Menyongsong Apocalypse Ketiga

Selasa, 23 Januari 2007

Oleh Putut Trihusodo
Cadangan minyak akan lebih cepat habis dari yang diperkirakan. Peradaban manusia modern telah menimbulkan ancaman serius. Suhu udara global naik 5 derajat celsius di akhir abad ini. Tapi akibatnya mengerikan.

HALF GONE: OIL, GAS, HOT AIR AND THE GLOBAL ENERGY CRISIS
Penulis: Jeremy Leggett
Penerbit: Portobello Books Ltd, London, 2006 (322 halaman)

Minyak itu segala-galanya. Sembilan puluh persen transportasi, baik di darat, udara, maupun air, bertumpu pada bahan bakar minyak. Sembilan puluh lima persen barang di toko melibatkan minyak dalam proses produksinya. Bahkan 95% bahan makanan memerlukan minyak untuk pengadaannya. Sebagai contoh, di Amerika, peternak sapi memerlukan enam barel minyak untuk memelihara sampai membawa dagingnya ke pasar.

Keruan saja, konsumsi minyak terus saja membubung. Saat ini, konsumsi minyak dunia mencapai 80 juta barel per hari atau 29 milyar barel per tahun. Pada 2025, menurut prediksi Pemerintah Amerika Serikat, konsumsi minyak akan melonjak ke 120 juta barel per hari atau 43 milyar barel per tahun. Versi lainnya, International Energy Agency, 121 juta barel per hari pada 2030. Konsumsi Amerika Serikat seperempatnya.

Upaya mengerem laju konsumsi itu selalu sulit. Kalau saja, misalnya, industri mobil Amerika sudi meningkatkan efisiensi mobil sport dan truk-truk mereka dengan 2,7 mil per galon, negeri itu bisa mengurangi seperempat konsumsinya. Bayangkan, komsumsi minyak di Amerika sehari mencapai 20 juta barel, dan 5 juta di antaranya diimpor dari Timur Tengah.

Boro-boro mau berhemat. Industri otomotif malah memanjakan konsumen dengan mobil-mobil keren tapi boros, terutama kategori sports utility vehicles (SUVs). Pada 1975, populasi SUVs ini hanya 2%. Kini melonjak jadi 24%. Tentu saja, efisiensi bahan bakar rata-rata mobil di sana turun dari 26,2 mil per galon pada 1987 menjadi 24,4 mil per galon pada 2001. Minyak akan habis lebih cepat.

Titik Puncak

Salah satu bagian menarik dalam buku Jeremy Leggett itu ialah bagaimana dia mengulas tentang titik puncak dalam kurva produksi minyak dunia (topping point) sepanjang sejarahnya. Menurut Leggett, sejarah minyak bumi, sejak ditemukan di Amerika Serikat pada 1859, tidak akan lebih panjang. Setelah titik puncak terlewati, eksploitasi minyak (juga gas) akan menyusut untuk kemudian punah sama sekali.

Di situlah Leggett membenturkan pendapat dua kubu. Yang satu optimistis, sumber-sumber minyak baru akan terus ditemukan hingga tersedia dalam waktu lebih panjang. Kubu ini diwakili kalangan industri minyak, bankir, sekuritas, lembaga-lembaga pemerintah, analis ekonomi, dan mereka yang berkepentingan dengan pihak-pihak tadi.

Mereka dianggap sebagai kelompok yang percaya bahwa cadangan potensial minyak dunia masih 2 trilyun barel. Kalangan ini percaya, produksi minyak dunia masih bisa digenjot naik melampaui angka 40 milyar barel per tahun pada 2020-an. Leggett menyebut mereka the late toppers.

Sebaliknya, kubu kedua yakin, cadangan minyak dunia akan segera habis... bis. Mereka disebut terdiri dari para "pembangkang", yakni para pakar independen, wartawan, dan pencinta lingkungan. Kelompok kedua yang disebut early toppers ini berpegang pada kenyataan bahwa deposit minyak dunia terbukti tinggal tersisa 780 milyar barel. Angka ini di bawah statistik bahwa minyak yang telah disedot dari perut bumi sejak 1859 mencapai 920 milyar barel.

