Kebajikan Air

Senin, 01 Mei 2006

Air adalah karunia alam yang tidak bisa diproduksi. Sejak bumi ini terbentuk sebagai planet yang khas, dengan segala kehidupan di atasnya, jumlah air praktis tak pernah bertambah atau berkurang. Suatu kali, memang permukaan laut menyusut drastis dan permukaan bumi meluas. Toh, air tak lari ke mana-mana. Ia cuma terkumpul sebagai gunung es di kedua kutub bumi.

Begitu gunung es mencair, karena perubahan temperatur atmosfer bumi, paras laut pun meluas hingga mengambil porsi 70% dari permukaan bumi seperti saat ini. Kelak, porsi 70% itu bertambah seiring munculnya gejala pemanasan global.


Air adalah salah satu elemen bumi yang paling dinamis. Ia tidak punya alamat tetap, terus berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dan gampang berubah fase mengikuti siklus kehidupan bumi. Suatu kali ia menjadi uap, terbang bersama angin, tumbuh menjadi awan, dan jatuh sebagai hujan --mungkin saja di sebuah lokasi yang ribuan kilometer jauhnya dari tempat persinggahan sebelumnya.

Di saat yang lain, ia tersimpan sebagai air tanah, terserap akar, naik ke daun, dan atas jasa baik cahaya matahari, bantuan klorofil, dan pelbagai enzim daun, ia pun tersintesis menjadi biomassa yang mengandung energi. Tiba saatnya biomassa dikonsumsi oleh makhluk herbivora, termasuk manusia, dimetabolismekan, diambil energinya, dan ia pun terurai kembali menjadi CO2 dan air. Selanjutnya, air menjalani kembali siklus abadinya.

Betapapun dinamisnya, ia tidak tersedia di semua tempat dalam takaran yang sama. Ada tempat yang surplus kelimpahan air, dan banyak tempat lainnya yang selalu defisit neracanya. Maka, air menjadi faktor pembatas daya dukung ekologis yang bisa memicu masalah sosial, politik, dan ekonomi --utamanya saat ia berstatus air tanah, air danau, dan air sungai yang secara langsung menopang kehidupan umat manusia. Nilai ekonomi pun direkatkan atas zat fluida ini.

Eksploitasi atas sumber daya air pun menjadi-jadi, dan siklus air terusik harmoninya. Tapi, siapa peduli.

Dalam usia bumi yang telah mencapai enam milyar tahun ini, ketika penduduk bumi hampir mencapai enam milyar jiwa, tekanan berat menimpa pada sumber air tawar, baik itu danau, sungai, maupun sumber-sumber air tanah lainnya. Sumber air yang langka itu pun rusak karena dianggap sebagai pelarut limbah, juga sarana transportasi segala barang buangan, untuk dikirim ke laut. Ketika sungai-sungai tercemar, air tanah pun menjadi rebutan.

Ia lalu menjadi komoditas berharga. Ia dianggap relatif bebas dari bahan pencemar, karena berasal dari hujan yang merembes masuk ke tanah, dan butir-butir tanah bisa mengikat sebagian besar bahan pencemar. Lantas, kalau kemudian ia dianggap amat berharga, sebetulnya bukan karena bersih, melainkan karena murah. Sebetulnya, air sekotor apa pun oleh teknologi bisa dibuat bersih, tapi itu perlu biaya. Jadi, buat apa susah menyucikan air berlimbah kalau air tanah mudah dieksploitasi.

Air adalah sumber kehidupan bagi segala jenis makhluk hidup, termasuk manusia. Ia tak hanya diperlukan dalam proses metabolisme pada tingkat organisme, bahkan di tingkat inti sel. Dalam peradaban maju, kebutuhan tubuh manusia atas air itu tak lagi dipenuhi semata dari air bumi. Dunia industri telah menambahkan pelbagai macam substansi agar air bisa memberikan kenikmatan rasa dan daya gunanya bagi tubuh.

Kini dunia industri makin menempatkan air sebagai bahan baku untuk komoditas yang kian canggih. Ada proses industri yang membuat enam molekul air murni bergandengan membentuk bangun heksagonal. Konon, dalam format ini, air jadi lebih mudah menembus membran hingga cepat masuk ke sel yang merupakan unit terkecil dalam sistem jaringan. Manfaatnya, konon proses fisiologi di dalam sel lebih dinamis. Tubuh manusia lebih sehat berkat konsumsi air canggih ini --katanya.

