas kertas, jelas hutan akan kewalahan menghadapi tugas berat itu. Menanti keajaiban baru bahwa hutan akan beradaptasi dengan lingkungan baru yang lebih sarat CO2, dengan menambah kemampuannya menyerap gas-gas tersebut, tak kunjung muncul. Penelitian Chantal D. Reid, ahli fisiologi tumbuhan di Duke University, Amerika Serikat, selama empat tahun atas 15 jenis tumbuhan menunjukkan bahwa penambahan kadar CO2 di udara mempengaruhi frekuensi stomata membuka dan menutup. Daun tak bisa serta-merta menelan CO2 lebih besar hanya karena gas tersebut tersedia lebih banyak.

Keajaiban daun barangkali hanya sebatas menyiapkan kalori bagi kehidupan bumi ini. Proses evolusi daun tidak sempat melewati tahap perubahan drastis atas komposisi atmosfer hanya dalam tempo 150 tahun. Emisi berlebihan bukanlah tanggung jawab dedaunan hutan atau plankton di lautan. Bagaimana pula kita bisa menyerahkan urusan mitigasi pada hutan dan lautan bila di antara kita sendiri ada yang tak sudi mereduksi pencemarannya? Mitigasi hendaknya berangkat dari kesediaan umat manusia sendiri untuk mengendalikan diri.

Putut Trihusodo
[Mukadimah, Gatra Edisi Khusus Beredar Kamis, 22 November 2007]


[+/-] Baca Selengkapnya...

Predator Pemangsa Hutan

Kamis, 31 Agustus 2006

Hukum rimba yang secara harfiah kita anggap kejam dan tak beradab sesungguhnya menyimpan kebijakan tersendiri. Naluri primitif seekor singa memang buas, tapi dia bukan tipe rakus. Singa memangsa pelanduk atau kijang hanya untuk bertahan hidup dan sampai sebatas kenyang.

Di tengah belantara hutan, yang ada hanya hukum rimba. Siapa yang perkasa, dialah sang pemenang. Tidak ada yang bisa melindungi si pelanduk lucu dari keberingasan harimau sang raja rimba. Nun di tengah padang savana di jantung Afrika sana, tak ada yang bisa menolong seekor kijang dari kawanan singa yang selalu lapar.


Hukum rimba, dalam versi cerita tutur tempo dulu, itu ialah tatanan yang tidak adil. Hewan-hewan bertaring yang ganas selalu saja memangsa satwa-satwa lembut yang imut. Maka, hukum rimba harus dijungkirbalikkan. Tidak ada alasan untuk berpihak pada kawanan singa, harimau, cheetah, serigala, hyena, buaya, atau ular sanca.

Cerita tutur itu barangkali dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa sayang pada satwa. Mungkin juga untuk merangsang kepekaan agar membela yang lemah. Tapi satu hal yang perlu digarisbawahi, dongeng itu tidak utuh memberi gambaran mengenai hutan sebagai ekosistem dengan hukum-hukumnya sendiri.

Singa, harimau, cheetah, hyena, dan karnivora lain adalah kelompok predator, kasta tertinggi dalam urutan rantai makanan. Mangsa mereka adalah kelompok herbivora. Di situlah terjadi aliran energi secara permanen. Rumput dan pepohonan menyintesis karbohidrat (gula) melalui reaksi fotosintesis. Metabolisme lebih jauh pun membuat tumbuhan memproduksi lemak, protein, dan vitamin.

Dengan mengonsumsi hasil tumbuhan (daun, pucuk ranting, atau buah), herbivora mendapatkan energi. Dengan memangsa herbivora, predator punya tenaga. Tapi ada aturan di kalangan mamalia pemangsa. Sesama predator dilarang saling memangsa. Kalaupun terjadi the war of predators, yang kadang menelan korban, itu umumnya hanya menyangkut perebutan teritori. Jadi, di hutan ada pula keteraturan.

Hukum rimba yang secara harfiah kita anggap kejam dan tak beradab sesungguhnya menyimpan kebijakan tersendiri. Naluri primitif seekor singa memang buas, tapi dia bukan tipe rakus. Singa memangsa pelanduk atau kijang hanya untuk bertahan hidup dan sampai sebatas kenyang. Ia bukan membunuh kijang untuk kesenangan, apalagi memperlakukannya sebagai kekayaan. Singa suka makan sampai kenyang, setelah itu tidur atau bermalas-malasan. Tak peduli esok pagi masih ada rezeki atau tidak. Ia bisa tidur 20 jam sehari.

Populasi hewan buas ini juga tak akan meledak. Hukum rimba terus mengontrolnya. Perlu perjuangan berat bagi singa atau harimau untuk menangkap setiap buruannya. Tak pernah tersedia makanan melimpah ruah. Di sana, di tengah rimba, ada harmoni untuk menjaga keseimbangan alam.

Hutan rimba tempat harimau bersarang juga memiliki tingkat keteraturan amat ristmis. Hutan perawan tidak tercipta begitu saja. Ia berkembang melalui tahap-tahap suksesi. Dari lumut berganti rerumputan, lalu semak, kemudian pohon-pohon tinggi hadir dan menjadi tegakan yang dominan. Tumbuhan rambat dan semak, yang telah terseleksi dari jenis yang tak memerlukan cahaya matahari langsung, ada di bagian bawah. Mahkota rimbanya terdiri dari tajuk pepohonan tinggi, yang memiliki bakat untuk tumbuh menjulang disangga batang pohon yang lurus dan kokoh.

Pepohonan, jamur, dan semak terus tumbuh dan berganti. Tapi, dalam rimba hutan perawan di daerah hujan tropis seperti di Indonesia, aturan main tetap terjaga. Dari waktu ke waktu formasi tak berubah. Bisa jadi selama ratusan atau ribuan tahun. Sesekali terjadi kebakaran bila muncul fenomena ekstrem. Maka, hutan pun menjadi penyangga ekosistem, termasuk di dalamnya tata air yang menentukan hidup-matinya danau dan sungai-sungai.