Kelompok kedua, the early toppers, tak menafikan bahwa masih banyak minyak yang bersembunyi dalam perut bumi yang belum terendus oleh pihak industri. Tapi tidak sebesar yang diduga kalangan late toppers. Maka, mereka menduga, produksi minyak dan gas pada 2015 akan mencapai titik kurva tertinggi. Produksi akan segera menurun tajam pada tahun-tahun berikutnya.

Salah satu hal menarik yang diungkapkan Leggett ialah kenyataan betapa kelompok late toppers sering semau-maunya merilis angka deposit minyak. Ia mengutip sinyalemen keluhan Sir Phillip Watts, chairman raksasa minyak Shell. Menurut dia, seperti dikutip Leggett, estimasi Shell 20% lebih besar dari angka semestinya.

Jeremy Leggett juga menulis betapa janggalnya angka global oil's reserves versi BP (Beyond Petroleum), raksasa minyak yang lainnya. Dalam versi ini, deposit minyak yang telah terklarifikasi secara teknis adalah 1,147 trilyun barel. Leggett menyebut angka ini hanya dicomot dari Sekretariat OPEC, kantor industri minyak, dan lembaga pemerintah dari pelbagai negara. Celakanya, data itu menjadi acuan banyak orang, mulai mahasiswa hingga pelaku ekonomi, meski akurasinya lemah.

Data itu disebut meragukan, karena BP tak secara cepat memperbaruinya. Sementara itu, beberapa negara produsen minyak sudah meng-up-date-nya sesuai hasil observasi terbaru. Iran, misalnya, dalam data BP disebut memiliki potensi 90 milyar barel. Namun Samsan Bakhtiari dari National Iranian Oil Company belakangan mengakui bahwa estimasi 37 milyar barel adalah angka yang realistis.

Saksi Ahli

Tak hanya menggugat data BP, penulis juga mencoba menggugah para pembaca tentang krisis bahan bakar fosil itu. Leggett, pakar sejarah geologi yang meraih PhD dari Universitas Oxford, Inggris, melakukan pendekatan lain. Ia menghadirkan sosok-sosok ilmuwan geologi yang juga praktisi perminyakan, yang menjadi "saksi ahli" untuk mendukung tesisnya tentang sumber daya fosil yang disebut telah tandas separuh itu.

Di antaranya adalah Colin Cambell, geolog, peraih PhD dari Oxford pula, yang selama lebih dari 20 tahun menggeluti eksplorasi minyak melalui perusahaan tempat ia bekerja: Texaco, BP, kemudian Amoco. Cambell, yang kini menjadi konsultan dan memiliki database dari 18.000 unit ladang minyak, memberi kesaksian bahwa klaim penemuan ladang baru itu tidak sebesar yang diperkirakan. Bahkan 80% produksi minyak dunia saat ini berasal dari ladang minyak yang ditemukan sebelum 1973.

Selain Cambell, Leggett juga menghadirkan pakar lain yang punya reputasi tinggi, Chris Skrebowski dan Matthew Simmons. Mereka menolak hipotesis tentang teori cadangan minyak yang melonjak.

Efek Rumah Kaca

Satu setengah abad peradaban manusia mengonsumsi minyak bumi telah melahirkan kesadaran mengenai pemanasan global. Pembakaran minyak, gas, dan batu bara membuat atmosfer bumi makin dijejali gas CO2, komponen utama dalam fenomena gas rumah kaca. Karbon dioksida itulah yang membuat sebagian energi panas matahari yang menerpa bumi terjebak di atmosfer. Suhu udara pun merambat naik.

Sampai awal abad ke-21 ini, kenaikan temperatur belum terasa menyengat. Tapi suhu udara akan naik seiring lonjakan konsentrasi CO2-nya. Celakanya, selama beberapa dekade terakhir, kenaikan kadar gas asam arang itu mengikuti kurva eksponensial yang menjulang tinggi dalam waktu yang singkat.