Para era sebelumnya, air pun dibubuhi pelbagai konsentrat yang dianggap diperlukan oleh tubuh. Di sinilah industri langsung mengincar sumber air alam. Dunia industri tentu akan menikmati nilai tambah sangat menarik untuk air alam ini. Atas nama pajak, kesempatan kerja, pendapatan asli daerah, APBN, atau apa pun, sumber air pun jatuh ke tangan industri.

Air lantas menjadi barang dagangan semata. Air tak lagi menjadi sumber kehidupan bagi unsur-unsur ekologi di sekeliling, termasuk manusia. Siklus air berubah. Pada saat itulah, guncangan ekosistem bisa muncul. Termasuk gesekan sosial. Sesungguhnya, siklus alamiah air memberi kebajikan sendiri.

Putut Trihusodo
[Lensa, Gatra Edisi 25 Beredar Senin, 1 Mei 2006]

[+/-] Baca Selengkapnya...

Di Balik Senyum Condy

Senin, 20 Maret 2006

Putut Trihusodo

DENGAN memboyong satuan pengamanan sendiri, berseragam militer dan bersenjata pula, Condoleeza Rice datang ke Jakarta dengan penuh percaya diri. Memang tidak lazim dalam tata krama di dunia diplomatik. Tapi, siapa yang bisa menolak. Bahkan, saat menyambut Menteri Luar Negeri Amerika Serikat itu pekan lalu, kita ikut jadi paranoid. Sekitar 1.500 personel polisi dikerahkan.

Condy Rice, begitu dia biasa disapa, adalah andalan Presiden George W. Bush dalam urusan politik luar negerinya. Pers menyebutnya orang kuat kedua di Amerika setelah George Bush. Tak mengherankan bila predikat itu jatuh ke sosok Menteri Luar Negeri, karena segala urusan domestik di Amerik Serikat sudah tertangani oleh negara bagian, distrik, dan swasta. Gedung Putih bobotnya lebih ke ''pemerintahan dunia''. Condy tumpuannya. Sosoknya sebagai perempuan terpelajar, cerdas, gaul tapi tegas mendukung pekerjaan beratnya itu.


Di Jakarta, Condy berbicara banyak hal. Dari flu burung, HAM, problem laten Palestina, terorisme, hingga nuklir Iran. Tak lupa, ia memuji kemajuan demokrasi dan toleransi kehidupan di Indonesia. Ia tamu yang santun, yang tak ingin membuat tuan rumah malu hati. Memang tak ada yang harus membuatnya kesal. Urusan Exxon atas minyak Blok Cepu beres. Freeport secara bisnis juga aman-aman saja.

Toh, semenarik apa pun kepribadian Condy Rice, tetap saja ia bekerja untuk national interest Amerika Serikat versi Gedung Putih. Semanis apa pun ia berbicara, misinya adalah untuk kepentingan nasionalnya. Jadi, tugas pokoknya adalah merayu, membujuk, menekan. Tidak kurang, tidak lebih. Condy instrumen terdepan untuk menegakkan kepentingan Amerika dalam "pemerintahan" dunia Gedung Putih yang berotak dan berotot.

Kekuatan militer Amerika Serikat tak ada bandingnya. Negeri ini mengalokasikan US$ 401 milyar untuk keperluan militer pada 2005. Itu tidak termasuk ongkos operasi di Irak dan Afghanistan. Anggaran pertahanan Amerika, termasuk untuk operasi intelijennya, setara dengan 40%-45% anggaran militer dunia. Kalau kekuatan militer itu berbanding lurus dengan dana, kekuatan Amerika hampir setara dengan kekuatan sisa dunia.

Setelah mengalami perang saudara yang dahsyat pada 1860-1865, angkatan perang Amerika Serikat tak pernah lagi beroperasi di home land-nya. Mereka bermain di tanah orang. Dari Perang Dunia (PD) I, Perang Dunia II, Perang Korea, lalu Perang Vietnam. Setelah Perang Dingin usai, spektrum daerah operasi militer Amerika malah makin luas. Posturnya merang lebih ramping, hanya sekitar 1,5 juta personel --bandingkan dengan era PD II yang mampu memobilisasi sampai 5 juta prajurit. Tapi kini militer Amerika sarat teknologi. Kapasitasnya mumpuni untuk mengontrol dunia.