Sejarah ekologi hutan tropis basah kita menunjukkan bahwa kebakaran hutan adalah hal yang sangat jarang terjadi. Studi Goldammer dan Siebert (1999) terhadap radiocarbon dates atas sisa batu bara yang terbakar (akibat gejala alamiah) di Kalimantan Timur menunjukkan, rentang waktu antara dua kebakaran itu bisa lebih dari 2.000 tahun.

Kini hampir tiap tahun kita mendengar musibah kebakaran. Agaknya, jelas ini akibat ulah manusia --lepas dari siapa pun dia, peladang berpindah, pengusaha perkebunan, atau pelaku illegal logging yang ingin menghilangkan jejak. Dua kelompok terakhir ini yang bisa menimbulkan dampak dalam skala luas. Mereka tidak menghargai lagi kebajikan yang terkandung dalam hukum rimba.

Bagi mereka, mungkin hutan hanya dianggap sebagai tempat bersarang hewan buas, predator. Atau barangkali mereka juga tidak pernah kenyang menyantap kayu-kayu hutan. Mereka pun tak peduli hutan hancur dan berubah jadi padang ilalang. Padahal, ilalang itu simbol kebangkrutan hutan.

Barangkali, yang tega melakukan perusakan itu mamalia jenis baru, yang tergolong predator dari segala predator.

Putut Trihusodo
[Lensa, Gatra Nomor 42 Beredar Kamis, 31 Agustus 2006]

[+/-] Baca Selengkapnya...

Gempa 3,6 Kali Per Hari

Rabu, 26 Juli 2006

Putut Trihusodo

Gempa bumi adalah salah satu tragedi paling seram di antara bencana alam lainnya. Daya rusaknya yang massif hampir selalu melahirkan kisah dramatis. Di era informasi kini, peristiwa gempa cepat tersebar ke khalayak lewat siaran radio, tayangan televisi, dan media cetak. Tragedi yang ditimbulkannya pun lalu menghantui publik melampaui magnitude getarannya sendiri.

Dari segi geofisika, gempa itu sendiri merupakan peristiwa alam biasa, tak beda dengan hujan badai, angin musim, dan ombak di laut. Toh, gempa menjadi momok yang lebih menakutkan karena kehadirannya yang selalu tak terduga. Kita tidak tahu persis kapan dan bagaimana ia akan datang. Apa pun, ia bagian dari kehidupan manusia, utamanya di bagian bumi yang sering menjadi lintasan gempa, termasuk di sebagian kepulauan Nusantara.


Maka, gempa bumi menjadi kosakata di banyak tempat. Dalam bahasa Arab klasik ada kata zilzal yang merujuk ke gempa. Orang Cina Selatan menyebutnya ti chan. Di Meksiko dan negara Amerika Tengah lainnya, orang menyebut temblor untuk gempa. Orang Jawa (juga Palembang) menjulukinya lindu. Dalam bahasa Sunda, ia disebut lini. Orang Toba melafalkannya sebagai suhul. Kata ''gempa'' ada di hampir semua bahasa di dunia.

Sebaran gempa bumi sendiri memang sangat luas, meski kejadiannya lebih banyak mengikuti busur ring of fire, mulai pantai selatan Indonesia, ke Filipina, Jepang, Alaska, Amerika Serikat, Meksiko, hingga pesisir barat Amerika Latin.

Dinamika lempeng bumi, patahan, sesar, palung, dan potensi vulkanik yang memicu gempa itu begitu aktif sehingga gempa, besar atau kecil, hampir terjadi tiap hari. Catatan US Geological Survey menunjukkan bahwa lindu ringan (light), yang berkekuatan 4-4,9 pada skala Richter, rata-rata terjadi 13.000 kali per tahun alias 35,6 kali sehari. Yang berkekuatan moderate, 5-5,9 skala Richter, rata-rata 1.319 kali per tahun atau 3,6 kali per hari!

Gempa kuat (strong), 6 hingga 6,9 skala Richter, juga kerap terjadi di dunia ini. Rata-ratanya 134 kali per tahun atau sekali tiap tiga hari. Yang lebih dahsyat, major earthquake, 7-7,9 skala Richter, rata-rata 17 kali per tahun. Sedangkan great earthquake yang ber-magnitude 8 skala Richter ke atas terjadi sekali dalam setahun.

Kenaikan satu pada skala magnitude gempa, menurut US Geological Survey, membawa konsekuensi besar, yakni mengakibatkan ground motion change yang 10 kali lebih kuat karena pelepasan energi (hasil lentingan lapisan bumi) yang 32 kali lebih besar.

Amerika Serikat sendiri adalah satu negara yang sering berurusan dengan gempa. Pada tahun 2000 hingga 20005, di sana terjadi lima kali gempa berkekuatan 7-7,9 skala Richter. Tiga kali di antaranya terjadi di kawasan Alaska. Pada periode yang sama, gempa kuat (6-6,9 skala Richter) terjadi 33 kali.

Dilihat dari sisi statistik, gempa bumi susul-menyusul yang menerpa Indonesia pun mestinya bisa dimaklumi. Seperti halnya Amerika Serikat, Filipina, Meksiko, dan Jepang, bumi Nusantara ini bertumpu di atas lempengan yang tidak stabil. Gempa adalah konsekuensi yang harus dihadapi.

Persoalannya, kita belum mampu keluar dari trauma gempa dan gelombang tsumami Aceh, 26 Desember 2004, dengan korban tewas dan hilang lebih dari 170.000 jiwa, yang disusul dengan gempa yang menimpa Pulau Nias pada Maret 2005, lalu gempa Yogyakarta pada Mei 2006 (lebih dari 5.000 jiwa melayang), gempa pantai selatan Jawa (lebih dari 600 jiwa tewas), kemudian guncangan bumi yang terasa di Gorontalo dan Singaraja.