Sebagai pakar sejarah geologi, Jeremy Leggett bertutur tentang 400.000 tahun sebelumnya, ketika kadar CO2 praktis stabil pada kisaran 200-300 ppm. Namun, akibat pemborosan bahan bakar fosil itu, kini konsentrasi CO2 melompat di angka 380 ppm. Ada kenaikan suhu rata-rata dunia, kecil saja, tak sampai 1 derajat celsius.

Namun tren bahaya ini terus berlanjut. Leggett mengingatkan soal ambang batas yang tipis, yakni 2 derajat celsius. Lebih dari itu, pelbagai bencana bisa dipastikan akan melanda bumi, dan itu tak akan lama lagi, yakni tahun 2050-an. Bahkan, di akhir abad ke-21 ini, suhu rata-rata dunia akan meningkat sampai 5 derajat celsius.

Jangan tanya soal akibat sosial atau ekonominya. Secara fisik, bumi akan menderita serius. Muka air laut naik, ketersediaan air bersih terguncang, paceklik bahan pangan, keragaman hayati merosot tajam, banjir, badai, dan seterusnya. Kehancuran tak akan bisa dielakkan.

Apocalypse

Kiamatkah? Apa pun namanya. Namun, sebagai ahli sejarah geologi, Jeremy Leggett mengisahkan di bagian pertama bukunya yang ditulis secara menarik, dalam, dengan bahasa tutur yang mengalir --dengan tajuk ''The Story of the Blue Pearl''-- bahwa bumi telah dua kali mengalami kehancuran dahsyat (apocalypse).

Yang pertama terjadi sekitar 350 juta tahun silam. Bumi tiba-tiba kerkabut tebal. Udara tak lagi bisa dipakai untuk bernapas. Laut kehilangan oksigen. Sekitar 90% spesies makhluk hidup yang ada di dunia musnah. Para ahli geologi belum dapat memastikan penyebabnya. Ada yang mengatakan akibat erupsi gunung-gunung berapi. Ada pula yang bilang karena bumi ditabrak batu meteorit raksasa. Yang kedua, 65 juta tahun silam, terjadi karena ada meteor menabrak bumi. Ekosistem dinosaurus punah.

Apocalypse ketiga? Leggett menyebutnya terjadi karena ulah manusia. The thinkers, demikian ia menyebutnya. Makhluk berakal itu ternyata tak bisa mengendalikan nafsunya. Alam dieksploitasi habis-habisan dan akhirnya kolaps. Akan ada zaman baru lagi? Leggett tak membahasnya.

Januari 2007


[+/-] Baca Selengkapnya...

Panggung Artis

Senin, 25 September 2006

Putut Trihusodo

Jangan mengecam artis. Tak usah pula mempersalahkan media. Keputusan pemilih memang selalu berada di bawah bayang-bayang hegemoni itu. Tindak komunikasi aktif adalah cara menggugah yang rasional karena sangat kalkulatif

Sekalian rakyat itu hanya audiens. Mereka mudah terpukau, tergoda, menyumpah, jengkel, menangis, dan tertawa hanya oleh sebuah realitas yang disaksikannya di televisi. Sekalian rakyat pun berubah jadi kerumunan massa yang mudah terombang-ambing dalam arus informasi yang mengalir deras. Realitas yang mereka pahami juga praktis sebatas realitas media --yang kehadirannya tak bisa lepas dari kepentingan dan keterbatasan. Apa pun, begitulah peradaban kita kini.

Seorang pemikir, ia biasa disebut filsuf, Noam Chomsky, mengingatkan kita betapa gawatnya kecenderungan ini. Sampai-sampai ia mengatakan bahwa politik itu hanya permainan media. Pria Yahudi-Amerika itu menyebut industri pers di negerinya telah tumbuh menjadi kekuasaan besar. Ia seperti punya otoritas untuk memutuskan mana baik, mana buruk, mana benar, dan mana salah.