Atas nama membantu kawan seiring, Presiden George Bush (senior) menghajar Irak pada Perang Teluk I di tahun 1991. Dengan cara lebih elegan, Presiden Bill Clinton menyerang kekuatan Serbia di Kosovo. Clinton meyakini apa yang terjadi di negeri Balkan itu adalah para pemimpin yang melakukan tindak kriminal di negara sendiri dengan melakukan genosida. ''Karena genosida menjadi kebijakan nasionalnya, kita harus menyerang,'' kata Clinton. Tapi ia berdiam diri atas genosida di Rwanda dan Somalia.

Era George Bush lain lagi. Serangan 11 September 2001 membuatnya menyusun peta perang baru. Ada negara-negara yang dianggapnya hostiles. Afghanistan, Irak, Korea Utara ada dalam list-nya. Ada pula yang disebut unstable nations. Di situ, 25 negara masuk daftar, Venezuela di bawah Hugo Chavez, Bolivia, Peru, Aljazair, Sudan, dan Nigeria. Terhadap dua kategori negara tersebut, militer Amerika Serikat diizinkan menyerang! Bila perlu.

Mana musuh dan mana kawan, Gedung Putih tampaknya punya ukuran jelas: sejauh mana kepentingan atas kenyamanan hidupnya diakomodasi. Di balik senyumnya, Condy bertugas memastikan, kalau langkah diplomasi dan kebijakan ekonomi direspons secara positif, peluru tak perlu meletus.

Gatra, 20 Maret 2006


[+/-] Baca Selengkapnya...

Menoleh ke Laut

Senin, 02 Januari 2006

Putut Trihusodo

Para nelayan itu hanya bisa bergumul dengan laut. Namun sesungguhnya mereka tak benar-benar memiliki akses pada kekayaan laut. Kapasitas teknologi yang ada pada mereka jauh dari memadai. Maka, kalaupun Indonesia mencatat produksi ikan laut 4,4 juta ton, sebagian masuk ke perut kapal-kapal tangkap milik cukong asing yang beroperasi dengan bendera Merah-Putih.

LAUT kita adalah sawah ladang yang sungguh tak terkira nilainya. Tanpa harus mencangkul dan membajaknya, kita bisa memanen hasilnya kapan kita suka. Laut pun tak meminta pupuk atau obat-obatan pengusir hama. Tak ada kata paceklik. Sekiranya kita punya teknologi dan modal, musim barat atau musim timur bukan halangan. Sekiranya kita punya pengetahuan, tidak sulit kita mencari haluan untuk menebar jaring.


Luas laut kita tak kurang dari 4 juta kilometer persegi. Menjadi 5,8 kilometer persegi jika kita mau sedikit bersusah payah melayari zona ekonomi eksklusif. Potensi lestari ikan di sana tidak kurang dari 6,4 juta ton per tahun. Kalau saja nelayan kita sanggup menangkap separuh saja, dan menjualnya dengan harga Rp 15.000 per kilogram, rezeki dari laut ini akan mencapai Rp. 46,5 trilyun. Angka itu boleh jadi berlipat, mengingat harga ikan kerapu bebek di Singapura, misalnya, bisa mencapai S$ 95 (sekitar 570.000) dan kerapu sunu S$ 32 (sekitar Rp 186.000). Bahkan kakap merah yang bukan jenis ikan gedongan bisa laku Rp 36.000 per kilogram.

Ironisnya, dari tahun ke tahun, nelayan kita tetap saja tertinggal, rombeng, compang-camping. Desa nelayan identik dengan kantong kemiskinan. Survei oleh tim Departemen Kelautan dan Perikanan, 2005, sebelum harga BBM menjulang naik, menunjukkan porsi keluarga miskin di desa pesisir Jawa Timur mencapai 33,8%, dua kali rata-rata angka kemiskinan nasional. Bahkan, di pesisir Kabupaten Trenggalek, angka keluarga papa itu mencapai 58,3%, dan di Sumenep 52,1%.