Statistik dan teori-teori geofisika memang dapat menjelaskan fenomena alam tadi. Namun trauma beruntun bisa membuat orang sulit mencernanya. Jangan heran bila sebagian dari kita mencari ''penjelasan'' lain lewat pendekatan kosmologi, ngelmu, yang tak banyak mendapat perhatian dalam dunia sains. Di bawah "teori" kosmologi, bencana alam lalu dikait-kaitkan dengan masalah politik kekuasaan.

Seperti halnya gempa dan fenomena alam lainnya, kosmologi dan penganutnya juga sebuah fakta yang ada di lapangan. Kita membuang waktu bila harus berpretensi menghapusnya. Akan lebih baik bila wacana dialihkan pada aspek mitigasi bencana alam itu sendiri. Mitigasi yang baik mungkin bisa membantu mempercepat luka atas trauma. Setidaknya, itu akan membawa kita ke alam dan membangun harapan-harapan baru yang masuk akal.

GATRA, 24 Juli 2006


[+/-] Baca Selengkapnya...

Hinterland

Kamis, 13 Juli 2006

Singapura adalah tetangga yang kaya raya. Negeri sekepal ini sanggup memberikan kemakmuran bagi 4,3 juta penduduknya dengan standar Eropa Barat. Pendapatan per kapita penduduk Singapura saat ini US$ 28.000. Jauh berlipat melampaui tetangga terdekatnya, Indonesia.

Uang melimpah ruah di Singapura, baik itu milik negara, swasta, maupun tabungan rakyatnya. Belum lagi uang-uang titipan yang datang dari pelbagai penjuru dunia (termasuk duit yang kabur dari Indonesia) yang kini berada di tangan para fund manager yang mengoperasikan pelbagai lembaga keuangan. Singapura adalah sumber modal.


Sukses itu diraih lewat kerja keras selama empat dekade. Di bawah pemerintahan yang efektif, bersih, dan hukum yang tegak, kerja keras itu segera memberi hasil nyata. Negeri sekepal itu pun tumbuh cepat, bahkan secara fisik luas daratannya terus bertambah dari 490 kilometer persegi 30 tahun lalu menjadi 660 kilometer persegi saat ini, dengan proyek reklamasinya.

Dari Singapura, uang mengalir ke mana-mana dalam beragam bentuk investasi. Negara-negara yang relatif baru menggeliat bangkit seperti Kamboja dan Vietnam turut kebanjiran uang ''negeri singa'' itu. Ironisnya, tidak banyak yang masuk Indonesia.

Namun para pemimpin Singapura agaknya sadar, mana mungkinlah mereka bisa tidur nyenyak bila tetangga di depan pintu rumah hidup serba kesulitan. Memang tidak berarti mereka harus peduli pada kondisi Indonesia secara keseluruhan. Tapi setidaknya, daerah terdekatnya bisa didorong lebih makmur sehingga menjadi penyangga bagi "pengaruh buruk" negeri tetangga.

Boleh jadi, itu suatu hal yang mendorong Singapura tertarik dengan proposal SEZ (special economic zone). Dalam bentuk nota kesepakatan (MoU), gagasan SEZ itu diteken Pemerintah Indonesia dan Singapura pada akhir Juni lalu. Intinya ialah kehendak untuk mengembangkan daerah Batam, Bintan, dan Karimun (BBK) menjadi satu kawasan industri maju.

Pertimbangan politik adalah satu hal. Namun ada hal lain, yakni daya tarik alam BBK itu sendiri. Sebagaimana Singapura, Pulau Batam, Bintan, dan Karimun yang berada di jalur urat nadi perdagangan dunia "Selat Malaka" adalah tempat-tempat yang sangat berharga secara ekonomi. Apalagi, dalam pandangan orang Singapura, tiga pulau itu ibarat hinterland, daerah pedalaman, mereka. Apa salahnya turut mengurus wilayah pedalaman?

Namun kita tahu, membangun SEZ bukan hal sederhana. Tak cukup selembar MoU. Di sana perlu kelengkapan infrastruktur dan terutama perangkat aturan main yang jelas --syukur ditambah insentif yang menarik investor. Justru dalam masalah perangkat aturan ini kita sering kedodoran.

Kita punya pengalaman dengan Batam. Di awal 1990-an, kita sempat punya harapan besar atas Batam. Pulau seluas 612 kilometer persegi itu pernah berjaya di tahun 1990-an, tapi kini pamornya sebagai pulau industri meredup. Banyak pemilik industri di Batam yang angkat kaki, memindahkan pabriknya ke Cina atau Vietnam.

Padahal, Batam sempat tumbuh pesat. Di awal 1970-an, pulau yang ukurannya tidak terpaut jauh dari Singapura itu hanya dihuni 3.000-an orang. Tiga puluh tahun kemudian, penghuninya hampir 700.000 jiwa. Pada tahun 2000, sebelum kinerjanya anjlok, Batam memberi tempat bagi 140.000 tenaga kerja sektor formal. Ratusan industri di sana juga menciptakan 8.000 unit usaha kecil dan menengah.

Batam sempat gebyar-gebyar. Investasi swasta asing dan nasional pernah mencapai US$ 6,1 milyar (2000). Nilai ekspornya US$ 6,7 milyar tahun itu. Setoran pajak ke pemerintah pusat sekitar Rp 900 milyar. Namun kesimpangsiuran aturan main membuat gemebyar industri Batam meredup, meski belum padam sepenuhnya.