Chomsky pun berteriak. Ia tidak rela melihat pers di negerinya berkolaborasi dengan pemerintahan Gedung Putih dan perusahaan-perusahaan raksasa, lalu bersekongkol mengamankan kepentingan bersama. Utamanya dalam kebijakan luar negeri. Tema-tema kolaborasi itu bisa tentang demokrasi, advokasi HAM, atau perang melawan narkoba. Prakteknya, semua dilakukan dengan standar ganda.

''Media pers Amerika telah merekayasa kesepakatan publik,'' ujarnya. Kesepakatan yang ada cuma fakta media, bukan realitas publik yang sebenarnya. Kesepakatan semu. Media pers telah menjadi antek Gedung Putih dan sekalian raksasa industri di negeri adikuasa tersebut.

Namun media Amerika pula yang membuat buku Chomsky, Hegemony or Survival: America's Quest for Global Dominance, menjadi best-seller dalam pekan-pekan ini di Amazon.com. Gara-garanya, Presiden Venezuela Hugo Chaves, ketika berpidato di depan Sidang Umum PBB, 20 September lalu, memuji-muji Noam Chomsky dan mengutip isi bukunya. Promosi gratis itu semakin menggema, karena Chaves lagi-lagi menunjukkan sikap penentangannya yang terbuka kepada si "iblis" George W. Bush. Aksi Chaves mendapat liputan luas.

Media pers sebagai institusi tentunya netral. Ia bisa menjadi sarana penyesatan publik, sebagaimana kritikan Chomsky, atau bisa menjadi fasilitas komunikasi yang berguna. Syaratnya adalah komunikasi yang jujur. Apa yang disampaikan media secara jernih dipahami publik. Di sini pers juga bisa menjadi agen demokrasi yang efektif. Ia bisa ikut memandu menuju pencapaian kesepakatan umum.

Kuncinya adalah tindak komunikasi aktif, kata Jurgen Habermas. Pemikir Jerman itu mengingatkan pentingnya media pers menjaga komunikasi dua arah secara seimbang. Komunikasi satu arah bisa membuat salah kaprah. Itulah yang biasa dilakukan koalisi birokrasi dan pemain bisnis di negara berkembang. Maka, kesepakatan yang muncul cenderung semu, distortif, dan cuma melahirkan tatanan rapuh. Maka, bagi Habermas, media perlu ikut memainkan tindak komunikasi aktif agar terjalin kesepahaman yang tanpa rekayasa.

Sebagai bagian dari dunia yang terbuka, pers Indonesia sedikit banyak terbawa oleh tren dunia. Ia juga mulai berkembang menjadi kekuatan besar yang sangat potensial untuk memegang hegemoni. Sejauh ini, sepertinya persekutuan tiga pilar --negara, dunia usaha, dan media pers, seperti gambaran Chomsky di Amerika-- tidak (belum) menjangkiti Indonesia. Pentas media bisa menjadi milik siapa saja.

Maka, dari pentas media, lahir selebriti-selebriti kondang. Mereka umumnya manusia pilihan --setidaknya berparas menawan dan berpostur menarik. Mereka pun menjadi pujaan publik dan, diakui atau tidak, punya pengaruh. Ibarat model busana, mereka juga menjadi acuan, ikut menentukan tren.

Dalam konteks ini, barangkali pendapat Roland Barthes, pemikir Prancis, jadi relevan. Fashion bisa menjadi hegemoni, dan tren busana pun seolah satu hal yang kudu diikuti. Begitu halnya pentas keartisan. Boleh jadi, ia dapat melahirkan hegemoni pula atas audiens. Fenomena ini lalu masuk ke jurusan politik ketika audiens menjelma jadi sekalian rakyat alias massa pemilih.

Di sini hegemoni keartisan akan menjadi modal politik. Bisa besar, bisa kecil. Jangan heran bila hegemoni keartisan kemudian muncul dalam pilkada atau pemilu legislatif. Bahkan ada fenomena terbalik, politikus berlaku bagai artis untuk menguatkan hegemoninya. Lepas dari soal adakah ini sistem rekrutmen yang baik atau tidak, itu barangkali kehendak zaman.