Para nelayan itu hanya bergumul dengan laut. Namun sesungguhnya mereka tak benar-benar memiliki akses pada kekayaan laut. Kapasitas teknologi yang ada pada mereka jauh dari memadai. Maka, kalaupun Indonesia mencatat produksi ikan laut 4,4 juta ton, sebagian masuk ke perut kapal-kapal tangkap milik cukong asing yang beroperasi dengan bendera Merah-Putih. Kalau saja kapal-kapal durjana itu bisa kita halau, dan nelayan nasional diberdayakan, masih ada dua juta ton ikan segar lagi yang dapat kita panen setiap tahun.

Laut kita adalah sawah ladang yang tak pernah kering. Sejauh kita tidak tamak menggarapnya, ia akan menjadi harta pusaka yang abadi, yang terus akan memberi manfat buat anak-cucu, cicit, canggah, gantung siwur, dan seterusnya. Laut adalah sumber daya yang renewable, terbarukan.

Minimnya kapasitas teknologi yang dimiliki nelayan dan juragan-juragannya kadang membuat mereka menjadi zalim. Mereka menggarap harta pusaka itu dengan cara-cara teroris: bom! Natrium klorat dicampur posfat dalam adonan, diberi sumbu detonator, lalu buum! Begitulah, sebagian nelayan kita mengambil jalan pintas untuk mendapatkan kerapu bebek atau ikan napoleon. Terumbu karang hancur lebur bersama ikan-ikan yang bersarang di habitat itu. Siapa peduli.

Kemiskinan memang mudah menggoda nelayan kita menjadi ''teroris'' laut. Mereka begitu lama hidup dalam sistem ekonomi yang menekan. Rentenir lebih mereka kenal ketimbang teller bank atau ATM. Investasi adalah hal mewah yang tidak pernah mereka sentuh. Selama pemerintahan Orde Baru, investasi domestik di sektor perikanan (kelautan ada di dalamnya) cuma 1,4%. Sangat jomplang dibandingkan dengan industri yang meraup 68,7%. Investasi asing sama saja. Tanpa insentif, tanpa komitmen, tak ada investasi.

Pasca-Orde Baru, pemerintah lebih punya visi kelautan. Sejak pemerintahan KH Abdurrahman Wahid, muncul Departemen Kelautan. Negara pun menoleh ke laut. Namun tak kunjung hadir langkah kongkret untuk memberdayakannya hingga kini. Investasi ke sektor laut masih terseok-seok. Perlu affirmative policies dan affirmative actions untuk sektor yang masih tertinggal ini. Situasi tak bisa dibiarkan berlarut-larut.

Laut jangan lagi menjadi anak tiri yang dibiarkan hancur, tercemar, terjarah, dan tidak terurus. Sudah saatnya laut menjadi prioritas. Pemberdayaan laut tak hanya menolong nelayan miskin. Lebih dari itu, dari sana juga akan muncul permintaan tenaga kerja. Apalagi, laut kita tidak hanya memberi ikan. Di sana ada juga minyak, gas bumi, mineral, pasir, dan kekayaan biota lainnya, semisal rumput laut. Di situlah diperlukan kebijakan yang terfokus, agar pemanfaatan sumber daya itu tak mengusik satu sama yang lain yang bisa mengakibatkan kerusakan ekosistem.

Di atas laut terhampar banyak kesempatan. Di pesisir laut, terbentang 1,2 juta hektare lahan yang cocok untuk tambak udang, dan baru diusahakan 350.000 hektare. Hasil tambak kita rata-rata baru 0,6 ton udang per musim. Bayangkan bila kita memiliki sejuta hektare tambak udang dengan produksi rata-rata 2 ton. Itu sama sekali tidak mustahil.

Kekayaan biodiversitas perairan pun luar biasa. Perairan Kepulauan Derawan. Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, misalnya, menyimpan 872 spesies fauna air. Mungkin saja sebagian dari mereka bisa ekonomis untuk dibudidayakan. Derawan sendiri memiliki pesona laut luar biasa, tak kalah dari The Great Reef di Queensland, Australia, tempat tujuan wisata dunia yang menghasilkan US$ 2 milyar pada 2002.