Kita tahu, adanya tumpang tindih kewenangan antara Badan Otorita dan Pemerintah Kota Batam, yang lahir dari rahim otonomi daerah, menjadi satu masalah. Ketidakjelasan Batam sebagai bonded zone atau free trade zone adalah persoalan lainnya. Puncaknya ialah ketika pemerintah memberlakukan pajak pertambahan nilai dan pajak barang mewah di luar enam bonded zone yang ada.

Memang tak seluruh masalah dari kita. Pengenaan pajak itu, misalnya, adalah buah "intimidasi" Dana Moneter Internasional (IMF). Toh, muaranya satu: tidak ada konsistensi aturan. Pengalaman di Batam hendaknya memberi pelajaran bahwa SEZ harus dirancang dengan perencanaan yang matang agar aturan main tak mengalami bongkar pasang.

Putut Trihusodo
[Lensa, Gatra Nomor 35 Beredar Kamis, 13 Juli 2006]

[+/-] Baca Selengkapnya...

Kebajikan Air

Senin, 01 Mei 2006

Air adalah karunia alam yang tidak bisa diproduksi. Sejak bumi ini terbentuk sebagai planet yang khas, dengan segala kehidupan di atasnya, jumlah air praktis tak pernah bertambah atau berkurang. Suatu kali, memang permukaan laut menyusut drastis dan permukaan bumi meluas. Toh, air tak lari ke mana-mana. Ia cuma terkumpul sebagai gunung es di kedua kutub bumi.

Begitu gunung es mencair, karena perubahan temperatur atmosfer bumi, paras laut pun meluas hingga mengambil porsi 70% dari permukaan bumi seperti saat ini. Kelak, porsi 70% itu bertambah seiring munculnya gejala pemanasan global.


Air adalah salah satu elemen bumi yang paling dinamis. Ia tidak punya alamat tetap, terus berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dan gampang berubah fase mengikuti siklus kehidupan bumi. Suatu kali ia menjadi uap, terbang bersama angin, tumbuh menjadi awan, dan jatuh sebagai hujan --mungkin saja di sebuah lokasi yang ribuan kilometer jauhnya dari tempat persinggahan sebelumnya.

Di saat yang lain, ia tersimpan sebagai air tanah, terserap akar, naik ke daun, dan atas jasa baik cahaya matahari, bantuan klorofil, dan pelbagai enzim daun, ia pun tersintesis menjadi biomassa yang mengandung energi. Tiba saatnya biomassa dikonsumsi oleh makhluk herbivora, termasuk manusia, dimetabolismekan, diambil energinya, dan ia pun terurai kembali menjadi CO2 dan air. Selanjutnya, air menjalani kembali siklus abadinya.

Betapapun dinamisnya, ia tidak tersedia di semua tempat dalam takaran yang sama. Ada tempat yang surplus kelimpahan air, dan banyak tempat lainnya yang selalu defisit neracanya. Maka, air menjadi faktor pembatas daya dukung ekologis yang bisa memicu masalah sosial, politik, dan ekonomi --utamanya saat ia berstatus air tanah, air danau, dan air sungai yang secara langsung menopang kehidupan umat manusia. Nilai ekonomi pun direkatkan atas zat fluida ini.

Eksploitasi atas sumber daya air pun menjadi-jadi, dan siklus air terusik harmoninya. Tapi, siapa peduli.

Dalam usia bumi yang telah mencapai enam milyar tahun ini, ketika penduduk bumi hampir mencapai enam milyar jiwa, tekanan berat menimpa pada sumber air tawar, baik itu danau, sungai, maupun sumber-sumber air tanah lainnya. Sumber air yang langka itu pun rusak karena dianggap sebagai pelarut limbah, juga sarana transportasi segala barang buangan, untuk dikirim ke laut. Ketika sungai-sungai tercemar, air tanah pun menjadi rebutan.

Ia lalu menjadi komoditas berharga. Ia dianggap relatif bebas dari bahan pencemar, karena berasal dari hujan yang merembes masuk ke tanah, dan butir-butir tanah bisa mengikat sebagian besar bahan pencemar. Lantas, kalau kemudian ia dianggap amat berharga, sebetulnya bukan karena bersih, melainkan karena murah. Sebetulnya, air sekotor apa pun oleh teknologi bisa dibuat bersih, tapi itu perlu biaya. Jadi, buat apa susah menyucikan air berlimbah kalau air tanah mudah dieksploitasi.

Air adalah sumber kehidupan bagi segala jenis makhluk hidup, termasuk manusia. Ia tak hanya diperlukan dalam proses metabolisme pada tingkat organisme, bahkan di tingkat inti sel. Dalam peradaban maju, kebutuhan tubuh manusia atas air itu tak lagi dipenuhi semata dari air bumi. Dunia industri telah menambahkan pelbagai macam substansi agar air bisa memberikan kenikmatan rasa dan daya gunanya bagi tubuh.

Kini dunia industri makin menempatkan air sebagai bahan baku untuk komoditas yang kian canggih. Ada proses industri yang membuat enam molekul air murni bergandengan membentuk bangun heksagonal. Konon, dalam format ini, air jadi lebih mudah menembus membran hingga cepat masuk ke sel yang merupakan unit terkecil dalam sistem jaringan. Manfaatnya, konon proses fisiologi di dalam sel lebih dinamis. Tubuh manusia lebih sehat berkat konsumsi air canggih ini --katanya.

Para era sebelumnya, air pun dibubuhi pelbagai konsentrat yang dianggap diperlukan oleh tubuh. Di sinilah industri langsung mengincar sumber air alam. Dunia industri tentu akan menikmati nilai tambah sangat menarik untuk air alam ini. Atas nama pajak, kesempatan kerja, pendapatan asli daerah, APBN, atau apa pun, sumber air pun jatuh ke tangan industri.

Air lantas menjadi barang dagangan semata. Air tak lagi menjadi sumber kehidupan bagi unsur-unsur ekologi di sekeliling, termasuk manusia. Siklus air berubah. Pada saat itulah, guncangan ekosistem bisa muncul. Termasuk gesekan sosial. Sesungguhnya, siklus alamiah air memberi kebajikan sendiri.