Jangan mengecam artis. Tak usah pula mempersalahkan media. Keputusan pemilih memang selalu berada di bawah bayang-bayang hegemoni itu. Namun, kembali pada pendapat Habermas bahwa tindak komunikasi aktif adalah cara menggugah (juga kampanye) yang rasional karena sangat kalkulatif.

Gatra, 25 September 2006


[+/-] Baca Selengkapnya...

Predator Pemangsa Hutan

Kamis, 31 Agustus 2006

Hukum rimba yang secara harfiah kita anggap kejam dan tak beradab sesungguhnya menyimpan kebijakan tersendiri. Naluri primitif seekor singa memang buas, tapi dia bukan tipe rakus. Singa memangsa pelanduk atau kijang hanya untuk bertahan hidup dan sampai sebatas kenyang.

Di tengah belantara hutan, yang ada hanya hukum rimba. Siapa yang perkasa, dialah sang pemenang. Tidak ada yang bisa melindungi si pelanduk lucu dari keberingasan harimau sang raja rimba. Nun di tengah padang savana di jantung Afrika sana, tak ada yang bisa menolong seekor kijang dari kawanan singa yang selalu lapar.


Hukum rimba, dalam versi cerita tutur tempo dulu, itu ialah tatanan yang tidak adil. Hewan-hewan bertaring yang ganas selalu saja memangsa satwa-satwa lembut yang imut. Maka, hukum rimba harus dijungkirbalikkan. Tidak ada alasan untuk berpihak pada kawanan singa, harimau, cheetah, serigala, hyena, buaya, atau ular sanca.

Cerita tutur itu barangkali dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa sayang pada satwa. Mungkin juga untuk merangsang kepekaan agar membela yang lemah. Tapi satu hal yang perlu digarisbawahi, dongeng itu tidak utuh memberi gambaran mengenai hutan sebagai ekosistem dengan hukum-hukumnya sendiri.

Singa, harimau, cheetah, hyena, dan karnivora lain adalah kelompok predator, kasta tertinggi dalam urutan rantai makanan. Mangsa mereka adalah kelompok herbivora. Di situlah terjadi aliran energi secara permanen. Rumput dan pepohonan menyintesis karbohidrat (gula) melalui reaksi fotosintesis. Metabolisme lebih jauh pun membuat tumbuhan memproduksi lemak, protein, dan vitamin.

Dengan mengonsumsi hasil tumbuhan (daun, pucuk ranting, atau buah), herbivora mendapatkan energi. Dengan memangsa herbivora, predator punya tenaga. Tapi ada aturan di kalangan mamalia pemangsa. Sesama predator dilarang saling memangsa. Kalaupun terjadi the war of predators, yang kadang menelan korban, itu umumnya hanya menyangkut perebutan teritori. Jadi, di hutan ada pula keteraturan.

Hukum rimba yang secara harfiah kita anggap kejam dan tak beradab sesungguhnya menyimpan kebijakan tersendiri. Naluri primitif seekor singa memang buas, tapi dia bukan tipe rakus. Singa memangsa pelanduk atau kijang hanya untuk bertahan hidup dan sampai sebatas kenyang. Ia bukan membunuh kijang untuk kesenangan, apalagi memperlakukannya sebagai kekayaan. Singa suka makan sampai kenyang, setelah itu tidur atau bermalas-malasan. Tak peduli esok pagi masih ada rezeki atau tidak. Ia bisa tidur 20 jam sehari.

Populasi hewan buas ini juga tak akan meledak. Hukum rimba terus mengontrolnya. Perlu perjuangan berat bagi singa atau harimau untuk menangkap setiap buruannya. Tak pernah tersedia makanan melimpah ruah. Di sana, di tengah rimba, ada harmoni untuk menjaga keseimbangan alam.