Pantai-pantai indah dan perairan yang eksotik bertebatan di Indonesia. Jangan hanya sebut Bunaken, karena masih ada kawasan seperti Derawan, Pulau Tukang Besi di Buton, Pulau Padaido (Biak), Pulau Ranca-Komodo, dan masih banyak lagi yang mendapat indeks di atas 31 atas keelokannya dari World Tourism Organization. Padahal, indeks untuk Great Reef hanya 28, Karibia 25, dan Tahiti cuma 21.

Edisi khusus Gatra kali ini membedah potensi sumber daya laut kita, dengan segala macam problemnya, mulai aspek kesejarahan teritorinya, kebijakan kelautan kita, nasib nelayan, bisnis-bisnis yang bermain di lahan basah ini, hingga persoalan konservasi serta upaya pengamanannya. Laut masih menjadi potensi yang belum tergarap secara memadai. Mari kita berlayar.

Gatra, 2 Januari 2006


[+/-] Baca Selengkapnya...

Hurricane: Mengganas di Atas Titik Panas

Senin, 03 Oktober 2005

Oleh Putut Trihusodo

Awan badai Hurricane makin dahsyat dan berbahaya. Frekuensi topan kategori ganas naik dari 10 ke 18 kasus per tahun. Kecepatan anginnya meningkat 50%. Titik-titik panas di laut menambah daya rusaknya.

MAU pilih Bianca, Katrina, atau Rita, sama saja. Semuanya bikin sengsara. Maklum, mereka adalah anak-anak kandung awan badai Hurricane yang disemai di perairan tropis Atlantik. Setelah tumbuh cukup besar, mereka bergerak ke arah utara, mengalami penguatan, lalu menebar petaka di pesisir selatan Amerika Serikat, seperti Texas, Lousiana, Alabama, dan Florida. Anak-anak badai ini bisa juga tiba-tiba menyerang pantai timur, mulai Georgia, South Carolina, bahkan hingga Massachussetts.

Topan badai Katrina, yang meluluhlantakkan daerah perbatasan Lousiana dan Texas selama dua hari, 29 hingga 30 Agustus lalu, yang disusul Rita tiga pekan kemudian, sungguh menjadi mimpi buruk bagi penduduk setempat. Kota New Orleans hancur lebur oleh terjangan angin, hantaman air bah, dan gulungan ombak. Bangunan-bangunan roboh, atap rumah terbang, bahkan pohon tercerabut dari akarnya dihantam angin berkecepatan 200 kilometer per jam.


Korban jiwa berjatuhan. Sekitar 450 orang tewas di Lousiana, dan hampir 150 orang lainnya di Texas. Sepertiga kawasan bencana tergenang. Kerugian materiil diperkirakan US$ 63 milyar. Itu baru akibat ulah Katrina.

Ketika Rita datang menyusul, New Orleans kembali tergenang. Tapi warga lebih waspada. Mereka berbondong-bondong mengungsi ke utara, daerah yang lebih aman. Korban bisa dimimalkan. Namun Rita tetap memberikan kerusakan ekstra bagi daerah-daerah yang baru ditinggalkan oleh saudarinya: Katrina.

Topan badai seperti bertubi-tubi menghantam pesisir selatan Amerika, Teluk Meksiko. Cuma dalam tempo tiga pekan antara Katrina dan Rita, sempat tumbuh lima awan badai lain di Laut Karibia, dan diperkirakan akan bergerak ke Teluk Meksiko. Angin yang ditimbulkan sudah melampaui 40 kilometer per jam. Meski belum tergolong Hurricane, awan badai itu sempat pula diberi nama resmi: Lee, Maria, Nate, Ophelia, dan Phillipe. Untunglah, kelimanya hancur secara alamiah sebelum tumbuh menjadi Hurricane.

Secara keseluruhan, sebelum Katrina datang, di Atlantik tumbuh 10 bibit awan badai. Semua sudah diberi nama, tapi hanya empat yang tumbuh jadi Hurricane. Itu pun kemudian buyar di tengah jalan. Juni-November memang musim badai, dan puncaknya Agustus-Oktober. Saat itu, Samudra Atantik, di perairan tropis Karibia, menjadi tempat bersemainya bibit-bibit awan badai. Di wilayah Pasifik, sumbernya di lepas pantai Meksiko.