Putut Trihusodo
[Lensa, Gatra Edisi 25 Beredar Senin, 1 Mei 2006]

[+/-] Baca Selengkapnya...

Hurricane: Mengganas di Atas Titik Panas

Senin, 03 Oktober 2005

Oleh Putut Trihusodo

Awan badai Hurricane makin dahsyat dan berbahaya. Frekuensi topan kategori ganas naik dari 10 ke 18 kasus per tahun. Kecepatan anginnya meningkat 50%. Titik-titik panas di laut menambah daya rusaknya.

MAU pilih Bianca, Katrina, atau Rita, sama saja. Semuanya bikin sengsara. Maklum, mereka adalah anak-anak kandung awan badai Hurricane yang disemai di perairan tropis Atlantik. Setelah tumbuh cukup besar, mereka bergerak ke arah utara, mengalami penguatan, lalu menebar petaka di pesisir selatan Amerika Serikat, seperti Texas, Lousiana, Alabama, dan Florida. Anak-anak badai ini bisa juga tiba-tiba menyerang pantai timur, mulai Georgia, South Carolina, bahkan hingga Massachussetts.

Topan badai Katrina, yang meluluhlantakkan daerah perbatasan Lousiana dan Texas selama dua hari, 29 hingga 30 Agustus lalu, yang disusul Rita tiga pekan kemudian, sungguh menjadi mimpi buruk bagi penduduk setempat. Kota New Orleans hancur lebur oleh terjangan angin, hantaman air bah, dan gulungan ombak. Bangunan-bangunan roboh, atap rumah terbang, bahkan pohon tercerabut dari akarnya dihantam angin berkecepatan 200 kilometer per jam.


Korban jiwa berjatuhan. Sekitar 450 orang tewas di Lousiana, dan hampir 150 orang lainnya di Texas. Sepertiga kawasan bencana tergenang. Kerugian materiil diperkirakan US$ 63 milyar. Itu baru akibat ulah Katrina.

Ketika Rita datang menyusul, New Orleans kembali tergenang. Tapi warga lebih waspada. Mereka berbondong-bondong mengungsi ke utara, daerah yang lebih aman. Korban bisa dimimalkan. Namun Rita tetap memberikan kerusakan ekstra bagi daerah-daerah yang baru ditinggalkan oleh saudarinya: Katrina.

Topan badai seperti bertubi-tubi menghantam pesisir selatan Amerika, Teluk Meksiko. Cuma dalam tempo tiga pekan antara Katrina dan Rita, sempat tumbuh lima awan badai lain di Laut Karibia, dan diperkirakan akan bergerak ke Teluk Meksiko. Angin yang ditimbulkan sudah melampaui 40 kilometer per jam. Meski belum tergolong Hurricane, awan badai itu sempat pula diberi nama resmi: Lee, Maria, Nate, Ophelia, dan Phillipe. Untunglah, kelimanya hancur secara alamiah sebelum tumbuh menjadi Hurricane.

Secara keseluruhan, sebelum Katrina datang, di Atlantik tumbuh 10 bibit awan badai. Semua sudah diberi nama, tapi hanya empat yang tumbuh jadi Hurricane. Itu pun kemudian buyar di tengah jalan. Juni-November memang musim badai, dan puncaknya Agustus-Oktober. Saat itu, Samudra Atantik, di perairan tropis Karibia, menjadi tempat bersemainya bibit-bibit awan badai. Di wilayah Pasifik, sumbernya di lepas pantai Meksiko.

Namun, dibandingkan dengan musim badai tahun-tahun yang lalu, Hurricane 2005 ini tergolong paling merusak. Sebagian ahli kemudian menunjuk biang keladinya: pemanasan global. Tudingan pun mengarah ke Presiden George W. Bush. Bukan saja dianggap tak cukup tanggap atas bahaya awan badai itu, ia juga dinilai tak peduli pada masalah seserius pemanasan global dan perubahan iklim.

Sampai hari ini, Amerika Serikat masih enggan meratifikasi Protokol Kyoto, komitmen mengurangi emisi gas rumah kaca. Konsumsi bahan bakar fosil --minyak bumi, gas alam, dan batu bara-- yang menjadi sumber utama membanjirnya gas residu, yang biasa disebut gas rumah kaca, ke atmosfer. Ujungnya, terjadi pemanasan global.

Istilah efek rumah kaca diterima secara luas karena gas-gas itu berlaku seperti genteng kaca: meneruskan radiasi gelombang panjang, tapi menahan inframerah menembus atmosfer bumi. Radiasi gelombang panjang itulah yang membuat atmosfer makin panas. Pada gilirannya, suhu air laut menjadi lebih hangat.

Secara rata-rata, kenaikan suhu air laut selama 1971-2000 cuma sekitar 0,25 derajat celsius. Kenaikan suhu udara cuma 0,5 derajat celcius selama seabad terakhir. Belum jelas betul pola perubahan iklim yang diakibatkannya. Namun di Atlantik muncul titik-titik panas (hot spot) yang temperaturnya 1,1-3,3 derajat celsius lebih tinggi dari rata-rata setempat pada periode 1971 hingga 2000.

Keprihatinan atas ancaman perubahan iklim itu diserukan oleh para aktivis lingkungan, termasuk bintang film dan penyanyi Barbara Streisand. "Kita kini dalam situasi darurat pemanasan global. Topan badai akan lebih sering terjadi, dan dengan intensitas yang makin dahsyat,'' ujarnya, seperti dikutip US Network Television.

Benarkah semua gara-gara global warming? Ada keraguan bahwa bencana di pantai selatan Amerika itu akibat pemanasan global. Alasannya, mengapa lonjakan badai hanya terjadi di Atlantik, kalau efeknya global kok tidak muncul di Pasifik atau di Laut Cina Selatan?