Hutan rimba tempat harimau bersarang juga memiliki tingkat keteraturan amat ristmis. Hutan perawan tidak tercipta begitu saja. Ia berkembang melalui tahap-tahap suksesi. Dari lumut berganti rerumputan, lalu semak, kemudian pohon-pohon tinggi hadir dan menjadi tegakan yang dominan. Tumbuhan rambat dan semak, yang telah terseleksi dari jenis yang tak memerlukan cahaya matahari langsung, ada di bagian bawah. Mahkota rimbanya terdiri dari tajuk pepohonan tinggi, yang memiliki bakat untuk tumbuh menjulang disangga batang pohon yang lurus dan kokoh.

Pepohonan, jamur, dan semak terus tumbuh dan berganti. Tapi, dalam rimba hutan perawan di daerah hujan tropis seperti di Indonesia, aturan main tetap terjaga. Dari waktu ke waktu formasi tak berubah. Bisa jadi selama ratusan atau ribuan tahun. Sesekali terjadi kebakaran bila muncul fenomena ekstrem. Maka, hutan pun menjadi penyangga ekosistem, termasuk di dalamnya tata air yang menentukan hidup-matinya danau dan sungai-sungai.

Sejarah ekologi hutan tropis basah kita menunjukkan bahwa kebakaran hutan adalah hal yang sangat jarang terjadi. Studi Goldammer dan Siebert (1999) terhadap radiocarbon dates atas sisa batu bara yang terbakar (akibat gejala alamiah) di Kalimantan Timur menunjukkan, rentang waktu antara dua kebakaran itu bisa lebih dari 2.000 tahun.

Kini hampir tiap tahun kita mendengar musibah kebakaran. Agaknya, jelas ini akibat ulah manusia --lepas dari siapa pun dia, peladang berpindah, pengusaha perkebunan, atau pelaku illegal logging yang ingin menghilangkan jejak. Dua kelompok terakhir ini yang bisa menimbulkan dampak dalam skala luas. Mereka tidak menghargai lagi kebajikan yang terkandung dalam hukum rimba.

Bagi mereka, mungkin hutan hanya dianggap sebagai tempat bersarang hewan buas, predator. Atau barangkali mereka juga tidak pernah kenyang menyantap kayu-kayu hutan. Mereka pun tak peduli hutan hancur dan berubah jadi padang ilalang. Padahal, ilalang itu simbol kebangkrutan hutan.

Barangkali, yang tega melakukan perusakan itu mamalia jenis baru, yang tergolong predator dari segala predator.

Putut Trihusodo
[Lensa, Gatra Nomor 42 Beredar Kamis, 31 Agustus 2006]

[+/-] Baca Selengkapnya...

Tonil di Layar Perak

Minggu, 06 Agustus 2006

Putut Trihusodo

Night Shyamalan telah meninggalkan hantu yang membesarkannya. Ia seperti asyik dengan dirinya. Kualitas film sebagai tontonan massal merosot.

LADY IN THE WATER
Sutradara: M. Night Shyamalan
Skenario: M. Night Shyamalan
Pemain: Paul Giamatti, Bryce Dallas Howard, Jeffrey Wright, Bob Balaban, Sarita Choudhury, Cindy Cheung, M. Night Shyamalan

Produksi: Warner Bros Pictures (2006)
Durasi: 110 menit

Kolam renang berkecipak riuh pada sebuah malam, dan sesosok perempuan muncul di permukaan air. Hanya sekejap lalu menghilang. Peristiwa itu dipergoki Cleveland Heep, pengawas di Apartemen Cove, tempat kejadian perkara. Heep, yang dimainkan secara menawan oleh aktor Paul Giamatti, pun nyebur ke swimming pool mengubernya.

Tapi sosok yang dicari seperti lenyap ditelan bumi. Heep terus menyelam sampai kepayahan, lalu cut... adegan pindah ke ruang apartemen Heep yang sumpek. Sang pengawas terbangun di tempat tidurnya dan kaget. Perempuan muda yang dicarinya sudah ada di sofanya. Perkenalan unik pun terjadi. ''Nama saya Story,'' kata gadis misterius itu. Dari sana, cerita Lady in the Water, film terbaru garapan sutradara berbakat M. Night Shyamalan, 36 tahun, bergulir.