Namun, dibandingkan dengan musim badai tahun-tahun yang lalu, Hurricane 2005 ini tergolong paling merusak. Sebagian ahli kemudian menunjuk biang keladinya: pemanasan global. Tudingan pun mengarah ke Presiden George W. Bush. Bukan saja dianggap tak cukup tanggap atas bahaya awan badai itu, ia juga dinilai tak peduli pada masalah seserius pemanasan global dan perubahan iklim.

Sampai hari ini, Amerika Serikat masih enggan meratifikasi Protokol Kyoto, komitmen mengurangi emisi gas rumah kaca. Konsumsi bahan bakar fosil --minyak bumi, gas alam, dan batu bara-- yang menjadi sumber utama membanjirnya gas residu, yang biasa disebut gas rumah kaca, ke atmosfer. Ujungnya, terjadi pemanasan global.

Istilah efek rumah kaca diterima secara luas karena gas-gas itu berlaku seperti genteng kaca: meneruskan radiasi gelombang panjang, tapi menahan inframerah menembus atmosfer bumi. Radiasi gelombang panjang itulah yang membuat atmosfer makin panas. Pada gilirannya, suhu air laut menjadi lebih hangat.

Secara rata-rata, kenaikan suhu air laut selama 1971-2000 cuma sekitar 0,25 derajat celsius. Kenaikan suhu udara cuma 0,5 derajat celcius selama seabad terakhir. Belum jelas betul pola perubahan iklim yang diakibatkannya. Namun di Atlantik muncul titik-titik panas (hot spot) yang temperaturnya 1,1-3,3 derajat celsius lebih tinggi dari rata-rata setempat pada periode 1971 hingga 2000.

Keprihatinan atas ancaman perubahan iklim itu diserukan oleh para aktivis lingkungan, termasuk bintang film dan penyanyi Barbara Streisand. "Kita kini dalam situasi darurat pemanasan global. Topan badai akan lebih sering terjadi, dan dengan intensitas yang makin dahsyat,'' ujarnya, seperti dikutip US Network Television.

Benarkah semua gara-gara global warming? Ada keraguan bahwa bencana di pantai selatan Amerika itu akibat pemanasan global. Alasannya, mengapa lonjakan badai hanya terjadi di Atlantik, kalau efeknya global kok tidak muncul di Pasifik atau di Laut Cina Selatan?

Lagi pula, mengapa baru terjadi tahun ini, sementara 10 tahun sebelumnya tidak banyak lahir Hurricane ganas, meski pemanasan global juga sudah berlangsung. ''Terlalu spekulatif mengaitkannya,'' kata Julian Heming, ahli atmosfer dari Badan Meteorologi Inggris, seperti dikutip BBCNews. Ia lantas mengingatkan, betapapun dahsyatnya Katrina dan Rita, rekor Hurricane 1935 masih belum terlampaui.

Katrina, Rita, dan Bianca (topan yang merusak pesisir Georgia tahun 1970-an) tumbuh seperti awan badai lazimnya. Formasi awan terbentuk karena ada pusat tekanan rendah di tengah laut. Massa udara mengalir dari daerah sekitarnya. Karena pengaruh rotasi bumi, aliran massa udara busur lengkung searah jarum jam, untuk wilayah hemisfer utara --dan arah yang sebaliknya di belahan bumi selatan. Uniknya, pertemuan massa udara dari pelbagai penjuru, yang masing-masing searah jarum jam, itu hasilnya justru jadi pusaran massa yang berlawanan dengan arah jarum jam.

Pusaran itu makin lama makin kuat, karena massanya kian besar. Uap air yang terbawa udara naik oleh pusaran udara kemudian mengembun karena suhu dingin di atmosfer atas. Proses pengembunan itu melepaskan panas (kalor), dan itu memberikan energi tambahan bagi awan badai itu untuk makin berkembang. Pada kasus Katrina dan Rita, awan badai itu terbentuk di Karibia, lalu bergerak ke Teluk Meksiko yang saat itu suhu airnya 3 derajat celsius di atas normal.

Pertumbuhan awan badai pun menjadi-jadi karena adanya tekanan rendah dan uap air ekstra di teluk itu. Maka, kekuatan kedua topan itu berlipat, lalu muncullah hujan deras, tiupan angin kencang, dan gulungan ombak yang menderu. Pada puncaknya, kecepatan pusaran angin Rita mencapai 282 kilometer per jam.