Lagi pula, mengapa baru terjadi tahun ini, sementara 10 tahun sebelumnya tidak banyak lahir Hurricane ganas, meski pemanasan global juga sudah berlangsung. ''Terlalu spekulatif mengaitkannya,'' kata Julian Heming, ahli atmosfer dari Badan Meteorologi Inggris, seperti dikutip BBCNews. Ia lantas mengingatkan, betapapun dahsyatnya Katrina dan Rita, rekor Hurricane 1935 masih belum terlampaui.

Katrina, Rita, dan Bianca (topan yang merusak pesisir Georgia tahun 1970-an) tumbuh seperti awan badai lazimnya. Formasi awan terbentuk karena ada pusat tekanan rendah di tengah laut. Massa udara mengalir dari daerah sekitarnya. Karena pengaruh rotasi bumi, aliran massa udara busur lengkung searah jarum jam, untuk wilayah hemisfer utara --dan arah yang sebaliknya di belahan bumi selatan. Uniknya, pertemuan massa udara dari pelbagai penjuru, yang masing-masing searah jarum jam, itu hasilnya justru jadi pusaran massa yang berlawanan dengan arah jarum jam.

Pusaran itu makin lama makin kuat, karena massanya kian besar. Uap air yang terbawa udara naik oleh pusaran udara kemudian mengembun karena suhu dingin di atmosfer atas. Proses pengembunan itu melepaskan panas (kalor), dan itu memberikan energi tambahan bagi awan badai itu untuk makin berkembang. Pada kasus Katrina dan Rita, awan badai itu terbentuk di Karibia, lalu bergerak ke Teluk Meksiko yang saat itu suhu airnya 3 derajat celsius di atas normal.

Pertumbuhan awan badai pun menjadi-jadi karena adanya tekanan rendah dan uap air ekstra di teluk itu. Maka, kekuatan kedua topan itu berlipat, lalu muncullah hujan deras, tiupan angin kencang, dan gulungan ombak yang menderu. Pada puncaknya, kecepatan pusaran angin Rita mencapai 282 kilometer per jam.

Judi Curry, direktur pada School of Atmospheric Sciences, Georgia Institute of Technology, Amerika Serikat, mengakui bahwa belakangan Hurricane makin kuat dan mematikan. Toh, ia mengakui pula, secara global frekuensi kejadian awan badai dari musim ke musim, selama 35 tahun dilakukan monitoring satelit, tak menunjukkan perbedaan signifikan. Selalu ada keseimbangan. Kalau frekuensi di Pasifik meningkat, di Atlantik menyusut. Namun porsi awan badai yang kuat dan merusak terus meningkat, dari 10 ke 18 kejadian pe tahun. Kecepatan anginnya pun secara rata-rata terkerek 50%.

Yang membuat intensitas badai itu meningkat, menurut Curry, adalah munculnya titik-titik panas di laut, seperti di Teluk Meksiko itu. Kondisi ini seperti memberikan bahan bakar jet bagi turbin Hurricane. Ia tak mau berspekulasi tentang hubungan Hurricane dan perubahan iklim, karena tak ada bukti yang komprehensif. Seperti pakar yang lain, ia cuma berpesan, kalau keseimbangannya terganggu akibat ulah manusia, alam akan mengembalikannya dengan caranya sendiri. Termasuk melepas energinya dalam bentuk badai topan.

Putut Trihusodo

Katrina Mungkin Takkan Kembali

DARI 21 nama yang tersedia untuk Hurricane produksi Atlantik 2005, sebanyak 17 telah terpakai. Yang pertama Arlene, lalu Bret, Cindy, sampai Katrina hingga Rita yang ke-17. Nama-nama ini diberikan secara resmi oleh sidang Organisasi Meteorologi Dunia (WMO). Tujuannya, mempermudah komunikasi petugas pemantau cuaca dengan masyarakat. Maklum, kadang ada dua awan badai yang tumbuh bersamaan di tempat terpisah. Keduanya perlu nama sendiri.

Sejak 1979, WMO selalu membuat daftar nama topan itu dengan siklus enam tahunan. Setiap tahun didaftar 21 nama, dua pertiga perempuan, sepertiga nama laki-laki. Semuanya nama depan. Daftar nama 2005 itu adalah pengulangan 1999. Pola yang sama diterapkan untuk awan badai Pasifik. Namun kemungkinan nama Katrina dan Rita tak akan dipakai lagi pada 2011. Bila ternyata melahirkan Hurricane ganas, nama-nama itu dipensiunkan, seperti Alicia, Carol, Marilyn, dan Roxane.

Tradisi memberi nama topan badai itu sudah lama ada. Para pelaut Puerto Riko, misalnya, melakukannya dengan mencomot nama orang suci, seperti Santa Ana atau San Felipe. Yang pertama menyebut topan dengan nama perempuan adalah orang-orang Australia, akhir abad ke-19. Setelah itu, penyebutan nama tak mengikuti pakem yang jelas. Baru kemudian, pilot-pilot Perang Dunia II memopulerkan kembali nama perempuan.

Adalah Pemerintah Amerika Serikat yang memelopori penamaan resmi itu untuk keperluan pelayanan prakiraan cuaca 1953. Ketika itu, Amerika hanya mengambil nama-nama depan perempuan. Baru pada 1979, penamaan ini diorganisasi lebih rapi. Begitu muncul awan badai besar dengan kecepatan angin di atas 50 kilometer per jam, nama pun disematkan. Aturannya mengikuti abjad. Badai pertama menyandang nama dengan huruf depan A, yang kedua B, dan seterusnya. Namun huruf Q, U, X, Y, dan Z tak dipakai, karena juga jarang dipakai untk mengawali nama depan.