Story mengaku dirinya peri. Meski tidak percaya, Heep tetap berlaku ramah. Ia mendesak Story pergi, bahkan menggendongnya keluar. Namun, sampai di halaman, ia melihat sosok seram. Ada hewan buas, mirip serigala, siap menyerang. Heep pun mundur sambil menggendong Story ke apartemennya. Peri itu dimainkan oleh Bryce Dallas Howard, artis yang menjadi pemeran utama dalam film Shyamalan sebelumnya, Village (2004).

Heep menceritakan keanehan itu ke para penyewa Cova, termasuk Vick, pemeran pembantu yang dimainkan Shyamalan sendiri. Seorang penghuni akhirnya bercerita bahwa kisah peri misterius itu pernah didengar dari penuturan ibunya. Sang peri itu terancam dibunuh oleh serigala jahat yang bersembunyi dalam kegelapan. Gara-gara ancaman maut itu, sang peri harus sembunyi dalam gua air bawah lantai kolam renang. Persoalannya, Story tidak punya waktu panjang lagi. Ia harus kembali ke langit, dijemput seekor garuda.

Kembalinya Story ke langit akan membawa kebaikan bagi dunia. Tapi, bagaimana ia bisa diselamatkan dari ancaman si iblis. Di situ para penghuni Cova bekerja sama dengan tulus untuk mengawalnya.

Meski film ini masuk genre mistery thriller, penonton jangan berharap memperoleh suguhan sensasi ketegangan. Shyamalan meninggalkan sosok hantu yang pernah membesarkannya lewat film Sixth Sense (1999). Ia juga tidak mau mengajak penonton pusing serius menelusuri misteri science fiction-nya seperti dalam film Signs (2002). Jejak suasana misteri yang magis dalam Village juga tak terlihat dalam Lady in the Water.

Shyamalan meraih sukses pertamanya melalui Sixth Sense dengan memboyong bintang tenar Bruce Willis, yang kemudian ia ajak lagi dalam Unbreakable (2000). Ketika menyutradarai film horor ini, ia masih 28 tahun. Hasilnya, Sixth Sense meraih enam nominasi Oscar, antara lain untuk penyutradaraan, orisinalitas cerita, serta gambar. Secara bisnis untung besar karena mendatangkan pemasukan hampir US$ 300 juta. Dalam Sixth Sense, Shyamalan secara berani menjungkirbalikkan garis batas antara dunia nyata dan dunia roh.

Rupanya, ia tak benar-benar tertarik pada dunia roh. Dalam dua film berikutnya, ia mengombinasikan fiksi ilmiah dan kepercayaan supernatural. Cukup cespleng. Ia membangun suspens tanpa harus mengeksploitasi darah dan kekerasan. Kekuatannya bertumpu pada kejutan-kejutan kecil di sepanjang film. Secara bisnis, keduanya juga bagus. Lantas ia kembali masuk nominee Oscar untuk musik pada Village.

Dalam Lady in the Water, Shyamalan bereksperimen lagi dengan mengangkat cerita yang ia biasa bawakan sebagai pengantar tidur putranya. Ia menggarap film ini tanpa pretensi membuatnya menjadi seram. Ia sedang seperti menyutradarai teater atau tonil. Blocking pemain diperhatikannya betul untuk menghasilkan komposisi gambar yang matang. Di sana-sini muncul adegan teatrikal. Kadang jenaka. Bahkan serigala iblisnya pun dibikinnya hampir lucu. Orisinalitasnya terjaga.

Namun eksperimennya itu membuat film terbarunya ini kurang asyik sebagai tontonan. Hasil pemutaran di minggu pertamanya pas-pasan saja. Shyamalan tampak terlalu asyik dengan dirinya. Jangan-jangan, pria kelahiran India yang tumbuh di Pennsylvania itu sedang bereksperimen menjadi aktor, peran yang justru bukan sisi kekuatannya.

Gatra, 21 Agustus 2006



[+/-] Baca Selengkapnya...