Judi Curry, direktur pada School of Atmospheric Sciences, Georgia Institute of Technology, Amerika Serikat, mengakui bahwa belakangan Hurricane makin kuat dan mematikan. Toh, ia mengakui pula, secara global frekuensi kejadian awan badai dari musim ke musim, selama 35 tahun dilakukan monitoring satelit, tak menunjukkan perbedaan signifikan. Selalu ada keseimbangan. Kalau frekuensi di Pasifik meningkat, di Atlantik menyusut. Namun porsi awan badai yang kuat dan merusak terus meningkat, dari 10 ke 18 kejadian pe tahun. Kecepatan anginnya pun secara rata-rata terkerek 50%.

Yang membuat intensitas badai itu meningkat, menurut Curry, adalah munculnya titik-titik panas di laut, seperti di Teluk Meksiko itu. Kondisi ini seperti memberikan bahan bakar jet bagi turbin Hurricane. Ia tak mau berspekulasi tentang hubungan Hurricane dan perubahan iklim, karena tak ada bukti yang komprehensif. Seperti pakar yang lain, ia cuma berpesan, kalau keseimbangannya terganggu akibat ulah manusia, alam akan mengembalikannya dengan caranya sendiri. Termasuk melepas energinya dalam bentuk badai topan.

Putut Trihusodo

Katrina Mungkin Takkan Kembali

DARI 21 nama yang tersedia untuk Hurricane produksi Atlantik 2005, sebanyak 17 telah terpakai. Yang pertama Arlene, lalu Bret, Cindy, sampai Katrina hingga Rita yang ke-17. Nama-nama ini diberikan secara resmi oleh sidang Organisasi Meteorologi Dunia (WMO). Tujuannya, mempermudah komunikasi petugas pemantau cuaca dengan masyarakat. Maklum, kadang ada dua awan badai yang tumbuh bersamaan di tempat terpisah. Keduanya perlu nama sendiri.

Sejak 1979, WMO selalu membuat daftar nama topan itu dengan siklus enam tahunan. Setiap tahun didaftar 21 nama, dua pertiga perempuan, sepertiga nama laki-laki. Semuanya nama depan. Daftar nama 2005 itu adalah pengulangan 1999. Pola yang sama diterapkan untuk awan badai Pasifik. Namun kemungkinan nama Katrina dan Rita tak akan dipakai lagi pada 2011. Bila ternyata melahirkan Hurricane ganas, nama-nama itu dipensiunkan, seperti Alicia, Carol, Marilyn, dan Roxane.

Tradisi memberi nama topan badai itu sudah lama ada. Para pelaut Puerto Riko, misalnya, melakukannya dengan mencomot nama orang suci, seperti Santa Ana atau San Felipe. Yang pertama menyebut topan dengan nama perempuan adalah orang-orang Australia, akhir abad ke-19. Setelah itu, penyebutan nama tak mengikuti pakem yang jelas. Baru kemudian, pilot-pilot Perang Dunia II memopulerkan kembali nama perempuan.

Adalah Pemerintah Amerika Serikat yang memelopori penamaan resmi itu untuk keperluan pelayanan prakiraan cuaca 1953. Ketika itu, Amerika hanya mengambil nama-nama depan perempuan. Baru pada 1979, penamaan ini diorganisasi lebih rapi. Begitu muncul awan badai besar dengan kecepatan angin di atas 50 kilometer per jam, nama pun disematkan. Aturannya mengikuti abjad. Badai pertama menyandang nama dengan huruf depan A, yang kedua B, dan seterusnya. Namun huruf Q, U, X, Y, dan Z tak dipakai, karena juga jarang dipakai untk mengawali nama depan.

Hurricane adalah awan badai berukuran besar. Berbeda dari Tornado yang skalanya sangat lokal dengan lebar awan kurang dari 1 kilometer. Hurricane juga dibagi menurut kekuatannya. Kategori I adalah yang punya kecepatan angin 74-95 mil per jam. Kategori II 96-110 mil per jam, kategori III 111-130 mil per jam, kategori IV 131-155 mil per jam, dan kategori V di atas 155 mil per jam. Pada kategori V, awan badai ini bisa menimbulkan gelombang laut setinggi 5,4 meter.

GATRA, 3 Oktober 2005

[+/-] Baca Selengkapnya...