Hurricane adalah awan badai berukuran besar. Berbeda dari Tornado yang skalanya sangat lokal dengan lebar awan kurang dari 1 kilometer. Hurricane juga dibagi menurut kekuatannya. Kategori I adalah yang punya kecepatan angin 74-95 mil per jam. Kategori II 96-110 mil per jam, kategori III 111-130 mil per jam, kategori IV 131-155 mil per jam, dan kategori V di atas 155 mil per jam. Pada kategori V, awan badai ini bisa menimbulkan gelombang laut setinggi 5,4 meter.

GATRA, 3 Oktober 2005

[+/-] Baca Selengkapnya...

Virus Terbang Bersama Angin

Senin, 26 September 2005

Putut Trihusodo

WABAH flu burung tiba-tiba berjangkit di Ragunan. Sebanyak 19 ekor burung koleksi kebun binatang di Jakarta Selatan itu dinyatakan positif terinfeksi virus H5N1, strain (galur) paling ganas dari keluarga Orthomyxoviridae. Serangan virus ini menimpa beo kecil, bangau tongtong, burung bluek, belibis mandarin, merak hijau, ayam kate, dan sejumlah satwa langka lainnya. Sungguh mengagetkan, virus ganas itu sudah menerobos ke pusat keramaian, tempat rekreasi rakyat.

Hari berikutnya, pasien yang diduga terjangkit virus avian influenza (AI), demikian flu burung ini disebut, membanjir ke Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso di Jakarta Utara. Sampai akhir pekan lalu, tercatat ada 18 pasien yang dirawat di RSPI tersebut, lima di antaranya pengunjung Kebun Binatang Ragunan. Dua lainnya memang anggota komunitas tempat rekreasi itu. Yang satu karyawan, dan yang lain pedagang asongan di situ. Dari jumlah ini, dua di antaranya positif terkena AI.


Secara nasional, angka suspect penderita flu burung 28 orang. Mereka berasal dari Bekasi, Tangerang, Jakarta, Medan, Makassar, serta Samarinda. Dua orang suspect meninggal dan dipastikan karena infeksi H5N1. Dua lainnya tewas dan secara klinis menderita gejala mirip serangan AI, tapi hasil tesnya negatif. Dua korban fatal lagi meninggal dengan hasil tes negatif, dan kemungkinan karena pneumonia biasa.

Pemerintah pun menetapkan status KLB (kejadian luar biasa). Indonesia juga resmi termasuk dalam kelompok 12 negara yang kini ada di bawah ancaman AI, misalnya Cina, Korea Selatan, Jepang, Vietnam, Thailand, lalu belakangan ke Kazakhstan dan Rusia. Tak di semua negara, korban jiwa manusia jatuh. Yang terberat ialah Vietnam. Sebanyak 40 orang tewas dari 90 korban yang terinfeksi. Kini flu burung dianggap sebagai ancaman pandemik, wabah berskala sangat luas dengan akibat yang hebat.

Angsa dari Qinghai

Dari mana flu burung itu datang? Muncul anggapan, virus itu masuk Ragunan dibawa burung-burung migran yang singgah ke kerimbunan pepohonan di kebun binatang itu. Teori penyebaran oleh burung migran ini memang dipercaya banyak orang, hingga ia kini dianggap sebagai ancaman global.

Pemerintah Amerika Serikat mencemaskannya. Ketika membawakan pidatonya di depan Sidang Umum PBB, pertengahan September lalu, Presiden George W. Bush menyinggung soal ancaman flu burung yang disebutnya bisa jadi pandemi pertama di abad ke-21 ini. ''Kita tak boleh membiarkannya terjadi,'' katanya. Ia lantas menawarkan kerja sama internasional untuk menangkal wabah ini.

Departemen Pertanian Amerika sendiri telah mencermati penyebaran virus H5N1 itu sejak 1998, setahun setelah virus ini muncul di Hong Kong. "Direktorat" Wildlife Desease, yang berada di bawah Departemen Pertanian Amerika (USDA), terjun memonitor burung-burung Alaska yang pada setiap musim dingin bermigrasi ke Asia dan Amerika Latin dengan memanfaatkan tiupan angin, mencari tempat yang lebih hangat. Selama tujuh tahun, 12.000 ekor diperiksa. Hasilnya, tak satu pun kedapatan terinfeksi H5N1.

Namun para pejabat USDA tidak mengesampingkan kemungkinan bahwa cepat atau lambat virus ganas itu akan menembus Amerika. Cuma soal waktu. Bisa lewat angsa liar yang ternyata tidak imum terhadap virus ini, atau ekspor-impor daging ayam dan babi. Tak mengherankan bila Presiden Bush pun cepat-cepat membunyikan alarm.

Fakta bahwa burung migran itu menjadi agen penyebaran virus itu dilaporkan Guan Yi dan tim virologisnya dari Universitas Hong Kong. Lewat jalur tidak resmi, ia bisa mendapatkan hampir 100 sampel burung Danau Qinghai yang kedapatan mati, musim semi Mei lalu. Qinghai merupakan danau air asin besar, terletak di ketinggian hampir 3.000 meter di pedalaman Cina Tengah. Dari spesimen burung Danau Qinghai itu, Guan Yi mendapatkan bukti bahwa virus H5N1 telah menjadikan burung-burung migran itu sebagai inang sekaligus korbannya.

Laporan Guan Yi di buletin sains terbitan Inggris, Nature, edisi 7 Juli 2005 itu makin menyebarluaskan kecemasan. Betapa tidak, dari Danau Qinghai, komunitas burung migran yang jenisnya ratusan itu secara reguler terbang jauh ke Mongolia, Vietnam, India, Asia Tenggara, Kazakhstan, Danau Kaspia, bahkan ke Australia dan Selandia Baru.

Dari riset lanjutannya, Guan Yi juga menemukan ada 250 subtipe virus H5N1. Celakanya, yang kini berkembang di Qinghai, dan kemungkinan akan menyebar pada musim dingin mendatang, adalah subtipe yang ganas. Itu yang dilaporkan tim George Gao dari Institut Mikrobiologi Beijing di buletin Science. Virus itu bersarang pada kelompok angsa yang tiap musim dingin berkelana ke daerah Asia Tengara. Dalam uji lab, virus itu sangat mematikan, baik pada ayam potong maupun tikus.

Virus memang cepat beradaptasi, pun bermutasi secara genetik. Bahkan ia bisa melakukan swap, saling bertukar gen. Meski mutan ini umumnya tak cukup tangguh untuk survive, ada peluang walaupun kecil swap ini berhasil. Teori ini yang menjelaskan mengapa ia bisa berpindah dari burung liar ke ternak unggas, juga sebaliknya, lantas beradaptasi ke tubuh mamalia, termasuk manusia.

Toh, sejauh ini, penularan AI tidak pernah dilaporkan terjadi dari manusia ke manusia. Jalur penularan yang lazim ialah melalui kotoran burung yang terinfeksi. Kotoran itu mengering, pecah menjadi serpihan, terhambur oleh tiupan angin, lalu masuk terhirup oleh pernapasan manusia. Bisa juga lewat jalur konsumsi daging unggas dan mamalia inang yang tak diolah secara memadai. Flu burung tak perlu sayap untuk penularannya.

Memang ada kekhawatiran, virus AI ini akan melakukan swap dengan virus influenza biasa yang membuat penularannya bisa langsung dari manusia ke manusia --melalui bibit yang terlontar saat orang batuk atau bersin. Namun, tanpa harus jadi virus super pun, AI sudah cukup menularkan kecemasan kepada Michael Ostherholm, Direktur Center of Infectious Desease Universitas Minnesota, yang juga pejabat Departement of Homeland Security Amerika Serikat. Ia mengingatkan, isu H5N1 itu bukan soal kemungkinan kejadiannya. ''Ini soal kapan, di mana, dan seberapa parah,'' katanya.

Pandemi Global

Sebagai pakar kesehatan, Michael Ostherholm tentu tak bisa menyepelekan influenza. Sejarah mencatat, wabah virus flu Spanyol 1918 menjangkiti 30% penduduk bumi dan menimbulkan kematian pada 100 juta insan! Itu terjadi hanya dalam tempo 24 pekan.

Digambarkan Time, 26 September 2005, saat wabah flu Spanyol itu menyerang, kota Philadelphia, Amerika, dipenuhi tumpukan jenazah yang sudah berhari-hari tak sempat dievakuasi. Pada saat yang sama, kota Cape Town di Afrika Selatan sibuk melakukan penguburan massal para korban influenza.

Namun wabah influenza berikutnya tidak sedahsyat tragedi 1918. Wabah flu Asia yang merebak pada 1957 "hanya" merenggut dua juta jiwa. Kemudian flu Hong Kong yang merajalela tahun 1968 meminta korban satu juta. Tren penurunan korban yang signifikan. Begitu pula ketika wabah SARS (severe acute respiratory syndrome) merebak pada 2003, menurut Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, korban jiwa "hanya" sekitar 507 orang, dari 7.400 orang yang diduga terinfeksi oleh virus ini.

Dibandingkan dengan virus corona, penyebab SARS, virus AI tipe H5N1 lebih ganas. Gugus H (hemaglutinin) dan N (neuramidase) mampu menginfeksi organ saluran pernapasan bagian bawah manusia dan merusaknya. Tingkat kematian pada penderita flu burung bisa 45% di Vietnam. Mortalitas SARS masih di bawah 10%. Namun jalur penularan SARS lebih gawat: dari orang ke orang. Ledakan SARS jilid kedua bisa dicegah setelah Pemerintah Cina memburu dan mengisolasi musang liar, hewan yang dari penelitian Guan Yi di Hong Kong terbukti sebagai inang paling potensial.

Kedua virus itu juga punya kesamaan: lahir di Cina Selatan. Begitu pula dengan flu Asia dan flu Hong Kong. Daerah berpenduduk padat di Cina Selatan itu mengalami pergolakan ekologis berat, suasana yang memberi peluang lahirnya mutan berbahaya.

Menghadapi kemungkinan ledakan wabah flu burung, dunia internasional lebih siap. Pelbagai vaksin sudah disiapkan, meski keampuhannya harus berlomba dengan kecepatan virus bermutasi dan beradaptasi. Beberapa obat, semisal Tamiflu, efektif menghambat pertumbuhan virus. Mungkin, seperti SARS, pandemi flu ini tak akan seakut flu Hong Kong atau flu Asia dulu.

Namun, dalam tatanan ekonomi global saat ini, seperti pada SARS, wabah kecil pun mampu membuat kerugian besar, US$ 40 milyar, Rp 400 trilyun, hanya untuk kawasan Asia Pasifik. Mahal, memang. Kesulitan itulah yang kini dihadapi Indonesia, negeri yang sedang sibuk memangkas subsisdi BBM demi menyelamatkan anggaran. Kini pemerintah terus menyiapkan langkah-langkah pencegahan dan penanganan.

Toh, kecemasan tak mudah hilang. Kecemasan yang sama juga melanda negara maju dan kaya seperti Amerika. Departemen Kesehatan Amerika Serikat tak punya resep cespleng guna meredam kekhawatiran warganya. Mencegah migrasi burung tak mungkin. Padahal, 20% warga Amerika rentan terhadap influenza setiap perubahan musim. Resep yang ditawarkan akhirnya, ya, kembali ke pertahanan individual. Hidup sehat dan memelihara kebugaran badan. Itu cara paling mudah dan murah menghadapi ancaman virus ganas ini.

GATRA, 26 September 2005


[+/-] Baca Selengkapnya...